The Intention Behind Being Woke.
Belakangan ini sudah semakin banyak orang yang sadar akan isu-isu sosial dan itu berarti mereka masuk dalam golongan woke. Namun, banyak dari mereka yang bertingkah seakan-akan menjadi woke sama dengan menyuarakan pendapat dengan cara yang keras atau penuh amarah tanpa peduli siapa lawan bicara dan audiens mereka. Hal ini menimbulkan pertanyaan bagi saya, kenapa sih harus seperti itu?
Secara singkat, woke culture merupakan gerakan sosial yang menekankan tentang inklusivitas, kesetaraan, dan mengangkat ketidakadilan yang terjadi di tengah masyarakat, untuk dibenahi. Kata “woke” sendiri diambil dari kata “awake”, dalam konteks sadar akan isu-isu yang terjadi di sekitar kita.
Saya setuju bahwa untuk maju masyarakat perlu kritis. Tapi, pada kenyataannya saya melihat isu-isu yang diangkat dalam kategori ini merupakan hal progresif yang masih asing bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Maka dari itu, untuk memperkenalkannya diperlukan kesabaran dan penuturan yang mudah diterima.
Banyak faktor yang menjadi akar dari gerakan ini. Keberadaan media online yang dapat diakses penduduk dunia mempercepat penyebaran informasi, ide, pemikiran, dan sebagainya. Hal ini menyebabkan masyarakat lebih mudah berbagi dan menciptakan budaya yang lebih vokal dalam menyuarakan apa yang mereka pikirkan atau rasakan. Keberagaman atau multikulturalisme juga menciptakan tingkat kesadaran yang baru di tengah masyarakat dunia, bahwa menjadi inklusif itu penting.

Selain itu, konteks historis dan faktor peralihan generasi juga berperan dominan dalam memupuk pemikiran kritis. Banyak orang yang mengharapkan adanya perubahan progresif dalam hal sosial yang dijumpai sehari-hari, misalnya dalam isu seperti feminisme, LGBTQ+, dan juga hak masyarakat sipil. Hal yang tidak kalah penting adalah faktor ekonomi. Ketidaksetaraan yang dialami masyarakat terhadap unsur sistemik dan struktural menciptakan rasa ketidakadilan.
Dari berbagai alasan tersebut tentu saja dapat dimengerti mengapa ini merupakan hal yang sensitif. Masyarakat jadi lebih kritis terhadap budaya yang telah tercipta, sehingga ingin mematahkan norma-norma yang sudah tidak lagi relevan pada hari ini. Namun, alih-alih mengedukasi, konotasi woke culture jadi seolah penuh dengan sikap atau argumentasi yang getir. Bukannya berdiri atas nama keadilan dan kesetaraan, banyak yang senang menghakimi orang atau sekelompok lain yang dianggap tidak atau belum sadar. Bahkan di satu titik terciptalah cancel culture.
Saya berpikir, ketika seorang guru atau orangtua ingin mengajarkan sesuatu yang penting ke seorang anak, mereka akan menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dengan cara yang lembut dan tidak memaksakan. Mereka juga akan sabar sampai sang anak sepenuhnya mengerti maksud yang disampaikan. Jika mereka menyampaikannya dengan amarah atau kasar, mungkin justru akan berdampak negatif hingga memunculkan trauma. In other words, it isn’t effective.
Lalu sebenarnya apa motivasi mereka di balik cara penyampaian pemikiran kritisnya? Apakah tujuannya benar-benar untuk membuat perubahan atau semata-mata terlena dengan atensi yang diberikan oleh lingkaran kecilnya saja?