What is luxury?
Can anyone afford it?
Beberapa tahun yang lalu, saya sempat menulis sebuah artikel dan beropini, “the most luxurious thing in this world for me is privacy”. Di dalam artikel kali ini, pemahaman saya akan arti luxury pun sudah lebih kompleks dan berkembang.
Welcome to the freshest new article from The Editors Club.
Privasi secara konsisten tetap jadi bagian besar dalam pemahamannya, namun kini, saya akan menjawab: menemukan kebebasan serta punya banyak pilihan di dalam hidup, itulah arti kemewahan yang sesungguhnya. It’s about the freedom and choices.
Yang jadi menarik, untuk menjadi orang yang punya kebebasan, ia harus melalui jalan yang panjang dan penuh perjuangan. Misalnya seorang karyawan, untuk bisa bebas memilih mau kerja dari rumah atau datang ke kantor, sebelumnya ia harus membuktikan dulu ke atasannya bahwa ia adalah karyawan yang bertanggung jawab; mampu menyelesaikan tugas dengan baik meskipun tak hadir secara fisik setiap hari dari pagi hingga sore di kantor.
Contoh lainnya, untuk jadi orang yang bisa bebas menentukan untuk di rumah saja, staying in almost every time and say no to most invitations, sebaiknya ia sudah harus punya banyak kenalan dan pernah pergi ke berbagai destinasi dalam kota maupun di luar negeri terlebih dahulu. Because in fact, network and experiences are so valuable and very important.
Memiliki kebebasan untuk memilih jalan hidupnya sendiri, seperti memilih pendamping hidup, pekerjaan, teman, dan cara bersenang-senang tanpa terbebani apa kata orang, ini juga harus melalui proses – dan banyak keberanian – sehingga dapat membuktikan bahwa pilihan yang kita ambil adalah pilihan terbaik versi kita.

Lalu tentang pilihan. Luxury adalah ketika kita bisa punya banyak pilihan, as opposed to “gak punya pilihan”. Se-simple makan telur, misalnya. Adalah sebuah luxury bila kita mampu untuk mengakses berbagai pilihan menu telur: apakah mau telur dadar dari warteg Kharisma, poach-egg dari 1/15 Coffee, atau makan telur ikan (caviar) di Paris. Misalnya juga seperti Elon Musk atau Bernard Arnault yang memilih tetap aktif bekerja dan datang ke kantor ketika mereka sebenarnya punya kemampuan memilih untuk tidak bekerja lagi.
Saya selalu bilang, we have to first reach a certain point to have the freedom to choose what we desire. Jadi ada proses yang harus dilalui. Tak bisa sekonyong-konyong kita menentukan “ini mau gue” sebelum mengikuti “apa mau orang”. Seperti, anak sekolah tentu harus mengikuti jam masuk sekolah, jam 7 pagi, misalnya. Dengan proses ini, seorang murid akan terbekali dengan banyak kompetensi yang dapat membukakan jalan baginya untuk bisa punya banyak pilihan, in this case, more options for college or universities.
In a nutshell, ada sebuah proses yang tidak mudah untuk bisa mendapatkan sebuah kemewahan dalam hidup. Termasuk arti luxury secara luas seperti yang saya tulisakan di sini: Kebebasan dan Pilihan. Oleh karenanya, sebuah kemewahan dalam hidup terasa begitu mahal dan exclusive, karena banyak orang gagal dan berhenti di dalam proses perjalanannya.
Namun, bagi yang telah mampu mengarungi proses tersebut hingga sampai pada titik di mana mereka punya kebebasan dan punya banyak pilihan, jangan pernah lupa, di situlah tanggung-jawab besar menyertai.