Serpenti in Conversation: Sebuah Percakapan bersama Géraldine Guyot

A conversation on collaboration, Bvlgari’s legacy, and being a woman.

 

Setiap fashion month, selama perjalanan fashion week saya, Place Vendôme selalu menjadi pusat dari segala puncak kemewahan. Sebuah lokasi ikonis di 1st arrondissement, dikelilingi butik perhiasan dan hotel paling prestisius di dunia. Tahun ini, di bawah rintik hujan yang turun perlahan, saya mengunjungi butik Bvlgari. Di sana, saya bertemu dengan Géraldine Guyot, founder dan creative director Destree (dan istri Alexandre Arnault, putra Bernard Arnault), serta Mary Katrantzou, Creative Director of Leather Goods & Accessories di Bvlgari.

Bisa dibayangkan, vibes yang terbangun di dalam bangunannya yang megah, dipenuhi koleksi Bvlgari nan anggun, dan dilengkapi kehadiran para fashion people yang sedang berada di Paris untuk fashion week. Sambil memegang gelas champagne dan sesekali mengambil canapés yang ditawarkan, saya pun sempat berbincang dengan beberapa rekan editor dari berbagai majalah global sebelum memasuki ruangan tertutup untuk melangsungkan wawancara eksklusif dengan Géraldine Guyot. Wawancara ini berkaitan dengan “Serpenti in Conversation”, sebuah proyek baru Bvlgari untuk mengeksplorasi esensi Serpenti bersama dengan figur-figur kreatif. Géraldine menjadi kolaborator pertama.

Tak lama menunggu, Géraldine pun masuk. Saya berdiri dan menyapanya, “It is an honour to meet you, and you look so beautiful.” Setelah diingatkan bahwa sesi interview tidak boleh direkam, saya memulai pertanyaan pertama.

I’m going to start with the first question. Ketika Anda merancang Serpentine, perempuan seperti apakah yang ada di benak Anda?
Ketika saya merancang, baik untuk proyek ini maupun label saya sendiri, saya tidak pernah membayangkan satu perempuan spesifik. I do think I picture my products on strong, independent women who work on our day-to-day; tentang bagaimana sebuah tas masuk ke dalam kehidupan mereka. Perempuan memiliki hubungan emosional dan personal dengan tas mereka. That’s the case for me. Whatever outfit I wear, my bag always brings a touch of confidence. I think, being a woman designing for women, just like Mary, we connected on that level and we can tap into that intuitively.

Kolaborasi ini bernama Serpenti in Conversation. Saya ingin tahu pembicaraan seperti apa yang Anda dan Mary miliki. Apakah seputar estetika, simbolisme, atau hal personal antar sesama perempuan?
Mary dan saya bertemu pertama kali ketika memulai kolaborasi ini, dan semuanya terasa natural. Sometimes when you meet someone new, you don’t know what you can say. With Mary, it was the opposite. Kami berbincang, saling mengerti, dan selalu sejalan. Legasi Bvlgari dan visi Mary menjadi fondasi proyek ini. Selain itu, karena kami berdua memiliki brand sendiri, pendekatan bisnis kami juga serupa. Walaupun saya ingin fokus 100% pada produk, harus ada keseimbangan dengan bisnis, pemasaran, dan hal lain di sekelilingnya.

Mary and you, kalian berdua memiliki banyak kesamaan latar belakang, termasuk sama-sama bersekolah di Central Saint Martins. Bagaimana hal tersebut mempengaruhi proses desain Serpentine?
Saya merasa kami memiliki pendekatan yang mirip, mungkin karena kami berdua adalah desainer dengan brand kami sendiri. Mary memiliki brand yang telah saya kagumi sejak lama (Mary Katrantzou-red). Pengalaman kami masing-masing membangun label membuat kami berpikir dengan cara yang serupa. Selama proses meeting, ada banyak momen ketika kami saling menatap dan langsung mengerti satu sama lain. Semua terasa sangat organik dan natural. Working with Mary and the Bvlgari team felt like everything had always been meant to come together.

Apa karakter umum dari Destree dan Serpentine yang kalian eksplorasi dalam kolaborasi ini?
Saat proses dimulai, saya menyiapkan banyak sketsa untuk ditunjukkan kepada tim Bvlgari. Saya pergi ke Florence bersama asisten saya, dan mereka langsung berhenti pada sketsa ini, yang juga menjadi favorit saya. Sketsa tersebut membawa elemen DNA Destree melalui passementerie, savoir-faire Prancis yang dulu sering digunakan oleh Saint Laurent dan Christian Dior. Kini sudah jarang digunakan, jadi saya ingin membawanya kembali sebagai sesuatu yang modern.

Destree’s bestseller bag uses passementerie, and it has become our signature. Jadi kami menggabungkan DNA Destree dengan tas Bvlgari yang ikonis, memperkenalkan bentuk serpent baru yang modern dan sedikit lebih extravagant. “Bold” merupakan karakter Bvlgari, dan saya rasa kreasi ini mencerminkan boldness tersebut. Serpent pada tas ini tidak memiliki mata atau mulut. It’s more abstract.

As a brand, Bvlgari brings the old into the new. Bagaimana masa lalu Anda membentuk diri Anda sekarang sebagai perancang, kreatif, dan perempuan?
I grew up with Bvlgari. Ibu dan nenek saya memiliki banyak kreasi Bvlgari. There’s a family history with the brand. Ketika saya melihat arsip Bvlgari, I was almost overwhelmed. Warna-warnanya begitu berani, fearless, dan audacious. Ada banyak kreasi yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Sebagai anak kecil, saya sering bermain dengan cincin Bvlgari milik ibu saya, jadi kolaborasi ini terasa seperti full circle moment. It was truly an honour to work with Bvlgari and with Mary.

Di Indonesia, saya merasakan working culture tim Bvlgari yang sangat hangat dan kekeluargaan, dengan bonding yang kuat bersama para kolaborator. Menurut Anda, apakah hal tersebut turut mempengaruhi proses kreatif?
Absolutely! Saya merasa itu sangat penting karena budaya seperti itu yang menyatukan semua pihak dalam kolaborasi. When a collaboration happens, different minds and cultures come together and blend to create magic. Ketika Anda mengumpulkan berbagai talenta kreatif dalam satu ruang, mereka menjadi seperti keluarga. That’s when the magic is created.

Anda sempat bercerita tentang masa kecil sambil mengagumi koleksi Bvlgari milik ibu Anda. Jika Anda mendapat kesempatan merancang perhiasan Bvlgari, seperti apakah wujudnya?
Ooh… that was a very interesting question! Bvlgari bukan sekadar brand, tetapi sejarah. If I were designing jewellery, I would spend the first weeks diving into the archives, letting everything settle in my mind.

Pertanyaan terakhir. Tiga kata untuk mendeskripsikan kolaborasi ini.
Modern, history, and synergy. Ada banyak kolaborasi di berbagai belahan dunia, dan saya percaya semuanya bermula dari pikiran-pikiran berbeda yang bertemu dan berkarya bersama. That’s when the magic happens. It was an honour to do this with Mary and the Bvlgari team.

Saya merasakan kehangatan yang nyata di dalam ruangan tersebut, mungkin juga akibat dari api semangat dari perempuan-perempuan inspiratif seperti Géraldine. Langit di luar pun tiba-tiba berubah cerah. Yang tadinya hujan, sekarang terang. Saat saya berdiri untuk pamit pulang, tiba-tiba… Mary masuk! Dan aturan no photo yang tadi disampaikan seketika gugur. Beatrice from Bvlgari took a picture of me, Mary, and Géraldine.

It was one of those moments worth keeping. This has been great: empowered women empower. One for the books!