Honouring its origin, embracing its special iteration.
Congratulations to one of the world’s most iconic luxury identities, the Louis Vuitton Monogram, for reaching 130 years of cultural existence. The LV Monogram is a clear example of how a brand identity can evolve into a cultural entity that extends far beyond its intended market. It has become a global collective awareness, continuously reproduced and reinterpreted, both in its originality and across the multitude of socio-cultural adaptations, including the vast pirated economy. There is simply no one unfamiliar with the logo; from the crème de la crème to the lowest layer of retail market, it stands as an object of fondness, desire, obsession, and validation.
The Journey
Cukup jenaka untuk melihat fakta bahwa grafis yang kini diimitasi jutaan kopi oleh bisnis counterfeiting sejatinya tercipta oleh niat untuk membedakan diri agar pelanggan tak terjerat dengan tipuan LV palsu yang beredar di pasaran kala itu. Rilis pers yang kami terima menyebut, “At a time when the success of Louis Vuitton’s trunks had sparked a wave of imitations, Georges sought a solution that would both protect the integrity of his creations and express the House’s unique identity. His graphic arrangement of interlaced LV initials and stylised floral medallions formed an ornamental pattern so distinctive it soon became its own safeguard.”
Akan tetapi, Monogram LV tak semata perkara bisnis. Kisah sentimental kekeluargaan turut terjalin di dalamnya. Di tahun 1892, Georges harus merelakan kepergian sang ayah, Louis, untuk selamanya. Empat tahun berselang di 1896, Monogram LV tercipta sebagai bentuk tribute bagi ayahnya yang merupakan pendiri brand. Grafis tersebut merupakan bentuk penghormatan personal dan emosional, sekaligus penghargaan atas spirit inovatif dari seorang Louis Vuitton; sosok inovatif yang memperkenalkan trunk bertutup datar berbahan canvas Gris Trianon tahan air sehingga mudah untuk ditumpuk dan memberi proteksi lebih kepada barang bawaan ketika bepergian.
Desain Monogram LV lahir dalam latar belakang Paris yang tengah mendapat pengaruh Neo-Gothic, Japonism, dan Gerakan Art Nouveau yang mulai muncul. Elemennya mencakup interlace inisial ‘L’ dan ‘V’, diamond yang di dalamnya terdapat bunga berkelopak empat – bunga tersebut hadir pula di luar diamond dengan warna terang – serta lingkaran yang berisi bunga dengan empat kelopak membulat. Semua tersusun secara geometris namun tetap memiliki flamboyant sparks berkat dinamika rupa dari elemen-elemen grafis yang mengkomposisinya.
Pada mulanya, Monogram LV terbuat dari jalinan linen jacquard dengan warna terre de Sienne nuansa ecru yellow-brown yang diaplikasikan pada trunks. Metode ini berganti di tahun 1902 dengan adopsi teknik stensil Pochoir, yakni pigmen berlapis yang diaplikasikan dengan tangan. Pochoir memungkinkan pola Monogram yang lebih presisi dan warna lebih dalam pada bahan canvas Pegamoid – kombinasi base katun dan resin finish yang protektif. Material cokelat bertekstur tactile tersebut lebih tahan terhadap kelembapan dan ringan namun tetap terasa supple. Kala itu, Monogram canvas kemudian juga dibuat dalam 3 versi warna lain, yakni merah, hijau, dan biru.
Di tahun 1959, material canvas baru digunakan. Semakin supple, semakin ringan, dan semakin tahan air, inovasi bahan tersebut membuka jalan bagi Monogram LV untuk dipalikasikan tak hanya pada trunks, tapi juga bags. Dikomposisi oleh katun sebagai base dan berlapis vinyl coating berdaya proteksi tinggi, canvas baru yang dipakai semakin mengukuhkan citra brand sebagai produsen produk travel luggage berkualitas. Sepanjang perjalanannya, Monogram LV telah tampil pada tas-tas ikonis seperti Speedy (1930), Keepall (1930), Noé (1932), Alma (1992), dan Neverfull (2007). Evolusi Monogram kemudian muncul pada tahun 2017 dalam varian Eclipse yang berpalet deep graphite dan black.
Satu hal yang juga tak boleh luput dibahas ialah tentang bagaimana Monogram LV diinterpretasi oleh sosok-sosok ternama dunia kreatif. Vivienne Westwood, Azzedine Alaïa, dan Manolo Blahnik berkreasi dengan Monogram LV untuk perayaan centennial di tahun 1996. Proyek “The Icon and The Iconoclasts: Celebrating Monogram” pada tahun 2014 melibatkan Frank Gehry, Rei Kawakubo, Karl Lagerfeld, Christian Louboutin, Marc Newson, dan Cindy Sherman. Selanjutnya Jef Koons pada tahun 2017 mentransformasi Monogram LV menjadi koleksi Masters yang menggabungkan motif ikonis tersebut dengan lukisan-lukisan seniman legendaris, dari “Monalisa” karya Leonardo da Vinci, “Mars, Venus and Cupid” karya Titian, “The Tiger Hunt” karya Peter Paul Rubens, “Girl with Dog” karya Fragonard, “Wheat Field with Cypresses” karya Van Gogh dan “Water Lilies” karya Claude Monet.
Polka dots Yayoi Kusama menghias Monogram LV pada tahun 2023 dan 2012. Sedangkan yang paling fun juga hyped adalah kolaborasi dengan Takashi Murakami di 2003 atas inisiatif Creative Director Marc Jacobs dan dimunculkan kembali pada tahun 2025 – our favourite for sure alongside the classic Petite Malle.
The Celebration
Merayakan 130 tahun Monogram LV, rumah mode yang kini dibawah arahan Nicolas Ghesquière dan Pharrell Williams tersebut merilis koleksi kapsul spesial yang terdiri dari The Monogram Origine, VVN, dan Time Trunk Collections.
Rangakaian Monogram Origine membawa vintage soul dari dunia travelling masa lampau. Terinspirasi cover dari number register para klien di tahun 1908 – di mana tiap key number merujuk pada pemiliknya – koleksi Monogram Origine ini terbuat dari campuran linen-cotton dalam warna historis Ebéne yang diperkaya 4 nuansa pastel. Keempat pastel hues tersebut adalah Lin (cream), Vert Asniéres (green), Rose Ruban (pink), Bleu Courrier (blue).
Tiap tas di koleksi ini disertai dengan nametag eksklusif yang berfungsi juga sebagai cardholder. Name tag itu berhias hot-stamped artwork dari handwritten signature Monsieur Louis Vuitton, yang diambil dari registered patent atas Flat trunk di tahun 1867. Tercakup dalam Monogram Origine adalah tas Speedy, Noé, Alma, dan Neverfull. Sementara untuk trunk yang tersedia pada Monogram Origine adalah Family Trunk yang terdiri atas Alma BB Trunk, Speedy 20 Trunk, Noé Trunk, dan Side Trunk MM. Trunks tersebut hadir dalam shade Ebéne dengan refined metallic hardware.
Monogram LV pun diterjemahkan pada wewangian Imagination dalam warna Lin, Attrape-Réves dalam warna Rose Ruban, juga eLVes dalam warna Bleu Courrier. Melengkapi produk wewangian ini ialah travel cases dalam Rose Ruban dan Bleu Courrier. Selanjutnya rangkaian VVN – singkatan dari Vache Végétale Naturelle – menjadi tribute atas natural leather yang merupakan salah satu material khas Louis Vuitton sejak 1880. Produk-produk VVN menggunakan vegetable-tanned cowhide unprocessed leather. Tas-tas ikonis di rangkaian ini hadir dengan detachable Monogram name tag dan monogrammed jacquard inner lining. Seiring berjalannya waktu, tas-tas tersebut akan memunculkan efek patina yang menawan.
Time Trunk – yang tercetus pada womenswear show Autumn/Winter 2018 dan ditafsir ulang pada musim Autumn/Winter 2024 untuk selebrasi satu dekade Nicolas Ghesquière sebagai Creative Director – kini dihadirkan dalam wujud-wujud baru. Sebagai nama koleksinya, tas-tas di rangkaian ini menerjemahkan elemen-lemen hard-sided trunk LV nan ikonis. Speedy 30 Soft, Noé, and Alma GM, pada koleksi khusus ini dilengkapi trompe-l’oeil print ultra-realistis sehingga tampak seperti terbuat dari bahan trunk lawas sesungguhnya. Untuk menghasilkan efek presisi tersebut, sejumlah historic trunks difoto dari setiap sudut, dan kemudian direproduksi pada canvas melalui high-definition printing. Pada tas-tas tersebut dapat terlihat gambar metal corners, rivets, dan leather marquetry yang nampak real.
Masing-masing model di rangkaian Time Trunk disertai dengan leather luggage tag ekslusif terinskripsi nama brand dan tanggal masa kini. Inisial dari model tas (A for Alma, N for Noé, S for Speedy) hadir secara tersembunyi di antara print. Among all the 130th anniversary collections of LV Monogram, this Time Trunk range is absolutely our pick.