Selebrasi 100 Tahun Gedung Bunga Rampai

In honour of the Restaurant’s 18th Anniversary.

 

Pada tahun 1925, tepat dua dekade sebelum Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya, berdiri sebuah bangunan di kawasan Menteng, Jakarta. Dihuni oleh keluarga sederhana, gedung ini mengusung gaya arsitektur Indische yang populer kala itu, ditandai dengan jendela-jendela besar, pintu kayu kokoh, dan ornamen dekoratif khas. Kepemilikan gedung ini berpindah dari masa ke masa, namun wujudnya tetap bertahan hingga satu abad kemudian. Kini, bangunan bersejarah tersebut merupakan rumah bagi restoran ikonis Bunga Rampai, yang berlokasi di Jalan Teuku Cik Ditiro, Jakarta Pusat.

Pada tahun 2025, Gedung Bunga Rampai genap berusia 100 tahun. Bersamaan dengan perayaan satu abad tersebut, restoran Bunga Rampai juga memperingati ulang tahunnya yang ke-18 sejak pertama kali berdiri pada tahun 2007. Selebrasi ini menjadi penghormatan atas kekayaan kuliner Nusantara yang dipadukan dengan pengaruh cita rasa era kolonial, dalam semangat lintas zaman.

The Editors Club turut hadir dalam perayaan tersebut, mencicipi sajian istimewa yang dikurasi berdasarkan kurun waktu seperempat abad. Menu pembuka menampilkan Erwtensoep, sup kacang polong khas Belanda nan creamy dan hangat, lengkap dengan daun bawang, daging, dan wortel yang mewakili era 1925–1950. Hidangan utama yaitu Sekubal, kue beras ketan khas Lampung berbalut daun pisang yang gurih, disajikan bersama rendang kaya rempah.

Era 1950–1975 diwakili oleh perpaduan Lumpia Semarang berisi rebung dan nasi kuning, sementara periode 1975–2000 disajikan dalam bentuk sup krim jamur dan nasi goreng kambing beraroma rempah khas Timur Tengah. Untuk kurun 2000–2025, hadir Papeda dengan kuah ikan kakap gurih, ditemani tumis bunga pepaya dan asinan Betawi sebagai pembuka renyah. Tak kalah menarik, ragam pencuci mulut khas lintas era turut hadir: Selendang Mayang, Es Kepal Sirup, Kue Pancong Kelapa, Es Air Mata Pengantin, hingga minuman nostalgia Sarsaparilla dalam botol kaca legendaris.

Merayakan tonggak sejarah ini, Engelbertus Emil Riyanto menghadirkan peragaan busana kolektif dari koleksi Batik 3E besutannya. Berbagai tokoh lintas profesi memeragakan koleksi tersebut. Mulai dari presenter Dave Hendrik dan Ferdy Hasan, hingga para desainer kenamaan seperti Andreas Odang, Denny Wirawan, Didiet Maulana, dan Hian Tjen. Model legendaris Okky Asokawati pun turut memeriahkan panggung. Malam selebrasi tampil meriah dengan penampilan Titi DJ yang tampil anggun dalam balutan Batik 3E hasil kolaborasi Emil Riyanto dan Denny Wirawan.