Too much positivity might create negativity.
Teks: Deece Dewayani
Semua orang pasti ingin hidupnya penuh positivity. Sebisa mungkin semua hal dilihat dari sisi positifnya, dengan harapan bisa menambah semangat dan tidak mudah menyerah dalam menjalani kehidupan. Ada banyak kata motivasi bertebaran di sekeliling kita yang biasanya dijadikan pedoman untuk menyikapi hidup dengan positive thinking. Tentunya itu ditujukan untuk membangun positive life. Nevertheless, have you ever wondered if that “positive vibes only” principle can potentially be harmful?
Masing-masing kita pastinya pernah mengalami hal berikut ini. Saat patah semangat atau tertimpa musibah kemudian meluapkan perasaan juga beban pikiran dengan curhat ke orang lain, bukannya hati jadi lebih enteng malah drop akibat respon yang didapat. Maksud hati ingin didengar, disemangati dan perlu dihibur, syukur-syukur malah bisa dapat solusi, tapi input yang diterima justru bikin perasaan campur aduk, bahkan membuat kita merasa tidak ada orang yang mengerti apa yang sedang kita alami.
Lebih buruk lagi tanggapan bernada “positif” dari sang tempat curhat malah jadi beban dan menjadikan kita merasa dihakimi. Ujung-ujungnya emosi dipendam, rasa tidak nyaman diabaikan, negative feeling disangkal. Akibatnya semua emosi negative ini jadi menumpuk dan terkubur dalam-dalam. Akhirnya, kita berusaha sekuat tenaga untuk mengalihkan dan menutupi rasa sedih, marah dan kecewa. Kita paksakan diri untuk “harus baik-baik saja”.
Mencoba membawa positivity dalam menanggapi sebuah masalah memang bisa berguna. Tapi di sisi lain, upaya “paksa” untuk selalu menghadirkan positivity akan membatasi kita untuk merasakan emosi lain yang juga tak kalah penting untuk diekspresikan. Bahasa populernya adalah toxic positivity, yakni ketika kita menuntut diri sendiri maupun orang lain untuk berperspektif dan bersikap positif tanpa mencoba mengerti dan memahami dan “mengakomodasi” apa yang sesungguhnya sedang dialami dan dirasakan.
Fenomena ini sebetulnya sudah ada sejak lama, tapi kembali mencuat terutama sejak masa awal pandemi ketika banyak orang yang semakin aware akan efek buruknya terhadap kesehatan mental. Toxic positivity ini umumnya muncul melalui ucapan yang kelihatannya sepele, tapi efeknya bisa jadi besar dan kompleks bagi sebagian orang. Komentar bersifat simpati seperti “You should just be grateful of your life” atau “Always look at the bright side” kerap dianggap normal dalam keseharian – dan sering kita temui atau lontaskan sehari-hari – tanpa terpikir efek negatifnya.
Toxic positivity memang tricky. Tidak semudah itu bisa bersimpati dan mengungkapkan perasaan tanpa mengubah niat baik menjadi toxic. Pada kenyataannya dalam kehidupan sehari-hari, toxic positivity seringkali sulit dihindari meskipun kesadaran akan isu ini sudah semakin meluas dan teori-teori mengenai cara menghindarinya sudah mudah diakses. Dalam sebuah paper karya Ishan Sanjeev Upadhyay, KV Aditya Srivatsa, dan Radhika Mamidi berjudul “Towards Toxic Positivity Detection” (2022) disebut bahwa selama beberapa tahun terakhir, terdapat kekhawatiran yang berkembang seputar toxic positivity di media sosial hingga 88% sejak tahun 2020 – dimana hal itu digunakan untuk meminimalkan pengalaman emosional seseorang.
Lalu sampai mana batasnya berpikir positive tidak jadi toxic? This is a complicated question that requires different analysis for each given case. Yang paling utama untuk disadari penuh adalah bagaimana supaya kita fully aware terhadap emosi internal kita dan juga emosi yang kita proyeksikan untuk orang lain. Terkhusus untuk relasi dengan orang lain, ingatlah bahwa sesungguhnya tidak semua orang butuh disemangati saat curhat. Banyak yang hanya butuh untuk didengar, dipahami atau didampingi.