Roger Dubuis Bawa Para Kesatria Bertualang ke Danau

A tale about a frozen lake.

 

Petualangan Roger Dubuis di dunia horologi mewujud pada evolusi terbaru jam tangan Knights of the Round Table. Menurut legenda Raja Arthur yang menginspirasi kreasi ini, Round Table adalah simbol equality di mana setiap bangkunya memiliki peranan setara. Filosofi yang sama dibawa oleh Roger Dubuis dengan partisipasi sepadan dari desainer, pembuat jam, serta artisan yang masing-masing berkontribusi dalam menuliskan cerita dalam jam tangan ini.

Ada sebuah legenda yang dikisahkan melalui jam tangan ini. Dalam quest mereka mencari Cawan Suci, dua belas kesatria berada di hadapan danau beku yang direpresentasikan sebagai dial sang jam tangan. Ketika mereka bergerak di atasnya, es tersebut retak, membuka sebuah ancaman baru bagi mereka. 

Masing-masing dari keduabelas kesatria tersebut memiliki pose yang dinamis dan kepribadian yang unik. Mereka dikreasikan dengan cermat dan teliti, mulai dari ilustrasi, pembuatan mock-up dari resin, 3D scan, hingga proses pencetakan dalam pink gold 18K. Kemudian, para artisan mengukir masing-masing figur dengan cara manual. Untuk setiap kesatria, dibutuhkan waktu satu hingga tiga hari penyelesaian yang mencakup tiap detail sehingga membuatnya tampil hidup.

Sementara itu, “danau beku” dari jam tangan ini merupakan transparent ice-blue glass yang dibuat dengan metode Murano. Untuk mendapatkan kecerahan dan exact tone dibutuhkan 6 bulan riset mendalam. Ice-blue glass yang sama digunakan untuk main disc dari jam tangannya, serta balok-balok yang muncul dari “danau” tersebut.

Untuk mendapatkan glistening effect bak taburan salju, setiap baloknya dilapisi dengan Limoges Biscuit Porcelain. Teknik istimewa ini memberikan tampilan matte yang berkontras indah dengan permukaan kaca yang berkilau. Pembuatan Knights of the Round Table dilanjutkan dengan penyusunan balok-balok tersebut bagaikan sebuah puzzle tiga dimensi – sebuah proses yang membutuhkan waktu 1 bulan untuk diselesaikan. 

Case berukuran 45 mm dari jam tangan ini dikreasikan dengan Titanium Damascus, yakni material modern yang diolah dengan teknik kerajinan logam terinspirasi gaya kuno. One can say that it’s a perfect choice for a timepiece inspired by a medieval legend. Logam titanium Grade 2 dan Grade 5 ditumpuk bersama lalu dibakar di perapian dalam suhu ekstrem. Ketika logam masih panas, ia ditempa sehingga kedua lapisan titanium tersebut menjadi satu.  Cut, fold, heat, repeat. Pada tahap terakhir, logam dicelupkan di sebuah acid bath guna membentuk motif ombak yang mengalir ke seluruh case

Bezel dari polished titanium kemudian ditambahkan ke case tersebut untuk memberikan kontras antara matte finish dan motif unik dari case-nya. Di bawah bezel tersebut adalah sebuah “jendela” di mana Anda dapat melihat aksi para kesatria dari sudut-sudut berbeda. Kemudian, dari caseback-nya nampak skeletonised oscillating weight dalam warna biru bak jendela stained glass di gereja atau kastil.

Jam tangan Knights of the Round Table digerakkan dengan automatic calibre Monobalancier RD821, dirangkai in-house oleh sang Maison. Proses perangkaian 172 komponen melibatkan hand-finishing untuk semua bagian, sesuai dengan kriteria Poinçon de Genève, salah satu sertifikasi paling eksklusif di dunia watchmaking hari ini.

Its crown is intentionally shaped like the guard of a sword, just like the sword in the stone in the famed King Arthur legend. Strap biru tuanya hadir dengan Quick Release System yang memudahkan pemakainya untuk memodifikasi sang jam tangan sesuai dengan personal style-nya.

Hanya ada 28 pieces jam tangan edisi terbatas ini yang akan beredar di antara para kolektor.