A century of graceful elegance.
Satu abad setelah diperkenalkan, Cartier Trinity senantiasa menjadi simbol universal dari cinta dalam berbagai bentuknya. Celebrating filial, familial, friendly, marital, infinite, and indefinite bonds, the signature interlocking rings resonate more profoundly than ever. Merayakan 100 tahunnya, Cartier mengundang para tamu ke eksibisi Trinity 100 yang digelar di The Arts House, Singapura, mulai tanggal 15 hingga 23 Juli 2024.
Mencakup luas 674 meter persegi dengan tujuh ruangan tersambung di gedung historis, traveling pop-up ini menggelar sebuah perjalanan imersif dalam kisah sang perhiasan ikonis. Mulai dari kreasinya, para pemujanya dari masa lalu ke masa kini, hingga keajaiban dari simbolisme angka tiga, setiap langkah dalam eksibisi ini mengeksplorasi sejarah menawan cincin Trinity.
The number three carries a special meaning in Trinity’s lore. Masing-masing dikreasikan dari emas kuning, rose, dan putih, tiga lingkar dari cincin merepresentasikan tiga bersaudara Louis, Pierre, dan Jacques, serta tiga butik historis Cartier di Paris, London, dan New York. Tatanan harmonis dari interlinked bands cincin itu menunjukkan kesatuan yang seamless.
Simplisitas dari rancangan cincin Trinity telah menulis ulang tradisi perhiasan sejak momen kreasinya di tahun 1924. Dari tahun ke tahun, desain tersebut telah menunjukkan pesona yang tak lekang zaman dan mengekspresikan legasi Cartier dalam melampaui batas-batas kreativitas.
Pada tahun 1930-an, Jean Cocteau kerap menggunakan dua cincin Trinity di jari kelingkingnya dan gaya tersebut menjadi signature look sang seniman. Cocteau juga memperkenalkan cincin Trinity ke aktor Jean Marais seraya berucap: “The first band is you, the second is me, and the third is our love.” It shaped an apt demonstration of the Trinity’s representation of a romantic bond.
Pada anniversary satu abad ini, Cartier juga meluncurkan original collaborative project berjudul “Imagine Infinite Circles”. Mengambil inspirasi dari tradisi cabinet de curosités dari era Renaisans, proyek ini mengumpulkan 100 karya figur kreatif dari berbagai disiplin dan latar belakang. Jérôme Sans selaku kurator “Imagine Infinite Circles“ telah memilih 30 karya seni untuk ikut serta dalam eksibisi Trinity 100 di Singapura.