Tribute to his moment at Palais de Tokyo.
Sepanjang kariernya sebagai fashion designer, Hedi Slimane seringkali melangkah dengan penuh risiko. Dimulai dari arahan artistik, representasi citra model hingga variasi nuansa koleksi yang ia ciptakan ketika menjadi creative director untuk sebuah rumah mode. Retrospeksi akan hal ini ia wujudkan menjadi koleksi Celine Homme Spring/Summer 2023.
Key moment pada retrospeksi yang Slimane lakukan adalah show keduanya untuk Dior Homme, yakni koleksi Autumn/Winter 2002. Show itu adalah show pertamanya di Palais de Tokyo pada 20 tahun silam. Koleksi kali ini sekaligus merupakan tribute untuk museum yang juga menjadi arena show Celine Homme Spring/Summer 2023 tersebut. Slimane memang punya ketertarikan sendiri akan tempat bersejarah yang menjadi platform bagi para emerging talents di seluruh dunia itu, khususnya pada gaya art deco dari arsitekturnya.
Genre rock yang menggema ketika show berlangsung tampil relevan bersama nuansa rebellious yang dirilis Slimane. Kreasi leather jacket aksen studs dipadu bersama fishnet crop top, skinny leather pants dan pointy boots. Poncho bermaterial denim diberi aksen rumbai bersama sentuhan studs, sementara kreasi kemeja tampil berkilau berkat material serba kristal. Not something totally new, but it is an updated version instead. Sebuah koleksi yang menunjukkan bagaimana arahan kreatifnya telah bergerak dari eranya berkarya untuk Dior Homme.
Kepiawaiannya mengolah kreasi sleek tailoring diwujudkan pada kreasi stripes suit dengan tampilan dasi super slim juga white suit yang clean di antara beberapa karya lainnya. Karya-karya seni dari David Weiss, Alyss Estay, dan Renata Petersen turut menjadi elemen dari beberapa pieces koleksi ini. Slimane memperkaya experience di menswear show Celine dengan alunan soundtrack dari band berbasis New York, Gustaf, yang dikomisikan dan diproduseri oleh sang creative director dan turut diproduseri pula olehnya.