A collaboration with Cita Tenun Indonesia.
Bagaimana tenun dapat diolah dalam konteks modern agar keindahannya bisa relevan memperkaya khasanah mode masa kini? Salah satu tawaran jawabannya datang dari show Cita Tenun Indonesia (CTI) yang menggandeng tiga desainer untuk menciptakan koleksi dari tiga tenun berbeda. Mereka adalah Asha Darra, Felicia Budi, dan Era Soekamto. Untuk koleksi di bawah tajuk “Dialektika” ini, pengadaan kain tenunnya mendapat dukungan dari Julia Purmawati dan Ella Purnamasari selaku filantropis CTI.
Suguhan Oscar Lawalata Culture dari Asha Dara untuk kolaborasi ini merupakan satu proposal fashion yang mampu mengakomodasi gaya hidup perempuan multi-peran dengan padatnya aktivitas keseharian. It’s simple and comfortable. Siluetnya mengingatkan pada rupa Kebaya Kartini, namun Asha membuatnya jadi lebih loose. Panjang-pendeknya lengan membuka variasi nuansa, mulai dari long sleeves yang lebih formal hingga sleeveless nan seduktif. Hampir seluruhnya dibingkai dengan permainan kerah tinggi yang menambah elegansi. Sementara bagian bawah busana-busananya ia iris-iris sehingga membentuk sulur-sulur yang menginjeksi twist kontemporer.

Keindahan songket Halaban di koleksi ini terekspos maksimal, namun dalam konfigurasi yang secara substansial bergerak progresif berkat kepiawaian seorang Asha. Perpaduan antara motif-motif kain dari Sumatra Barat tersebut dengan garis-garis sederhana menghasilkan sebuah keanggunan kultural yang sleek bersentuhan retro spirit. Padukan dengan celana berpotongan lurus atau fitted dalam warna netral seperti hitam dan putih untuk menjadikan pendar elegan dari look Anda semakin intens.
While in Asha’s pieces the recontextualization of tenun seems to go smoothly – even though it also might appear a little too safe – in fbudi’s range the challenges feel so real. Akan tetapi, tampaknya memang akan selalu dibutuhkan proses eksperimentasi juga trial and error untuk mendapat formula yang tepat dalam mengolah dan menempatkan tenun pada sebuah “habitat” baru yang sangat berbeda dari konteks asalnya. Ini yang terjadi ketika kain tradisi tersebut dicoba dibidik dari perspektif kultur muda-mudi nan kasual. The questions appear to revolve around the character of the fabric, its weight, its motif, its colours.

The hats are a hit, but the patchworks don’t really work for the pants. Strapless top-nya meradiasi kesan cool, tapi rasanya butuh padanan bawahan berbeda. Kombinasi dress dan motif tenun punya potensi yang menjanjikan, namun pilihan motifnya perlu disesuaikan. Desain-desain terkuat Felicia Budi pada koleksi yang memanfaatkan tenun Sobi khas Suku Bugis, Sulawesi Tenggara, adalah rupa-rupa luaran seperti jas dan coat. Pieces tersebut tampak kontemporer dan kultural pada saat yang bersamaan. Feel dari items itu tak lagi kaku sebagaimana versi standarnya, namun terasa energetically eclectic. Satu hal spesial mengenai tenun ini ialah teknik pakan mengambang dalam proses pembuatannya menghasilkan motif yang hanya terlihat di bagian depan.
Wajah glam datang dari olahan tenun Cual Sambas asal Kalimantan Barat hasil rancangan Era Soekamto. Napas tradisionalnya tetap kental terasa dalam forma busana beraura regalia. Mulai dari yang berupa dress mengikuti bentuk tubuh nan feminin hingga outer dengan garis lebih maskulin. Keindahan tenun akulturasi budaya Melayu dan Dayak ini berpadu harmonis dengan batik tulis pada koleksi Era Soekamto. These are for those who want to look stunning in special occasions.

Kreasi-kreasi Era Soekamto, Felicia Budi, maupun Asha Darra menjadi bukti nyata akan bagaimana tenun dan keindahannya dapat terus diolah sesuai konteks zaman. Ini menjadi alasan kuat untuk melanjutkan upaya pelestarian tenun maupun kain tradisi lainnya. Salah satu upaya CTI dalam hal ini adalah mendirikan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Tenun Indonesia. LSP Tenun Indonesia adalah lembaga sertifikasi dibidang standarisasi kompetensi Sumber Daya Manusia (SDM) bidang Tenun Tradisional. Lembaga ini telah terlisensi oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dengan 4 kelompok skema: Pencelupan, Pemotifan, Penenunan dan Pengelolaan (Manajemen).