Redemption, Filosofi Koleksi Harry Halim untuk Awal Baru

A tale of dark romance.

 

Sebuah coffin dalam keadaan terbuka dipajang di runway. Di dalamnya terdapat sesosok perempuan dengan mata terpejam mengenakan lace dress serba hitam. Panorama tersebut merupakan stage act dari show koleksi Harry Halim Spring/Summer 2025. Ia menamai koleksinya “Redemption” dengan makna akhir untuk awal baru yang dikemas dalam nuansa dark romance.

Bagi Harry Halim, peti mati menyimbolkan aksi penebusan, dari gelap menuju terang dan dari akhir menuju kebaharuan. Filosofi ini ia leburkan dengan fantasi figur vampire yang dibubuhi twist nuansa modern. Dari inspirasi figur fantasi tersebut, palet hitam dan merah konstan digunakan pada koleksi. 

Pada awal pembuka presentasi koleksinya, muncul sesosok model laki-laki mengenakan tongkat dan melihat peti mati sebelum memeragakan busana. Ia mengenakan paduan leather coat menjuntai, turtleneck dan flare trousers. Dilanjutkan dengan tampilan high shoulder blazer hitam berbelahan asimetris dengan inner fabric merah dan aksen ekor menjuntai bersama celana flare panjang. Dua look tersebut cukup menggambarkan nuansa sharpness dari koleksi ini.

Kesan sharp pada womenswear tampil dalam rupa double breasted blazer hitam, dengan model crop warna merah maupun mini dress ber-neckline rendah. Paduan palet hitam dan merah turut tampil romantis lewat penggunaan motif roses pada kreasi overcoat hingga bell bottoms. Harry Halim juga kembali melansir kreasi pointy platform Kitana Boots dan ankle boots versi baru dengan aksen hak menggantung berwarna merah maupun hitam.

Di koleksi kali ini, sang desainer berkolaborasi dengan NJS Gold. Lantas nuansa sparkly turut hadir dalam rupa kalung spike, hingga claw earrings. Implementasi kristal merah dikreasikan sebagai atasan dengan efek fringe. Hal tersebut juga menghiasi secara full front look dari kreasi jaket dengan desain bahu runcing.

Harry memilih figur-figur dari industri perfilman untuk memeragakan koleksinya. Tampak di antaranya adalah Revaldo, Chicco Jerikho, Jihane Almira, sang legendaris Egi Fedly, hingga sutradara kenamaan Jay Subiakto. Tak ketinggalan sosok perempuan di dalam coffin ialah Valerie Thomas yang kemudian bangkit dan menutup rangkaian looks. Hadirnya figur-figur ini merupakan hint, dari kiprah Harry selanjutnya untuk perdana terlibat menyutradarai sebuah film.