Perancang, seniman, dan seorang revolusioner London era ’80-an meninggal dunia pada Senin lalu (19/2).
Banyak orang mengenal Judy Blame melalui hasil karyanya, seperti styling yang meredefinisi sebuah era dan creative direction yang dilakukan terhadap sahabatnya Neneh Cherry. Pekerjaan Blame perlahan mendunia sejak awal kariernya. Telusuri koleksi record Anda, dan Anda akan menemukan karya dari Judy Blame – debut Björk dan ‘Raw Like Sushi’ oleh Neneh Cherry.
Judy Blame lahir di Surrey, Inggris dengan nama Chris Barnes. Ia pindah ke London pada masa remajanya. Perjalanannya meraih sukses sebagai art director, stylist, designer, dan visual iconoclast di dunia mainstream dan underground dimulai dari nol. Nama Chris diubah menjadi Judy – diambil dari Judy Garland – oleh couturier favorit Roxy Music, Antony Price ketika bekerja di sebuah club di London.

Sosoknya juga krusial dalam era pop yang menjunjung kreativitas dalam mengubah tren. Ia memperkenalkan Björk pada perancang asal Belgia, Martin Margiela, dan Kylie Minogue pada fotografer fashion ternama Juergen Teller dan desainer Azzedine Alaïa. Ia menghabiskan satu tahun mengembangkan ide bersama Massive Attack, grup trip hop asal kota Bristol, Inggris, untuk memvisualisasikan outfit baru bagi era ’90-an supaya dapat meraih rekognisi yang jauh lebih luas dari sound–system culture Bristol. Ketika riasan mata penyanyi Siobhan Fahey luntur ke wajahnya dalam salah satu video shoot Shakespeare’s Sister, Blame meminta Fahey untuk membiarkannya karena itu membuatnya terlihat seperti Baby Jane. Ia merombak penampilan Boy George menjadi ‘fashion’s disappearing, ghostly pearly king’. Dengan kata lain, Anda mengenal pekerjaan Judy Blame walau Anda tidak tahu Judy Blame sekalipun.
Namun, dibalik kesuksesan komersilnya, ia tetap setia pada prinsip karakteristik punk. Ia membalikkan tren, mengutak-atiknya sehingga menjadi sesuatu yang baru. Judy Blame lah yang bertanggung jawab menggerakkan para pembaca Smash Hits yang ‘innocent’ ke selera counterculture yang didokumentasikan dalam i-D dan The Face. Ia menggunakan pekerjaannya sebagai seorang stylist untuk merangkum dunia yang ada di sekitarnya, membentuk sisi kreatif editorial dengan kesadaran sosial. Pekerjaannya bukan hanya tentang dunia fashion yang glamor, namun ia memanfaatkan jabatannya untuk membicarakan isu-isu sosial yang mengganggu dirinya. Bagi Blame, styling bukanlah hanya sekadar mengambil baju dari gantungan dan memadupadankan setiap lembarnya.

Berikan Judy Blame sebuah peniti, kancing, jarum, dan benang, dan ia akan mengembalikannya bukan sebagai aksesori, melainkan sebuah karya seni. Dari banyak sisi, ia bukan orang fashion. Ia adalah seorang inventor, seorang idealis, dan seorang seniman sejati. Kadang, alat yang ia gunakan adalah hasil pekerjaan para perancang favoritnya – ia merupakan orang pertama yang melakukan photo shoot Helmut Lang, juga yang pertama untuk photo shoot Alexander McQueen. Kerap kali, Blame memilih untuk bekerja menggunakan ampas atau benda tidak penting yang ditemukan di jalan. Ia menciptakan perhiasan dari benda-benda tak berharga seperti rantai dan tulang-tulangan menggunakan proses yang disebut ‘mudlarking’. Perhiasan ini pun memberikan pengaruh besar pada estetika punk yang ia pertahankan.
“Punk is not dead,” begitulah ucap sebuah slogan yang mendunia. Namun, satu hal tentang punk culture yang patut dicatat adalah bahwa kematian merupakan bagian darinya. Meski kepergian Judy Blame meninggalkan duka bagi dunia fashion dan terutama kerabat dekatnya, Judy telah meninggalkan legasi yang abadi terhadap industri ini. Sebuah legasi yang bisa dinikmati berbagai generasi.