Pintu Incubator Buka Peluang Ekspansi Label Mode Lokal ke Pasar Global

A potential initiative to bring advancement for Indonesia’s fashion realm.

 

“Yang agak sedih tuh katanya kadang ditanya, ‘Kamu dari mana?’, ‘Dari Indonesia’, langsung pergi orangnya tanpa tanya apa-apa lagi, dan yang cerita seperti ini ke saya tidak cuma satu orang ya,” kisah Thresia Mareta, pendiri label Lakon Indonesia, mengenai keikutsertaan beberapa pelaku industri mode di trade shows mancanegara. Penggalan pengalaman beberapa pihak itu, yang ia bagi saat konferensi pers show peserta Pintu Incubator Batch 4 dalam rangkaian JF3 beberapa waktu lalu, merupakan indikasi tentang bagaimana secara umum realita mode Indonesia dipandang dunia. Editorially for this writing, we choose the word “weak”.

Mungkin tak semua peserta fashion trade show dari Indonesia mengalami hal getir di luar negri sebagaimana diceritakan Thresia. Akan tetapi, pastinya bila memang citra dunia mode Tanah Air sudah sangat kuat, tak akan ada kejadian pengunjung trade show langsung meninggalkan booth hanya karena nama “Indonesia” disebut sebagai asal si peserta pameran (unless the visitor suffers racism). Poinnya yang perlu digali kemudian adalah: kelemahan apa yang diderita oleh realita mode negri ini. Apakah pengunjung trade show itu langsung pergi karena merasa Indonesia tak melahirkan desain-desain yang bagus? Ataukah karena ia menilai Indonesia tak punya kemampuan untuk memenuhi volume permintaan buyers meskipun tawaran-tawaran desainnya berkualitas? Ataukah karena faktor-faktor lain?

Bahasan tentang problem dunia fashion Indonesia berlanjut dari presscon ke sebuah kafe di Summarecon Mall Serpong antara The Editors Club dan Thresia dalam kapasitasnya sebagai Board Committee of Pintu Incubator. Obrolan sore itu seru, insightful, dan dengan info-info juicy khas dunia mode. Menjadi perekat dari topik-topik yang dibicarakan ialah kehadiran Pintu Incubator sejak 2022 hasil kolaborasi ajang kreatif JF3, label Lakon Indonesia dan Kedutaan Besar Prancis melalui Institut Français d’Indonésie (IFI). Platform ini membekali talenta-talenta lokal terpilih yang memanfaatkan kekayaan kultur tradisional dan dinilai sudah berada di fase bisnis cukup memadai untuk mulai menjajaki pasar internasional. Puncak dukungan konkretnya ialah membawa partisipan-partisipan pilihan ke sebuah trade show di Paris, Prancis.

Kiri-kanan: Soegianto Nagaria (Chairman of JF3), Thresia Mareta (pendiri Lakon Indonesia), Fabien Penone (Duta Besar Prancis untuk Indonesia), Charlotte Esnou (Atase Kebudayaan di Kedutaan Prancis), Jules Irrmann (Direktur Institut Français Indonésie).

Mendapat support resmi dari Prancis, yang nota bene adalah world’s fashion capital, jelas menjadi poin pencapaian tersendiri bagi Pintu Incubator. Kesempatan berharga ini wajib dipergunakan secara maksimal. Apa saja yang sesungguhnya diberikan dalam program tersebut? Apakah program inkubasi itu akan mampu membawa dampak optimal bagi kemajuan mode Indonesia? Let’s take a closer look…

Membuka Pintu
Cut out fabric yang mengambil bentuk blouse, shirtdress, hingga midiskirt hadir anggun dalam balutan warna hitam di runway Senses besutan Kanya Pradipta. Sementara itu, nuansa laidback pada kreasi-kreasi yang loose seperti maxi dress tanpa lengan maupun luaran disuguhkan Enigma milik Elizabeth Selly. Jika unsur kultural lekat pada Senses, aspek sustainability kuat diusung Enigma. Selang beberapa lama setelah show di JF3 tersebut, keduanya diumumkan sebagai peserta Pintu Incubator yang terpilih untuk diberangkatkan ke Paris guna mengikuti sebuah trade show mode.

Hands-on experience pada ajang tersebutlah yang akan menambah insights baru juga pemahaman lebih kaya bagi kedua label perihal pasar global, dan bagaimana hal-hal itu kemudian direfleksikan dalam kaitannya dengan pembekalan yang telah diperoleh di program Pintu Incubator. Ini tentunya akan menjadi salah satu faktor dalam menentukan langkah bisnis brand ke depannya. Mengidentifikasi apa yang perlu dipertahankan, diperkuat, dimodifikasi, diperbaiki, ataupun ditinggalkan terkait aspek-aspek bisnisnya seturut tujuan yang ingin dicapai brand.

Koleksi Senses di JF3 2024.

Mentoring kepada para partisipan Pintu Incubator difasilitasi oleh pihak-pihak dari ragam sektor, baik asal Prancis maupun Indonesia. Mulai dari pemilik label, CEO, konsultan bisnis, pengajar akademis, desainer mode, ahli tekstil, branding and marketing experts, profesional bidang ritel, praktisi hukum, hingga representasi trade show. Pada tahun ini, beberapa di antaranya adalah Samudra Hartanto yang kini menggarap label Eve & Max bersama rekannya Maxine Trowbridge setelah mengenyam karir di Louis Vuitton sampai Hermès, ahli tekstil Josephine Schmitt dengan pengalaman di R&D Chanel, perancang Vincent Pressiat yang career experience-nya ditimba di Margiela hingga Saint Laurent sebelum merilis namesake brand, serta desainer senior Indonesia Susan Budihardjo yang adalah pendiri sekolah fashion dengan alumni-alumni besar seperti Sebastian Gunawan dan Didi Budiardjo.

Berlangsung sejak Maret 2024, proses mentoring mencakup materi market positioning, branding, model bisnis, perencanaan bisnis, kualitas dan kekuatan produk, hukum, hingga tentang sumber daya manusia. “Termasuk bagaimana membuat financial report karena dari situ mereka akan tahu bagaimana uangnya berputar. Bisnis bukan cuma menjual dan dapat untung, tapi bagaimana juga hasil itu diputar untuk kelangsungan dan pengembangan bisnis,” jelas Thresia lebih detail tentang program tak berbayar ini. Seperti diungkapnya dalam wawancara khusus bersama The Editors Club, semua materi pembekalan itu diberikan dengan menempatkannya pada konteks situasi real tiap-tiap usaha brand partisipan. Ia menyebut hal ini sebagai salah satu kekuatan Pintu.

Terpilihnya Enigma dan Senses merupakan hasil penyaringan beberapa tahap. Saat kurasi awal, hanya ada 7 label yang berhasil lolos dari sekitar 500 pendaftar. Kelima nama lainnya ialah Arae, Denim It Up, Opie Ovie, Semilir, dan Tales and Wonder. Jumlah ini lebih sedikit dibanding peserta Pintu Incubator tahun lalu yakni sebanyak 12 brands. Thresia menjelaskan hal itu terjadi karena tim kurasi berpegang teguh pada aspek terpenuhinya kriteria alih-alih menetapkan kuota. Harapannya tentu agar Pintu Incubator konsisten membawa hasil yang sesuai dengan visinya.

Mentor Pintu Incubator: Josephine Schmitt, Vincent Pressiat, Samudra Hartanto, Susan Budihardjo.

Consistency and Connectivity
Seberapa signifikan Pintu Incubator akan berdampak bagi dunia mode Indonesia? Sebesar apa pula dampaknya bagi peserta program yang dibawa ke Paris untuk mengikuti trade show? Pertanyaan-pertanyaan yang muncul di benak pecinta, pemerhati, dan praktisi mode di Indonesia yang tahu akan keberadaan program inkubasi itu memang valid dan penting untuk dilontarkan. Akan tetapi, penting juga untuk memperhatikan beberapa konsiderasi dalam merespon pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pertama tentang skala dan usia program. Menyadari eksistensinya sebagai entitas yang baru menetas, dengan berbagai limitasi akan kapasitasnya, tentu tidak fair dan tak make sense bila evaluasi dan ekspektasi berlebihan akan perannya bagi realita mode Tanah Air ditumpahkan ke pundak program ini. Konsiderasi yang sama juga berlaku kala membahas dampak program bagi para pesertanya. Tidak tepat untuk memakai tolak ukur terlalu tinggi terkait hal tersebut di saat programnya sendiri baru terlahir dan dengan batasan-batasan kemampuan pada berbagai aspek. Satu hal lagi, perlu disadari bahwa kesuksesan sebuah fashion brand tidak bisa secara sederhana direduksi pada satu program inkubasi yang diikutinya. Ada segudang faktor yang saling terkait atas keberlangsungan dan keberhasilan sebuah label mode.

Untuk saat ini, hal bijak yang bisa dilakukan dalam merespon keberadaan Pintu Incubator setidaknya adalah mengamati bagaimana program itu berjalan dari periode ke periode – even better if supports could be given to the program. Di sinilah, aspek konsistensi akan memainkan peran krusial bagi kemajuan program ke depannya. Baik itu konsistensi menjalankan program secara berkesinambungan, konsistensi dalam berprinsip mengutamakan kualitas, juga konsistensi untuk evaluasi, perbaikan, dan pengembangan pada elemen-elemennya. Asas konsistensi pula yang akan berpengaruh pada upaya pertumbuhan sebuah fashion brand, terlebih bila mimpinya adalah bermain di pasar global. Hal ini yang selalu digaungkan oleh Thresia maupun Charlotte Esnou, Atase Kebudayaan di Kedutaan Prancis yang turut berperan sebagai Board Committee of Pintu Incubator.

Koleksi Enigma di JF3 2024

What we always tell to the incubees is that things don’t happen in one time. You need to be consistent in your actions and relationship to the international market,” ungkap Charlotte kepada The Editors Club perihal faktor penting dalam upaya sebuah label menaklukkan pasar dunia. Lugas ia mengutarakan bahwa tak realistis berharap hanya dengan sekali membawa koleksi ke Paris, sebuah brand langsung mendapat rekognisi. “Consistently build the relationship with the ecosystem: with the buyers, the journalists, and other designers as well,” ucapanya melontarkan perihal network sebagai poin penting lain bagi perkembangan label. Penekanan akan pentingnya jejaring kembali digarisbawahi Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Fabien Penone, dalam sambutannya pada malam peragaan kreasi Pintu Incubator di JF3. “What we need now is to develop networks and this is exactly what we have been doing over the last 3 years with our new incubation program, Pintu,” ungkap sang Dubes.

Di Pintu Incubator, network kepada resources Prancis terbangun dengan lebih dari 20 profesional yang diterbangkan ke Indonesia untuk mendukung program tersebut. Termasuk di antaranya para mentor alumni École Duperré, sekolah tinggi mode di bawah naungan Kementerian Pendidikan Tinggi, Riset, dan Inovasi, serta Kementerian Pendidikan dan Pemuda Prancis. Salah satu lulusan ternama dari lembaga edukasi kelahiran tahun 1864 ini adalah Pierre Hardy, footwear designer yang hingga kini juga menjabat sebagai Creative Director of Hermès Jewellery. École Duperré juga memberi dukungan kepada Pintu Incubator berupa beasiswa satu semester yang akan dikenyam oleh Prafitra Viniani selaku pendiri label Apakabar.

Lulusan batch kedua Pintu Incubator itu menghasilkan karya-karya sophisticated memanfaatkan material eco-conscious nan inovatif, seperti mushroom-based Mylea buatan Perusahaan Bioteknologi dalam negri Mycotech Lab. Apakabar sudah dua kali mengikuti trade show Première Classe via Pintu Incubator dan real impact-nya adalah transaksi oleh para buyers, seperti diceritakan Prafitra dalam unggahan Instagram Pintu Incubator. Diberangkatkannya lagi alumni terpilih dari program inkubasi ini merupakan bagian dari perwujudan prinsip konsistensi dan pembangunan network yang dipegang. Sebagaimana dikatakan Charlotte, yang juga mewakili IFI, “We give the opportunity to the returning incubees, to come back to Paris. They need to build the trust and be consistent.

Label Apakabar mengikuti Première Classe.

Première Classe yang berlangsung selama Paris Fashion Week merupakan salah satu trade fair bergengsi di Prancis. Mulanya hadir dengan fokus pada aksesori di tahun 1989, Première Classe kemudian turut menjangkau ranah ready-to-wear. Berdasar rilis pers resminya, ajang di naungan WSN Développement tersebut (yang juga merupakan penyelenggara trade show kenamaan lain yakni Who’s Next) diikuti oleh 350 brands dan 13.000 visitors dari berbagai penjuru dunia yang mencakup concept stores, department stores, independent buyers serta e-commerce. Sylvie Pourrat, Director of Fashion and Accessory Range at WSN Développement, menjadi hub penting bagi Pintu Incubator lewat perannya sebagai mentor program tahun ini.

Pembangunan network dan upaya konsisten, baik yang dilakukan oleh program inkubasi Pintu maupun partisipannya, tentu diharapkan akan menciptakan efek bola salju yang terus bergulir sepanjang perjalanannya sehingga terbentuk ekosistem suportif bagi kemajuan program dan peserta. Secara lebih luas, perkembangan itu juga dapat membawa domino effect ke elemen-elemen industri mode di luar program, menyulut stimulasi ke berbagai sektor untuk terus melakukan improvement yang akan mendorong dunia fashion Indonesia bergerak progresif.

Mimpi, Ambisi, Strategi
Mengenang dekade 90’an awal, masih jelas teringat bagaimana kala dulu memasuki department stores atau melihat iklan di televisi dan lembaran cetak, label-label seperti Osella (PT Cipta Kreasisandang Mandiri, est.1987), Hammer (PT Warna Mardhika, est.1987), juga Walrus (PT Jaya Garment Sukses Makmur, est.1989) tampil penuh otoritas. Kini tak dapat dipungkiri bahwa kondisi pasar busana Tanah Air dijejali oleh berbagai brand asing yang pamornya meradiasi cemerlang.

Suka atau tidak suka, begitulah realita yang harus dihadapi oleh pelaku bisnis mode dalam negri saat ini. Untuk bisa menaklukkan pasar suatu wilayah atau bahkan berekspansi ke pasar di wilayah-wilayah lain, tampaknya aspek mimpi, ambisi, dan strategi memainkan peranan penting. Tidak banyak memang contoh-contoh brand dari luar fashion epicentres (Prancis, Italia, UK, USA) yang mampu meroket ke orbit lebih luas. Akan tetapi, sedikit nama tersebut rasanya cukup untuk bisa tetap mempertahankan asa, melambungkan mimpi, dan membakar ambisi.

Di kategori label yang relatif affordable untuk masyarakat luas, bisa dilihat Charles & Keith asal Singapura (est.1996) dan Giordano asal Hong Kong (est.1981) yang kuat di regional Asia Tenggara. Tidakkah affordable brands dalam negeri juga menargetkan untuk mengikuti jejak serupa? Lebih bagus lagi bila mimpi dan ambisinya adalah menjadi setenar dan seglobal H&M asal Swedia (est.1947) atau Uniqlo asal Jepang (est.1984). Pun demikian dengan bidang high street di mana A Bathing Ape asal Jepang (est.1993) dan Gentle Monster asal Korea (est.2011) menggaung ke telinga anak-anak gaul di seluruh dunia. Nama-nama yang disebut itu menjadi bukti nyata penetrasi pasar yang sukses di mana brand awareness-nya kuat dan presence mereka kokoh dengan kehadiran brick and mortar stores di banyak negara dalam jangka waktu panjang (bukan sekadar mengekspor produknya ke mancanegara atau dibeli oleh buyers asing).

Wilayah high fashion diisi oleh nama-nama inspiratif yang merantau dari Asia dan tumbuh besar di panggung mode internasional. Dari Jepang ada Kenzō Takada yang tiba di Paris pada tahun 1965, serta Yohji Yamamoto yang debut di Paris pada tahun 1981 bersamaan dengan Rei Kawakubo pendiri Comme des Garçons. Sebelumnya juga terdapat Issey Miyake yang telah menampilkan koleksi di Paris sejak 1973. Di akhir era 90’an, nama Chitose Abe pendiri Sacai turut mewarnai realita fashion global. Here is the big dream. Bahwa kelak nanti, semakin banyak insan-insan bangsa yang berani memutuskan untuk hijrah ke Paris, berjuang berpeluh tanpa henti hingga benar-benar mencapai rekognisi internasional sebagai high fashion designer selevel para perancang asal Jepang tersebut. Berapa banyak yang sekiranya punya ambisi, energi, ketangguhan dan kelihaian sebegitu besar untuk menggapai mimpi yang tinggi itu?

Tengah: Desainer Yohji Yamamoto dan Rei Kawakubo

Tampaknya ini yang dimaksud oleh Soegianto Nagaria, Chairman of JF3 sekaligus Board Committee of Pintu Incubator, ketika dalam konferensi pers show Pintu Incubator mengatakan secara bergelora, “you need to have your own drive and take the challenges so that you can stand firm, go to the world and represent Indonesia.” Pesan penting mengenai drive ini tentu perlu dipahami dalam kerangka pemahaman yang bijak, yakni dengan merefleksikannya terhadap situasi industri mode yang penuh tantangan-tantangan baru. Dahulu, semangat dan kualitas karya mungkin bisa cukup menjadi senjata untuk menaklukkan medan. Akan tetapi, dengan semakin banyaknya challenges di industri fashion, sebagian beranggapan bahwa bahkan Alexandar McQueen sekalipun tak akan sukses jika ia merintis usahanya pada saat ini, seperti dikutip dari artikel The Guardian berjudul “You can’t keep teaching people to dream’: why Britain’s young designers are struggling.”

Di artikel tersebut, aspek financing menjadi sorotan utama. “We simply don’t have the finances for a runway show right now,” ucap Turkish-British designer Dilara Findikoğlu tahun lalu yang akhirnya berhasil kembali menyuguhkan show koleksi di London Fashion Week Fall/Winter 2024. Sama halnya dengan menyelenggarakan peragaan busana, berpartisipasi sebagai exhibitor di trade show pun membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Apalagi bila yang diikuti sudah prestisius sekelas Première Classe, Tranoï, Who’s Next, atau Man/Woman. Selain cost untuk menempati booth yang bisa menguras kantong, beban biaya lain seperti penerbangan, logistik, akomodasi, dan lainnya juga berkontribusi pada total pengeluaran.

Akses yang diberikan Pintu Incubator ke beberapa partisipannya untuk unjuk koleksi di Première Classe merupakan kesempatan sangat berharga. Dampak support semacam ini diharapkan akan semakin kuat terlihat dan terasa seiring kesinambungan program dalam jangka waktu panjang, yang diiringi continuous improvements. Akan tetapi, bilamana penyelanggara Pintu Incubator sesungguhnya menyimpan ambisi lebih besar untuk mencapai sebuah gol extraordinary, yakni mencetak nama insan Indonesia sebagai international designer setaraf Yohji Yamamoto atau Rei Kawakubo, maka perancangan strateginya pun harus super ambisius. Keikutsertaan di trade show bergengsi perlu diperkuat dengan strategic road map untuk mengakses dan membangun solid network dengan elemen-elemen di epicentre dari ekosistem mode internasional.

Misalnya, ketika bicara tentang buyers, perlu diulik bagaimana caranya agar koleksi para desainer bisa dilihat oleh representasi dari concept stores terkemuka seperti Dover Street Market dan 10 Corso Como. Mungkin mereka bisa diundang secara khusus ke venue pameran, mungkin tim Indonesia yang berupaya untuk membuat janji datang ke tempat mereka, mungkin mereka diajak dahulu ke Indonesia sebagai mentor, atau mungkin ada cara-cara lainnya. Berbagai eksplorasi cara membangun jejaring tersebut juga bisa diterapkan ke target circle Fédération de la Haute Couture et de la Mode (FHCM), para profesional dalam rumah-rumah mode di naungan grup usaha raksasa seperti LVMH atau Kering, hingga publikasi-publikasi ternama dari Vogue hingga Women’s Wear Daily.

Jalan lain yang dapat pula menjadi konsiderasi adalah mencari tahu bagaimana agar asuhan-asuhan Pintu bisa mengikuti dan menaklukkan kompetitsi-kompetisi mode berkaliber yang terbuka untuk perancang dari seluruh dunia, semisal LVMH Prize for Young Fashion Designers, International Woolmark Prize, dan Andam Fashion Awards. Pemenang kontes-kontes itu akan mendapat support yang luar biasa. International Woolmark Prize, yang daftar alumninya mencakup Karl Lagerfeld dan Yves Saint Laurent, memberikan 300 ribu dollar Australia bagi pemenang dan membuka akses ke peritel-peritel besar. Andam Fashion Awards, yang dimenangkan Martin Margiela dan Anthony Vaccarello, menghadiahi 300 ribu euro dan setahun mentorship dengan sang Creative Director Saint Laurent. LVMH Prize, dengan alumni Simon Porte Jacquemus dan Grace Wales Bonner, juga mengalokasikan jumlah funding yang sama beserta tailored mentorship dengan tim dari raksasa usaha milik Bernard Arnault.

Kalaupun tak berhasil memenangkan kompetisi-kompetisi itu, keikutsertaan hingga lolos seleksi awal saja sudah akan menghantar lebih dekat dengan jaringan key players di industri mode internasional. Di atas segalanya, satu faktor amat penting dalam berbagai taktik membangun network yang sudah disebut tadi pastinya ialah kekuatan desain. Akan sia-sia jadinya ketika semua akses ke jejaring itu berhasil diraih, namun tak bisa menyuguhkan rancangan-rancangan berkualitas tinggi serta memikat. Di sini poin edukasi menjadi substansial. Bila kini Pintu Incubator bisa mendapat support dari Ecole Duperré yang memberi beasiswa, ke depannya mungkin kerjasama dapat pula dibangun dengan institusi-institusi edukasi prestisius lainnya, seperti Parsons dan Fashion Institute of Technology di USA, Central Saint Martins dan London College of Fashion di UK, atau Istituto Marangoni dan Polimoda di Italia.

Peragaan koleksi alumni Ecole Duperré di JF3 2024.

Semakin ambisius upaya strategis Pintu Incubator untuk membimbing dan menuntun menuju pintu-pintu kesempatan di pusat realita mode, semakin akan luar biasa pula dampaknya dalam menyemangati para talenta-talenta mode Tanah Air untuk menggapai mimpi-mimpi. As the saying goes:

Encouragement helps you to go one step more, become better.
Hubert de Givenchy