Embracing the change of culture.
Di mata Wilsen Willim, perubahan adalah keniscayaan. Contohnya ialah tentang bagaimana approach generasi masa kini tentang colour code dalam perayaan Chinese New Year. Beberapa keluarga kini tak lagi memandang penggunaan warna hitam dan putih pada tahun baru imlek sebagai sesuatu yang tabu, as long as they don’t go full black or white as if they’re mourning.
Melihat fenomena tersebut, alih-alih menghindari, Wilsen Willim melihatnya sebagai sebuah pergerakan budaya yang penting bagi stimulus berkarya. Koleksi imlek yang biasanya cenderung penuh warna ceria kini ia buat dalam palet warna lebih matang dan elegan. Think of deep red, deep blue, deep grey, light grey, white, and black. Tak hanya elegan dan timeless, koleksi terbarunya untuk perayaan Chinese New Year dimaksudkan untuk mudah dipadupadan.
“Kami justru menjawab permintaan generasi muda yang ingin tampil dinamis dalam warna-warni yang tidak terlalu mencolok dan sulit untuk dikenakan kembali dalam keseharian,” jelas Wilsen Willim akan koleksinya yang dirancang sarat akan nuansa peranakan kontemporer.
Ragam busana di koleksi ini mencakup jaket, kemeja, kemeja tanpa lengan, rompi, korset, kardigan, bustier, celana, dan rok. Hadirnya batik pesisir serta kerah dan kancing khas Shanghai dalam napas peranakan yang kuat turut menyemarakkan koleksi. Adapun perpaduan material katun, renda, jacquard, rajutan, hingga suiting fabric, membuat keseluruhan koleksi nyaman dikenakan dan dapat dipakai berulang kali meski masa festive telah berlalu.