Badan saya sedang tidak baik-baik saja. Sudah lebih dari seminggu dalam kondisi kurang prima. Dua hari kemarin berbaring seharian hanya ditemani podcast ala anak tongkrongan dan ngulik politik yang makin lama makin menggelitik, bikin emosi.
Baru saja saya mengumpulkan tenaga hari ini untuk memenuhi janji meeting di hotel Sari Pacific. Dalam perjalanan pulang, kembali saya rasakan badan yang semeriwing dan kepala yang keleyengan. Di kantor, saya membuka Instagram. Maksudnya supaya kepala sedikit enakan sebelum memikirkan hal-hal yang lebih berat.
Namun, dhuarr! Mata ini langsung tertuju pada posting-an Volix Media tentang mantan atlet anggar sekaligus selebgram, Cut Intan Nabila, buka suara mengenai perlakukan KDRT dari suaminya, Armor Toreador. Gila! Yang ada kepala ini makin nyut-nyutan.
Saya merasa emosi ini harus saya luapkan di dalam sebuah tulisan. Ya, namanya juga penulis.

Sering kali saya menyampaikan, salah satu keberuntungan yang paling saya syukuri adalah, dari kecil saya selalu dikelilingi oleh laki-laki yang Alpha. Yang benar-benar kuat, jiwa dan raganya. Yang diberkahi hati yang besar dan pemikiran yang luas. Jadi kelakuannya, selalu mampu untuk mengangkat perempuan di sampingnya.
Saya pun tak menutup mata, bahwa di luar pagar rumah ini banyak perempuan yang tidak beruntung, ketemunya dengan laki-laki yang buntung. Buntung otaknya, buntung hatinya. Tak punya kekuatan apa-apa, sehingga untuk belaga kuat, suka aneh-aneh saja kelakuannya.
Kebanyakan, perempuan yang bersama laki-laki yang bukan standarnya, menyadari betul bahwa sebenarnya ia pantas mendapatkan yang lebih. Tapi kenapa ya hanya bisa berhenti di dalam pikirannya saja? Kok tak ada tindakan nyata untuk keluar dari “level 1” ini dan mencari kehidupan yang naik kelas?
Jujur saja, dulu, sebelum mencari tahu lebih dalam, saya sebal kalau mendengar alasan perempuan bertahan di hubungan yang bermasalah adalah “demi anak-anak”. Di kepala saya, gila juga nih ibu, dia yang cemen, pake ngeret anaknya pula jadi alasan dirinya tersiksa lahir dan batin. Kalau saya jadi anaknya, tentu tak bisa terima ya, dan akan protes berat. Be the captain of your life dong! Jangan main menyalahkan orang saja, itu mah gampang.

Namun, seiring berjalannya waktu, saya mencoba untuk menemukan jawaban dari pertanyaan: why leaving an abusive relationship in reality is harder than you think? Kurang lebih, inilah beberapa kesimpulan yang saya ambil.
1. Takut akan pembalasan
Biasanya korban takut untuk merespon karena apapun bentuk respon yang diberikan punya potensi untuk escalate the violence. Oleh karena itu, korban lebih banyak diam, memendam. Karena takut dibalas, dan balasannya bisa mengarah ke tindakan yang lebih kasar, lebih menyakiti, bahkan bisa berakibat kematian. Pelaku kekerasan ini juga pastinya pernah mengancam dan memberikan gertakan untuk menyakiti istri dan anaknya, jika korban berani mengadu atau meninggalkannya.
2. Siksaan, secara fisik maupun secara emosi
Nah, biasanya siksaan ini dapat mengakibatkan para korban merasa tidak berdaya, terisolasi, dan gawatnya lagi, merasa jika hidup dan matinya ada di tangan si pelaku kekerasan. Kekerasan emosional dan psikologisnya bisa berbentuk manipulasi, gaslighting, ataupun sering melontarkan sentimen-sentimen yang mengecilkan pasangannya. Kontrol psikologis ini dapat membuat aksi meninggalkan rumah tampak mustahil karena kepercayaan dirinya yang lambat laun menipis.
3. Ketergantungan secara finansial atau tak punya penghasilan
Kalau kata lagunya Pretty Sisters di tahun 1983, “lagi-lagi uaang”. Banyak korban bergantung secara finansial pada pelaku kekerasan, jadi sang abuser yang mengendalikan semua keuangan. Tanpa uang, akses ke sumber daya, dan tanpa pekerjaan, korban mungkin merasa tidak memiliki cara untuk menghidupi diri sendiri serta anak-anak mereka jika meninggalkan rumah. Nah, di poin inilah sering kali jurus “bertahan demi anak-anak” dimainkan. Meskipun sebenarnya ada alasan lain yang juga terkait hal ini, seperti takut terjadi perebutan hak asuh, penculikan, atau hal-hal lain yang dirasa bisa merugikan anak. Kurangnya uang juga bisa mengakibatkan kurangnya dukungan dan sumber daya yang mereka butuhkan untuk meninggalkan tempat tinggal mereka dengan aman, seperti tempat penampungan, bantuan hukum, maupun dukungan sosial.

4. Isolasi
Pelaku kekerasan sering kali mengisolasi korbannya dari teman, keluarga, dan sistem pendukung lainnya. Isolasi ini dapat membuat korban merasa sendirian dan tidak ada orang yang dapat dimintai bantuan. Di dalam poin ini juga mungkin bisa dimasukkan stigma dan rasa malu dengan situasi yang dihadapi korban. Mungkin takut di-judge oleh society dan bahkan parahnya lagi malah dipersalahkan. Hal-hal inilah yang dapat mencegah korban untuk mencari bantuan atau meninggalkan hubungan.
5. Kepercayaan dan Harapan
Nah ini… realitanya, masih banyak yang menghadapi tekanan budaya atau agama yang menghambat perceraian atau perpisahan, sehingga membuat mereka merasa berkewajiban untuk tetap menjalani hubungan sesakit apapun. Bertahan sambil berharap pelaku akan berubah atau hubungan mereka dapat membaik. Harapan ini dapat didorong oleh janji-janji pelaku untuk berubah atau menghujani korban dengan kasih sayang.