Percikan Wastra Bali di Dior Spring/Summer 2021

Appreciating culture around the world. 

 

Cara kita berpakaian akan mengikuti perubahan yang sedang terjadi di masyarakat. Di masa lalu terlihat bagaimana perang mengubah cara berpakaian orang-orang, atau perkembangan kesetaraan gender yang terlihat dalam bagaimana perempuan dapat lebih sering mengenakan celana panjang. Fashion imitates the movement of life. Perubahan dalam peradaban, berarti perubahan dalam fashion juga. Prinsip tersebut dipegang erat oleh Maria Grazia Chiuri di setiap koleksi Dior yang ia persembahkan ke dunia, yang kemudian ia gabung dengan ide bahwa sebuah pakaian harus mengikuti tubuh sang perempuan yang mengenakannya. And for that, she will be subverting traditions through this Spring/Summer 2021 collection. 

Bila siluet khas sang rumah mode, sang Bar Jacket, memiliki bentuk yang struktural, Chiuri memperkenalkan kembali sebuah siluet yang lebih bebas dari kreasi Christian Dior di tahun 1967 untuk sebuah koleksi di Jepang: Diopaletot. Kreasi yang nyaman untuk menemani keseharian di rumah dan dapat dikenakan sesuai keinginan hati sang pemakai. Koleksi ini juga banyak mengambil inspirasi dari para pujangga yang berkarya di kediaman mereka, seperti Virginia Woolf dan Susan Sontag. Kemeja panjang yang dirancang bagaikan shirtdress emblematis Dior dipasangkan dengan celana panjang bermotif garis atau celana pendek, kemudian dilengkapi dengan sebuah coat

Karya-karya dari koleksi ini terlihat begitu ringan dan bebas. Potongannya begitu loose dan memudahkan gerakan. Motif paisley dan floral merajalela dengan aksen renda untuk efek kolase romantis. Kain chiffon lembut diinterpretasikan sebagai gaun panjang berhias embroidery. Palet matte blue, deep ocher, pale orange, dan leaf green mewarnai koleksi ini. Bagian pinggang diaksentuasikan dengan tali tipis atau teknik smocking dan dropping dari kainnya.

Salah satu keistimewaan dari koleksi Spring/Summer 2021 ini adalah penggunaan seni tekstil asal Indonesia pada sebuah rancangan. Chiuri menggunakan tenun ikat Endek asal Bali. Kain tradisional ini menjadi lapisan reversible dari sebuah flared coat bermaterial kain chiné yang mereferensi karya Yves Saint Laurent untuk sang rumah mode di tahun 1959. Pertemuan warisan budaya Nusantara dengan seni savoir-faire ala Dior ini merupakan sebuah dialog menawan, melanjutkan kisah komitmen sang rumah mode dalam berkolaborasi dengan para artisan dengan keahlian cemerlang dalam aset budaya mereka.