A process of learning for growing.
“We’ll say no if we already have something similar from the current participants,” ucap Sylvie Pourrat di sela kesibukan Première Classe, Paris, beberapa waktu lalu mengenai salah satu kriteria pemilihan brand yang bisa mengikuti trade show tersebut. Sang Director of Fashion and Accessory Range at WSN Développement memastikan bahwa para buyers yang mengunjungi pameran dagang ini – the best ones in the world as she said – akan selalu menemukan hal-hal baru. Untuk tahun ini, beberapa kebaruan pada ajang yang berlangsung di Carrousel du Louvre tersebut datang dari ekosistem Pintu Incubator: Senses, Enigma, Fuguku, dan Lakon Indonesia.
Dari keempat brand yang terlibat, Senses dan Enigma merupakan dua peserta inkubasi terpilih dari batch tahun ini. Rangkaian karya keduanya di Première Classe adalah hasil godokan program yang melibatkan mentor-mentor ahli baik dari Indonesia maupun Prancis – termasuk juga Sylvie Pourrat. “To provide the right advices in order to prepare them to join Première Classe in Paris,” ucapnya perihal kontribusi yang ia berikan di Pintu Incubator. Terkait hal tersebut, satu poin yang ia angkat mengenai pemahaman akan pasar Eropa ialah aspek story telling dari sebuah koleksi; yakni mengenai apa cerita di balik rancangan-rancangan yang dikreasikan, siapa pembutanya, apa DNA desainnya.

For that, she stated that Pintu participants really bring something they don’t have. Senses besutan Kanya Pradipta menyuguhkan koleksi terinspirasi legenda rakyat Roro Jonggrang. Palet dominan putih dan kekuningan memancar dari pieces dengan kekuatan pada materialnya yang unik: customised lace dengan motif terinspirasi traditional pattern juga rempah, flora, dan fauna Jawa Tengah. Tema circularity dari Enigma yang didirikan oleh Elizabeth Selly mewujud pada pola jahitan zero-waste dengan material organik yang dikreasikan oleh pengrajin secara handmade. Label ini merupakan wujud dari prinsip slow fashion.
Di tangan Fuguku yang digawangi Savira Lavinia dan Nonita Respati, daur ulang botol plastik bekas menjelma jadi pieces bertekstur 3D terinspirasi puffer fish dengan warna hasil metode tradisional jumputan. Sementara itu, Lakon Indonesia pimpinan Thresia Mareta, dengan Irsan sebagai creative director, menawarkan rancangan-rancangan dengan torehan batik pekalongan yang cantik. Lakon Indonesia sendiri sudah mengikuti Première Classe sejak batch pertama Pintu Incubator. Kini merupakan kali ketiga partisipasinya, ada pembelajaran yang dipetik oleh co-initiator dari program mentoring tersebut, baik terkait performa brand di trade show maupun mengenai Pintu Incubator.

“Pertama, saya belajar banyak mengenai komunikasi,” ungkap Thresia Mareta kala berada di area Première Classe yang pada tahun ini bertempat di Carrousel du Louvre. Yang ia maksud adalah perihal cara efektif dan efisien untuk menceritakan hal-hal yang perlu buyers ketahui tentang brand dan koleksinya. Ini tentunya menjadi salah satu strategi penting bagi kesuksesan dalam mengikuti trade show. Lebih lanjut, yang juga semakin dipahaminya ialah bahwa ada berbagai segmentasi buyers sehingga diperlukan kemampuan untuk mengidentifikasi buyers mana yang memang cocok dengan karakter brand.
Sementara itu, mengenai Pintu Incubator sendiri, ia menekankan pentingnya konsistensi dalam menjalankan program ke depannya. Termasuk di dalamnya adalah konsistensi meningkatkan kualitas brand yang akan dibawa untuk mengikuti trade show. Hal tersebut dimaksudkan agar impresi yang didapat buyers juga konsisten bahwa label-label Indonesia terus menawarkan produk-produk mode berkualitas. Tak lupa ia menggarisbawahi bahwa impresi tersebut terkait pula dengan reliability dalam memenuhi order secara tepat waktu dan dengan kualitas sesuai perjanjian.

Pembelajaran juga didapat oleh kedua peserta program inkubasi yang berhasil mengikuti trade show Première Classe tahun ini. Bagi Kanya Pradipta yang mendirikan Senses di era pandemi Covid-19 pada tahun 2020 silam, approach dalam berkomunikasi terhadap buyers menjadi salah satu poin pembelajaran. Kanya Pradipta menyadari bahwa perbedaan kultur turut bepengaruh terhadap bagaimana cara berkomunikasi yang tepat kepada buyers dari negara-negara berbeda. Dalam hal teknis kebusanaan, ia menyadari perlunya memerhatikan soal sizing untuk bisa mengakomodasi kebutuhan pasar mancanegara. Sementara itu, Elizabeth Selly yang memulai Enigma pada tahun 2016 mengaku bahwa ia mendapat experience dan insight berharga dari berbagai pihak lewat keikutsertaannya pada ajang Première Classe. Satu catatan yang ia perhatikan dalam berpameran adalah bagaimana menampilkan produk dengan display menarik untuk bisa menarik perhatian pengunjung.
Baik Elizabeth maupun Kanya memahami bahwa pencapaian mereka untuk turut serta pada eksibisi dagang ini merupakan sebuah proses untuk membangun awareness dan trust para buyers. Hal senada juga diutarakan oleh Savira Lavinia pendiri Fuguku. Mengikuti trade show di berbagai negara adalah bagian dari proses label tersebut untuk memperluas exposure dan presence di pasar luar negri. Di ajang Première Classe, Fuguku berhasil menggaet buyers dari museum Centre Pompidou dan Musée des Arts Décoratifs. Koleksi brand ini sudah dijajakan di kedua tempat tersebut.

Selain mengikuti trade show, kegiatan rombongan Pintu Incubator di Paris juga mencakup kunjungan ke beberapa eksibisi juga department stores historis guna memperkaya khasanah pengetahuan dan perspektif mengenai dunia mode (The Editors Club joined the trip as a prize for winning a Pintu’s writing competition). Beberapa di antaranya adalah Le 19M yang adalah pusat Métiers d’art dari Chanel, Fondation Azzedine Alaïa, department store Le Bon Marché dan department store La Samaritaine.
Tak hanya itu, para peserta trip juga melihat lebih dekat salah satu institusi pendidikan mode di Prancis, Ecole Duperré. Lembaga yang telah berdiri sejak tahun 1864 ini merupakan salah satu mitra Pintu Incubator. Pada tahun 2024 ini, Pintu Incubator berhasil meraih sebuah pencapaian dengan mengirim salah satu alumninya untuk belajar di sekolah tersebut selama 6 bulan lewat skema beasiswa. Ia adalah Prafitra Viniani, pendiri label Apakabar yang merupakan peserta batch perdana Pintu Incubator. Ke depannya diharapkan program pembekalan hasil kerjasama JF3, Lakon Indonesia, dan Kedutaan Besar Prancis di Indonesia melalui Institut Français d’Indonésie (IFI) tersebut dapat terus berkolaborasi dengan pihak-pihak strategis untuk semakin meningkatkan kualitas mentorship serta memperluas akses-akses penting ke pusat dunia mode.
