Pameran Seniman Filipina di Gajah Galeri Gali Makna Kepemilikan

To possess or to be possessed.

 

Do we really own things? Are we actually owned by those things? Pertanyaan ini menjadi substansi reflektif dalam paparan kurator Joyce Toh kala membuka sebuah eksibisi berisi kumpulan karya seniman-seniman Filipina. ā€œPossession: To Have & To Holdā€ menelaah konsep kepemilikan yang kompleks dan beragam, mengeksplorasi dorongan manusia untuk mengelilingi dirinya dengan benda.

Hal itu menghantar kepada signifikansi kepemilikan yang melampaui aspek-aspek dasar dari dimilikinya sebuah hal, semisal fungsi atau keindahan. Kepemilikan berkaitan dengan tentang gejala manusia yang lebih luas, seperti kecenderungan untuk membentuk identitas, status, hingga respon atas apa yang telah hilang. Mengutip note dari Joyce Toh, ā€œPossession reaches deep into notions of desire, domination and control. It goes beyond a fixation with the physical; in being seized, possession is an erotics of obsession.ā€

Dengan pembukaannya dihadiri oleh Duta Besar Filipina untuk Republik Indonesia, H.E. Gina A. Jamoralin, eksibisi ini menjadi ekspresi resonansi historis antara Indonesia dan Filipina serta mendorong pertukaran budaya yang berkesinambungan. Gajah Gallery sendiri sebelumnya telah menghelat pameran seniman Filipina di Singapura pada tahun 2023. Beberapa seniman Filipina yang berpartisipasi dalam pameran ini telah terlibat dalam kolaborasi intensif dengan Yogya Art Lab, anak dari Gajah Gallery. Kemitraan tersebut memberdayakan para seniman untuk menciptakan karya menggunakan perunggu dan material eksperimental baru.

Pameran Possession: To Have & To Hold berlangsung hingga 8 September 2024. Karya-karya yang hadir dalam eksibisi tersebut merupakan kreasi dari BenCab, Kawayan de Guia, Kiri Dalena, Leslie de Chavez, Marina Cruz, Mark Justiniani, Nona Garcia, Rocky Cajigan, dan Rodel Tapaya.