Pameran Aditya Novali Terinspirasi Kisahnya Mendalang di Istana Negara

The interrelation of personal experience, culture, and politics.

 

Galeri ROH Projects kini tengah menghelat pameran tunggal Aditya Novali berjudul “New Obsolescence: ADITYAVOVALI”. Pameran ini adalah hasil evaluasi dan refleksi sang seniman terhadap dokumentasi video arsip yang diambil pada tanggal 17 Juni 1989, di mana ia sendiri bersama dua kelompok penari lainnya diundang untuk melakukan pertunjukan wayang kulit solo di Istana Negara kepada penonton kenegaraan formal.

Menampilkan pieces karya dengan media yang beragam, pameran ini merupakan bentuk upaya penelusuran fondasi estetik dari diri seniman sendiri sambil turut membedah beberapa lapisan situasi geopolitik Indonesia yang kompleks, jejak warisan kolonial, dan kompleksitas sosial yang terpancar pada rekaman Betamax dengan setting tahun 80’an. Rekaman dimulai dengan pembukaan credit title yang memperkenalkan daftar para penampil, yakni paduan suara anak laki-laki Austria dan penampilan Aditya Novali sebagai dalang cilik.

Adegan di scene tersebut menampilkan dua informasi yang keliru. Yang pertama adalah ejaan salah pada nama Aditya Novali – yang dituliskan sebagai Aditya Vovali pada judul rekaman – dan yang kedua adalah orkestra angklung yang tidak disebutkan namanya yang dimainkan tepat sebelum penampilan Novali. Bahkan sedari awal melihat rekaman tersebut, kita seolah disulut untuk menyadari betapa rapuhnya kemampuan manusia untuk merekam kenangan masa lalu secara presisi. Versi yang tidak akurat dari masa lalu muncul dari waktu ke waktu dengan poin-poin penting yang hilang.

Di pameran ini, pengunjung juga akan dihadapkan dengan sebuah layar yang memainkan video hasil ekstraksi dari rekaman Betamax yang menjadi inspirasi utama dari eksibisi sang seniman. Ekstraksi video ini memancarkan glitch natural, dengan tata ambil video yang amat menggambarkan kehidupan di tahun 80’an. Pada ruangan berikutnya, penonton akan menemukan karya-karya mixed multimedia berupa instalasi video yang menampilkan potongan-potongan film yang diambil pada rekaman Betamax tersebut. Karya-karya potongan video ini diatur secara acak dan disajikan dalam bentuk tayangan bergantian yang menghasilkan suasana yang mengundang pengunjung untuk bertanya-tanya.

Proyeksi besar dari gambar tunggal yang menampilkan Novali sedang memainkan peran tokoh wayang di pameran ini membawa pesan tentang bagaimana pertunjukan wayang kulit sebagai sebuah ritual bertahan dalam budaya Indonesia, namun dalam konteks globalisasi dan modernisasi ritual ini menjadi semakin usang dan semakin sulit dipahami. Pameran ini  bisa dibaca sebagai komentar Novali tentang perubahan zaman dan kaitannya dengan keberadaan orang-orang dan budaya.