A charm of the shooting star.
Sejarah pendaratan awak pesawat antariksa di bulan pada tahun 1969 yang melibatkan Neil Armstrong turut melibatkan kehadiran Omega Speedmaster. It was not Armstrong but Buzz Aldrin and Michael Collins wore the timepiece during the Apollo 11 mission. Sejak saat itulah jalinan relasi jam tangan tersebut dengan dunia langit terus terjalin. Kini Omega merilis Speedmaster Moonphase Meteorite.
Koleksi ini menghadirkan kreasi ukuran 43 mm dengan dua pilihan varian. Pilihan pertama memiliki dial dari iron meteorite dalam balutan PVD hitam, sementara pilihan kedua berlapis galvanic grey coating. Pola permukaan dari iron meteorite tersebut berbeda pada setiap produk jam tangan. Versi black PVD coated memiliki bezel dari black ceramic serta material white gold 18K untuk hands dan hour markers. Sedangkan versi galvanic grey coated tampil dengan bezel dari blue ceramic dan bahan emas 18K lapis blue PVD untuk hour markers dan hour-minute hands.
Indikator moonphase terdapat pada angka 6 dan menampilkan 2 cabochon moons yang terbuat dari meteor. Masing-masing menunjukkan siklus bulan di northern hemispheres dan southern hemispheres. Background bintang-bintangnya bahkan diposisikan sesuai malam pendaratan Apollo 11 di satelit bumi tersebut sebagaimana terlihat dari Biel, Swiss (basis Omega). Pada angka 3 terdapat subdial chronograph 12 jam dan 60 menit, sedangkan di angka 9 hadir subdial Small Seconds dengan date display.
Omega khusus menciptakan manual movement baru untuk kreasi ini, yakni Co-Axial Master Chronometer Calibre 9914. Dapat dilihat melalui sapphire crystal pada caseback, movement ini bersifat anti-magnetik hingga 15.000 gauss dan berperforma chronometric sesuai standar Swiss Federal Institute of Metrology (METAS). Speedmaster Moonphase Meteorite dilengkapi dengan polished-and-brushed bracelet yang berteknologi comfort release adjustment system.