OE x Wilsen Willim 3.0, Formulasi Batik untuk Keseharian Modern

Shown at The Langham Fashion Soirée.

 

Lewat kolaborasi bertajuk “Siklus 3.0: A Living Cycle of Everyday Batik”, OE dan Wilsen Willim menampilkan 30 rancangan busana dalam gelaran The Langham Fashion Soirée 2025. Setelah keberhasilan Siklus 1.0 dan Siklus 2.0, edisi ketiga ini mengangkat ide busana keseharian yang light dan versatile untuk berbagai kesempatan. Koleksi tersebut tetap menonjolkan motif kincir angin khas Wilsen hasil teknik batik cap Pekalongan dengan kombinasi warna hitam, putih, merah, hijau, dan biru. Terdiri atas kemeja, jaket, kebaya janggan, celana, rok, korset, hingga dasi, seluruh desain dirancang untuk menampilkan batik dalam formula modern. Koleksi ini dirilis secara eksklusif di store OE di Kemang, Plaza Indonesia, dan Ashta District 8, serta dapat dibeli melalui laman resmi Oemah Etnik.

Sebelum menampilkan koleksi kolaborasi dengan OE, Wilsen Willim juga menyuguhkan karya-karyanya di Plaza Indonesia Fashion Week 2025. Pada perhelatan tersebut, ia mempersembahkan tiga koleksi di show berbeda. Transformasi folding origami yang menjadi ciri khasnya terimplementasi pada nuansa youthful dan light hasil kolaborasinya bersama Dear Me Beauty dan Elima. Pada show penutup PIFW, koleksi berjudul Napas membawa demi-couture treatment yang diaplikasikan pada ragam olahan blazer dengan embellishments, bordir hingga cutout yang dipadu kain wastra Nusantara.

Selain Wilsen, PIFW juga diisi oleh Sejauh Mata Memandang yang merilis koleksi Puspa dengan tone fuschia. Warna alami tersebut dihasilkan dari kayu secang dan ditampilkan dengan siluet membumi seperti kebaya outer bordir, atasan kamisol, kemeja, hingga dressKraton World by Auguste Soesatro di PIFW mengangkat budaya Bali sebagai inspirasi koleksi. Tetap berpegang pada tailoring dalam gaya smart casual, linen parka hingga setelan jas sutra tampil berpadu bersama interpretasi modern kain sarung Bali. Pada ajang yang sama di Plaza Indonesia, Rama Dauhan berkolaborasi dengan local brand 3Mongkis. Kenangan dari gaya seragam mendiang ibundanya mewujud pada ragam busana praktis bersentuhan utilitarian nan tegas.

Sementara itu, Ghea Panggabean melalui lini Ghea Men menerjemahkan motif tenun Borneo dan Sumba pada material yang wearable bernuansa earthy colours. Olahan wastra Nusantara turut diwujudkan Dibba di PIFW yang tergabung dalam Cita Tenun Indonesia. Terinspirasi kejayaan perdagangan laut abad ke-17 hingga ke-19, Creative Director Faishal Shah mengolah tenun lurik dan Garut menjadi siluet-siluet bergaya European yang tampil dramatis dengan elemen maritim seperti ombak, kerang dan ikan. Temma Prasetio menginterpretasi ulang gaya menswear dengan ciri khas adjustable waist, tanpa menanggalkan kesan clean, polished dan modern. Kemudian Mel Ahyar Archipelago dengan koleksi berjudul Tanah Laut mengolah kain sasirangan bergaris lurus dan menjalar menjadi ragam pakaian dekonstruktif dan kontras.