An expression of freedom and personality.
Dalam balutan blus putih beraksen embroidery lebah khas Dior, Yasmin Napper tampil laid-back pada sebuah sofa. Busana berdesain plunging neck-line yang dikenakannya merepresentasikan jiwa koleksi musim ini. Jiwa yang dimaksud adalah Miss Dior, a line from the Maison’s history marking its foray into the world of ready-to-wear in the 60’s. Menggaungkan napas zaman kala itu yang menekankan kebebasan, Miss Dior ciptaan Philippe Guibourgé – asisten Creative Director Marc Bohan – ditujukan untuk menjadi easy to wear pieces. Di tangan Maria Grazia Chiuri, hal tersebut lantas dibuat lebih elevated dengan sensibilitas kontemporer yang mendefinisikan karakter koleksi Dior Autmn/Winter 2024.
Memanfaatkan material gabardine hingga double cashmere, tawaran Dior musim ini mencakup little dresses, pants, coats, jackets, juga skirts dengan potongan di atas lutut. Putih menjadi salah warna yang banyak ditemukan dalam koleksi. Pada sesi pemotretan bersama Yasmin Napper, palet tersebut turut termanifestasi pada padanan sleeveless top dan rok berdesain sleek dengan sedikit permainan golden beads menjulur vertikal yang menambah efek opulence. Di tangannya terjinjing tas Dior Groove warna Dusty Ivory nan cantik bermotif Macrocannage. Tas yang terbuat dari calfskin ini juga dihias dengan leather key holder dengan dekorasi antique gold-finish metal star.
Dalam pose lain, pemain film “Imperfect” (2019) tersebut tampak memegang white and black Dior Book Tote yang pada koleksi musim ini dinamis dengan Miss Dior Allover Embroidery. Padanan aksesori itu ialah jaket dan flare pants material cotton denim dalam warna putih dan berhiaskan Blue Miss Dior Graffiti Motif. Attitude dari look ini secara tepat mewakili ide koleksi yang terkait dengan latar kelahiran lini Miss Dior di masa silam.

Tiap siluet rancangan pada koleksi musim ini adalah bentuk perayaan atas cara berpakaian baru para perempuan pada masa butik Miss Dior dibuka di Paris. Apa yang menyatukan perempuan di era 60’an tersebut dalam hal berpakaian adalah spirit independensi. Chiuri secara spesifik menemukan karakter tersebut di figur Gabriella Crespi, seorang seniman yang menjadi sumber inspirasi Marc Bohan dalam berkarya. Untuk Chiuri, ia adalah simbol generasi perempuan independen, those who are determined to make a name for themselves through their work.
Pada lansekap industri entertainment dalam negeri, Yasmin Napper telah membangun namanya sendiri lewat berbagai karya layar lebar maupun televisi. Saat berbincang dengannya perihal youth dan freedom, yang menjadi jiwa lini Miss Dior dan zaman kelahirannya, sosok kelahiran tahun 2003 tersebut merefleksikan bagaimana generasinya semakin mudah untuk speak up di tengah ruang kebebasan yang begitu luas berkat perkembangan teknologi. Ia melihat bahwa kelompok usia yang dikategorikan sebagai Gen Z punya kepekaan lebih mengenai segala hal yang tengah terjadi. Baik terkait orang lain maupun diri sendiri.
Obrolan mengenai hal tersebut menyentuh perihal situasi kenegaraan yang beberapa waktu lalu sempat genting dan banyak anak muda yang mengekspresikan suaranya secara lantang. Yasmin Napper berpendapat bahwa memang penting bagi pemuda-pemudi untuk turut memikirkan persoalan-persoalan krusial yang terjadi di tingkat pemerintahan nasional. “Aku sadar bahwa sebagian orang-orang seumuran ku tidak terlalu tertarik dengan hal itu, tapi menurut ku penting untuk setidaknya tahu dan mengerti tentang apa yang sedang terjadi because at the end we are the one who have to take care of the country. It’s all in our hands” jelasnya.

Menurut pandangan penggemar Zendaya ini, kepekaan tinggi dari anak-anak muda masa kini terhadap situasi sekitarnya itulah yang luput dari pemahaman masyarakat umum. Alhasil ketika anggota-anggota generasinya kerap angkat bicara berdasar sensitivitas akan isu-isu yang mengusik, aksi tersebut disalahpahami sebagai bentuk sikap self-centered. “In this generation, people my age is more empathetic. Di banding generasi ayah atau ibuku, anak-anak muda sekarang sangat peduli dengan apa yang terjadi di sekitar mereka,” ungkap aktris yang pernah merilis sebuah single pada tahun 2020. Seraya menyatakan pandangan ini, ia menepis anggapan bahwa generasinya mudah untuk menyerah. Baginya, hal itu lebih merupakan karakter personal masing-masing indvidu. “Aku sendiri bukan orang yang gampang menyerah,” tegasnya di sela-sela proses pemotretan.
Continue with the photoshoot, she then sat in red sofa wearing a pretty little black dress with knot accents on its straps. Anggun dengan kreasi-kreasi perhiasan, tampilannya dilengkapi dengan handbag Groove berbahan jacquard motif Oblique. Selama sesi obrolan yang telah berlangsung sebelumnya, ia pun berbagi perihal sense of style. Pelaku industri sinema yang mengaku punya interest dan concern terhadap isu recycling, pendidikan, dan women’s right ini menyatakan bahwa ia menyukai busana-busana dengan cutting yang simpel dalam nuansa chic dan classy. “Aku suka dengan warna-warna cerah, and honestly I’m a type of person who doesn’t like to show too much skin if I don’t need to” tambahnya.
Untuk seorang Yasmin Napper, bukan hanya soal tampilan busana yang mampu membawa senyum kala melihat diri di cermin. Rasa bahagianya bersumber dari kondisi dalam diri. “It’s when I am content with myself, ketika aku melihat diriku sehat, baik fisik maupun mental,” pungkasnya menutup obrolan.