Menengok Kembali Romantisme Kultural Tanah Le Saé

A melancholic bridge between ancestral culture
and queer contemporaneity.

 

Kuartal penutup tahun lalu penuh dengan gempita mode Indonesia dalam beberapa perhelatan besar. Di antara berbagai label yang tampil, Tanah Le Saé bersinar dengan koleksi-koleksinya. Fashion brand yang didirikan pada tahun 2019 oleh duo Denniel Richard dan Andika Wiradiputra ini punya warna karakter yang begitu kuat, di mana romantisme ditumbuhmekarkan dalam mood aneka kultur dan pemahaman gender yang bergerak ke luar dari oposisi biner.

Di Plaza Indonesia Fashion Week silam, rangkaian kreasi Tanah Le Saé (di bawah payung By Pillar) tercipta berlatar sentimentalitas cinta, kehilangan, dan memori. Energi afeksi ini meradiasi pada karya-karya bernuansa melakonlis dengan referensi budaya busana tradisional Nusantara yang membangun atmosfer nostalgia. Familiaritas ditemukan di sana, tapi juga dengan berbagai kejutan yang kesemuanya terjalin lewat manuver-manuver desain.

Kemeja dipertahankan bagian bust dan lengannya, sementara pinggang ke bawah merupakan hybrid siluet kebaya. Referensi motif lurik dari baju Surjan diolah menjadi kemeja bernuansa agak boxy dengan leg of mutton sleeves. Short cape berkancing dengan built-up neckline melapis dress putih beraksen renda. Aksen-aksen dekoratif seperti crochet bunga menguatkan vintage feeling pada look yang tampil.

Satu hal berikutnya yang bold dan unanticipated dari langkah sartorial Tanah Le Saé adalah adaptasi formula kebaya pada menswear. Wujudnya berupa sleeveless top berkancing dengan bagian bawah menyerupai kebaya hias bordir feminin. Varian lain dengan motif paisley dibalut kemeja bercorak sama. Ada dua proses reinterpreasi mode yang sekaligus terjalin pada kreasi tersebut. Pertama adalah injeksi elemen busana daerah ke dalam format pakaian modern, dan yang kedua ialah rekontekstualisasi rancangan feminin ke lemari laki-laki.

That combination is “lethal”. We still can remember how we’re looking them in awe; an impressive idea. Adaptasi rancangan tradisional ke desain kontemporer bukan hal baru. Menerjemahkan aspek mode feminin menjadi potongan bagi laki-laki juga kian lazim dilakukan. Namun, meleburkan formulasi traditional womenswear kepada men’s contemporary pieces merupakan sebuah fashion decision yang audacious mengingat begitu kentalnya logika gender binary dalam kultur perbusanaan adat. Tanah Le Saé unapologetically cross that cultural boundaries. More than just an aesthetic move, it’s an ideological statement on gender.

Bila kerap disebut bahwa Tanah Le Saé merupakan brand yang mengusung konsepsi gender neutral atau genderless, koleksi “Chapter X: Love, Loss, Memory” tampaknya menyuguhkan haluan yang lebih dari sekadar netral gender – as in something that doesn’t show clear gender identity – melainkan queerness. Their designs don’t just redefine masculinity; they open a non-binary space where male biology no longer restricts access to feminine fashion codes.

Echo dari hal ini tergaungkan kembali pada rangkaian rancangan brand tersebut di ajang Jakarta Fashion Week 2026 berjudul “Analogi Jiwa” yang turut menyertakan renda juga perbungaan secara intens. Apakah koleksi-koleksi semacam ini nantinya dapat diapresiasi oleh demografi lokal yang lebih luas – bukan hanya para fashion enthusiast yang sudah akrab dengan bahasa queer – tetap menjadi persoalan pelik di Indonesia. Meski begitu, pendekatan desain non-biner ini terasa penting untuk terus disemai, agar horison masyarakat perlahan meluas mengikuti bentuk-bentuk baru dari ekspresi gender dan tubuh.