Max Mara Fall/Winter 2024 Terinspirasi Sastrawan Belle Époque

The charm of Colette.

 

Truman Capotte membuat sebuah esai berjudul “The White Rose” pada tahun 1970 tentang pertemuannya dengan Colette. Bukan hanya merupakan sastrawan perempuan Prancis ternama, ia juga merupakan seorang jurnalis. Karya-karya editorial dari perempuan kelahiran tahun 1873 itu terbit di Le Figaro, Vogue, dan berbagai media lain. Tak hanya itu, ia juga merupakan seorang aktris, music performer, dan beautician.

Colette was the star of the society which has now become the inspiration of Max Mara Fall/Winter 2024. Dengan ilham tersebut, Max Mara menyuguhkan rancangan-rancangan dengan sentuhan estetika Belle Epoque yang merebak di bagian hidup Colette. Hasilnya adalah rancangan-rancangan yang berjiwa romantis dengan aura Parisian old-glamour dalam kemasan modern.

Pada beberapa pieces, sisi sedikit seduktif mengemuka. Beberapa di antaranya tampil dalam konstruksi peignoirs, pyjamas, teddies dan slip dresses. Sapuan suasana boyish pada koleksi merujuk kepada karakter Chéri di karya Colette berjudul sama. Termasuk di antara rancangan dengan nuansa maskulin adalah officer coats dan cabans. Sementara itu, feminitas memancar lewat broadcloth skirts dan tunic dresses beraksen volants.

Penggunaan dekorasi kristal hitam dan biru memberi percikan kesan glam pada kreasi-kreasi bersiluet geometris, seperti robes-de-chambres. Sebagian coats memiliki konstruksi intriguing karena dikembangkan dari ovoid silhouette era 1910s yang mendapat pengaruh budaya Jepang. Beberapa coats tersebut didesain dengan lengan kimono. Broad knitted band di pinggang hadir fungsional dengan gaya layaknya obi.

Di samping segala style inspiration dari seorang Colette, Max Mara juga menaruh perhatian pada perspektif sang penulis tentang kecantikan. “Beautiful? For whom? Why, for myself, of course,” demikian kata-kata Colette menjadi guiding value dari koleksi Max Mara Fall/Winter 2024.