Matthieu Blazy Definisikan Ulang Chanel Women di Métiers d’art 2026

As Chanel women become a spectrum of luxury.

 

Luxury must be comfortable, otherwise it is not luxury.” Ungkapan Gabrielle Chanel ini diartikulasi secara appealing dalam ragam nuansa oleh Creative Director Matthieu Blazy untuk show Chanel Métiers d’art 2026. Koridor interpretasinya adalah kehidupan yang berjalan di subway New York di mana semua orang lalu lalang dalam cerita kesibukan masing-masing, dan kenyamanan berpakaian menjadi sebuah necessary luxury.

We truly believe that his idea of a subway show would get instant approval from Coco herself if she were still alive. She grew up as a working woman, after all. When she began her millinery work at 21 rue Cambon, taking the Paris Métro must have been part of her everyday routine. The balance of stylishness, practicality, and functionality seems to reflect what Coco meant when she said, “I make fashion women can live in.”

Dari celana berpotongan lebar, atasan yang longgar, hingga dress siluet cenderung lurus, Blazy cermat mengakomodasi hidup perempuan yang berurusan dengan transportasi publik. Lebih dari itu, show Métiers d’art kali ini menunjukkan dua kehebatan lain dari sang creative director dalam kaitannya dengan identitas Chanel sebagai sebuah brand. Dua langkah yang secara signifikan mendefinisikan ulang sosok Chanel women.

Pertama adalah tentang bagaimana luxury termanifestasi dalam kaitan antara mode dan craftsmanship. Gambaran yang begitu melekat dengan koleksi Métiers d’art selama ini adalah serangkaian busana penuh aksen juga ornamen dalam formulasi formal nan berkesan lawas. Yes, those past Métiers formulations were unmistakably Chanel and yet, at the same time, not Chanel at all. During Gabrielle’s era, the House was truly a break from the past, an answer to what women needed at that moment. The Maison didn’t live in nostalgia; it carried a vision for today and tomorrow.

Oleh karenanya, ketika Blazy menurunkan model-model mengenakan denim dengan keindahan ornamental yang crafty tanpa harus tampak extravagant, inilah momen di mana luxury menampilkan magic-nya secara subtle dan tetap grounded. Blazy menawarkan perspektif bahwa kemewahan craftsmanship khas Chanel bisa hidup dalam gaya real keseharian di mana kegiatan yang dilakukan bisa seringan mengudap donat di subway saat hendak berangkat kerja. Blazy has made it possible for the Chanel woman to wear high-craftsmanship pieces in a way that fits seamlessly into daily life. Luxury now breathes through even her most understated outfits.

Further, the Chanel woman is portrayed as a far more diverse persona, as the show makes clear. Tentu saja masih bisa ditemukan sosok-sosok berbalut tweed jacket nan elegan khas Chanel. Akan tetapi, dapat terlihat pula 20s flapper girl dengan gaun fringe bertumpuk yang mungkin baru pulang dari club, figur artsy yang mengenakan coat grafis pop-art layaknya pekerja galeri seni, hingga corporate professional dengan jas oversized bergaya boyish. Ada pula yang meradiasi sisi maskulin dengan biker jacket, tampil laidback memakai wide leg pants berpadanan t-shirt putih, maupun unik dengan rok referensi Art Deco. Beberapa lainnya ultra feminin dengan rancangan gaun variatif berdetail menawan.

Blazy mempresentasikan perempuan Chanel sebagai spectrum of luxury. Mereka punya karakter yang berbeda, mobilitas keseharian yang berbeda, jenis pekerjaan yang juga berbeda. Semua dipersatukan oleh asas kualitas dan kenyamanan yang mendukung performa dan manuver dalam bergerak, baik secara literal di peron kereta maupun metaforis dalam kehidupan; serta sense of style yang mengikutsertakan nilai-nilai craftsmanship ala le19M – from Lesage to Lemarié, Goossens, Maison Michel, Masaro, and Maison Montex – dalam perjumpaannya dengan budaya kontemporer.

Di atas segalanya, satu hal yang penting juga untuk disadari dalam melihat koleksi debut Métiers d’art dari Blazy, maupun koleksi-koleksi Chanel lain, ialah bahwa prinsip kebebasan bergerak dari sebuah rancangan yang diusung oleh sang founder bukan semata tentang konsiderasi ergonomis, melainkan cerminan aspirasi idelogis – walau masih dalam scope terbatas. Di tengah atmosfer penuh ketimpangan gender yang melingkupi hidup perempuan pada masanya, Gabrielle Chanel menyerukan “revolusi” women’s wardrobe yang menantang konsepsi dan restriksi kultural di kehidupan masyarakat tentang bagaimana perempuan seharusnya berpakaian. Sebuah tema yang terus relevan hingga kini, di mana masih banyak perempuan di berbagai belahan bumi yang tak punya kendali penuh akan apa yang bisa mereka pakai  – dan lakukan dalam hidup.