Every soul has the right to live and to be loved.
Terdapat dua perasaan universal di dunia, yakni intimacy dan connection. Di pameran terbaru Museum Macan, dua perasaan tersebut diekspresikan dalam medium seni karya Patricia Piccinini di pameran “Care”. Mengusung identitas karya-karya perupa Australia kelahiran Sierra Leone tersebut, Care juga menampilkan makhluk-makhluk khayali (Chimera) bergaya hiperealistis yang dikemas relevan dengan konteks isu sosial, teknologi dan lingkungan.
Berlatar keilmuan anatomi, spesimen kuno dan patologi di museum medis, Piccinini dalam karya seninya mengaburkan batasan realita dan artifisial lewat konsep hybrid creatures gabungan manusia, hewan, juga makhluk mitologi. Ke dalamnya disisipkan maternal instinct penuh welas asih. Contohnya adalah “No Fear of Depths” yang menampilkan hybrid manusia dan lumba-lumba punggung bungkuk dengan ekspresi penuh kasih yang sedang menggendong patung hiperealistis Roxy, putri dari sang perupa. Karya ini merupakan satir Patricia terhadap krisis ekologi. Satwa yang memiliki kehidupan berkeluarga nan kompleks mirip manusia itu kini terancam punah.
Pada karya “La Brava”, Patricia mengungkapkan ketertarikannya pada tulisan filsuf Donna Haraway mengenai teori tubuh dan feminisme. Rupa sculpture transmanusia futuristis dengan raut wajah ekspresif ini menyimbolkan kepercayaan diri lewat detail bulu mata lentik, rambut panjang, dan kuku merah, namun tubuhnya merupakan adaptasi bentuk sepatu olahraga. Dalam mewujudkannya, ia merujuk pada citra penyanyi sopran Australia Dame Joan Sutherland hingga Diva pop Tina Turner.
Pameran ini juga diperkaya dengan konteks lokal untuk memperdalam relevansi terhadap narasinya. Seperti pada karya ‘The Couple’, di mana situasi rumah tangga dari figur yang ditampilkan mencerminkan lingkungan rumah di Indonesia, dengan perabotan dan barang-barang yang biasa ditemukan di rumah tangga lokal. Pada karya ini sang seniman menjungkirbalikkan narasi dari Frankenstein, di mana pasangan tersebut berlabuh di rumah yang nyaman. Dalam latar ruangan rumah sederhana khas Indonesia, ia mengajak pengunjung untuk berfantasi bahwa semua makhluk dapat hidup berdampingan dan menemukan keberdayaan, cinta juga kepuasan.
Zona akhir pameran ini hadir dalam bentuk space installation bernama “Celestial Field”. Di sini ribuan bunga artifisial mengambil bentuk hybrid menyerupai karang yang memutih, venus flytrap, maupun dua indung telur dengan arah tumbuh berbeda. Patricia membayangkan bahwa instalasi ini merupakan kebun organ sebagai perumpamaan efek dari keajaiban dan kesengsaraan yang ditimbulkan teknologi.
Pameran “Care” yang dikurasi oleh Tobias Berger dibuka untuk umum sampai tanggal 6 Oktober 2024 mendatang. Selama pameran juga ruang khusus anak-anak dan keluarga untuk mengeksplorasi beragam bahasa cinta melalui permainan peran yang interaktif dan penjelajahan ruang. Area Kindred Kinder ini merefleksikan gagasan Patricia Piccinini mengenai kepedulian sebagai naluri alami yang melampaui batasan antar spesies. Pengalaman ini juga bertujuan untuk mendorong rasa ingin tahu, kebaikan, tanggung jawab, dan menerima perbedaan dalam diri anak.