A celebration of love that liberates.
Dari semesta Chanel muncul bentuk modernitas berpakaian yang berlatar narasi cinta. Pada suatu ketika, Gabrielle Chanel meminjam kemeja dan celana dari kekasihnya, Boy Capel. From here, women’s wardrobes across the world began to break free from restrictions – thanks to Coco’s vision of fashion.
Dari cinta hingga kebebasan, Matthieu Blazy membangun sebuah percakapan dengan Chanel untuk melahirkan koleksi pertamanya bagi sang rumah mode. Melalui sesi Resee, Editor-in-Chief The Editors Club melihat langsung bagaimana buah kreativitas artistic director tersebut menandai lembaran baru Chanel.
Material tweed diolah menjadi cropped jacket dan celana tailored berdetail kancing emas. Masculine meets feminine, then strong silhouette meets softness. Kemudian, ada pula kreasi kemeja maskulin warna soft pink bermodel buttoned down dengan detail pearl. Dikreasikan bersama Charvet, the Place Vendôme shirtmaker, pieces ini menjadi penanda langkah minimalis Matthieu.
Matthieu menggarap material knits menjadi kreasi bernuansa sporty. Cotton dibuat menjadi aksen ribbed. Sementara sentuhan art deco – meresonansi interior kediaman pribadi Chanel – diinjeksi ke dalam rupa atasan lengan panjang bersama maxi skirt asimetris yang hadir dalam versi merah dan putih.
Chanel tweed jacket yang ikonis tampil lebih relaks dengan model bahu membulat. Simbolisasi freedom tertuang dalam rupa unfinished treatments pada kreasi midi skirt, coat, hingga dress. Matthieu mengimplementasikan viscose kepada model tweed suit yang menjadikannya lebih ringan ketika dikenakan.
Tas 2.55 klasik mendapat aksi rekonstruksi lewat exposed leather lining. Flower bouquet pada Flemish painting menginspirasi sang desainer untuk mendesain the extraordinary final look skirt. Organza flowers dan feathers pada rok itu dirangkai oleh Chanel master atelier, Lemarié. Awar Odhiang menutup peragaan dengan langkah penuh confidence, bagai menggaungkan kebenaran universal bahwa cinta itu membebaskan.