An extravagant and sexy family of the new Gucci.
Bursa transfer creative directors dari rumah mode ke rumah mode menjadi satu fenomena menarik yang mewarnai panggung fashion global. Ada kalanya, perpindahan tersebut diikuti dengan langkah seorang desainer memboyong keseluruhan DNA desain personalnya dari label lama ke rumah baru. The risk? Some boring repetitive looks. Thank goodness, Demna Gvasalia tak melakukan hal itu pada debutnya di Gucci melalui koleksi kapsul “La Famiglia” yang perdana meluncur di halaman Instagram Gucci beberapa waktu lalu. It’s not like when he dragged Vetements to Balenciaga; he now speaks the new language using the Gucci grammar.
Digital release dari La Famiglia kemudian diikuti dengan sebuah presentasi di Milan Fashion Week yang dikunjungi oleh Editor-in-Chief The Editors Club. Always fascinated by what goes on in Demna’s mind – proven by his ability to transform Balenciaga into something so distinct and powerful – she has been eagerly anticipating his Gucci debut with sky-high excitement. Pada La Famiglia, ia terpesona dengan bagaimana rilisan tersebut dikemas dalam sebuah story-telling yang kuat, di mana tiap look memiliki namanya sendiri; a personality in itself. Termasuk dalam favoritnya adalah La VIP dengan monogram coat dress aksen pussy bow, juga La Drama Queen yang penuh fur.
La Famiglia dimaksudkan Gucci sebagai penanda era baru yang unapologetically sexy, extravagant, and daring. Semua dimanifestasikan dalam estetika yang meradiasi the Gucciness. Don’t think of one specific persona to understand it, because it’s more a set code of style that manifests into a multitude of individual dispositions. Layaknya tiap look bidikan Catherine Opie, masing-masing karakter punya formulasi mode tersendiri, namun mereka semua diikat oleh “pertalian darah” yang terdefinisikan dalam the Gucciness. Mereka memancarkan sensualitas, ekstravaganza, dan keberanian berpenampilan dalam caranya sendiri.
Incazzata bergaya 60’an tampil fiery dengan little red coat. La Bomba hadir bombastis dengan coat bulu motif harimau. Elegansi seorang femme fatale ditemukan pada La Cattiva. Sementara, hura-hura dalam hidup tampak pada Miss Aperitivo nan berkilau berbalut strapless minidress. L’Influencer secara jelas mencerminkan sosok fashion content creator dengan oversized jacket berpadanan miniskirt. Refined Italian elegance diwakili oleh La Mecenate, La Contessa, dan Primadonna yang outfit-nya menyentuh bumi. Kemudian Principino ber-attitude careless dan La Principessa yang flamboyan adalah dua cara berbeda dalam menjadi centre of attention.
Sebagaimana karakter-karakternya, siluet dan material koleksi ini beragam. Dari maksimalis hingga minimalis, dari feathers hingga hosiery garments. Bahkan dalam style serupa sekalipun, pieces pada koleksi ini bisa menghembuskan napas sangat berbeda seturut dengan personality pemakainya. Misalnya underwear model briefs yang berkesan “nakal” pada Bastardo, namun sporty pada Ragazzo. Mungkin yang patut dipertanyakan dari seri stylish akan interpretasi La Dolce Vita ini ialah mengenai penyertaan konsepsi Sprezzatura dalam narasinya. Apakah memang tepat kala Gucci menyebut Sprezzatura sebagai jiwa koleksi seperti diungkap pada penjelasan tertulis? Dalam kamus Italia, Sprezzatura berarti effortless elegance. Bagian mana yang effortless dari serangkaian extravagant looks berpadu tas Gucci Bamboo 1947 atau loafer Horsebit?
Terlepas dari apa yang ada di benak Gucci tentang makna Sprezzatura, La Famiglia adalah sebuah fresh take akan arah Gucci ke depan. Something audacious, non-conforming to trend, and also somewhat humorous – if you remember the Bastardo. Jernih terindikasi bahwa Demna akan menggali arsip-arsip Gucci, seperti terlambangkan oleh foto monogrammed travel trunk yang merujuk pada asal mula rumah mode sebagai sebuah valigeria, serta mengolahnya dalam kosakata relevan masa kini – as can be seen through the L’Inflcuencer. Usai Editor-in-Chief The Editors Club menjelajah La Famiglia, kunjungan ditutup dengan cinematic experience dari film pendek “The Tiger” besutan Spike Jonze dan Halina Reijn. A theatrical film satirising the meaning of family, questioning what the true luxury of having one really is.