Kreasi Denim Perdana Sejauh Mata Memandang

Blue is the new black.

 

Chitra Subyakto, pendiri slow-pace fashion label Sejauh Mata Memandang, sudah lama ingin mengolah bahan denim. Material tersebut merupakan fabric yang timeless dan versatile yang bisa dikenakan dalam berbagai momen. Perwujudan keinginan tersebut akhirnya terealisasi lewat koleksi bertajuk “Tarum” di Jakarta Fashion Week 2024. Untuk pertama kalinya material denim diolah oleh brand tersebut. Bahan yang digunakan dipintal dengan benang hasil pewarnaan alami hingga pemanfaatan material daur ulang dalam proses produksi ramah lingkungan. 

Sejauh Mata Memandang menggunakan Indigofera Tinctoria atau tumbuhan Indigo yang menghasilkan warna biru. Warna alami tersebut diaplikasikan pada tiga jenis benang yakni benang  pintalan manual tangan, benang katun, dan benang daur ulang. Pemintalan tersebut dikerjakan oleh pengrajin mitra sang label di provinsi Jawa Tengah. Khusus untuk benang daur ulang, Sejauh Mata Memandang memperpanjang kerjasama mereka dengan EcoTouch yang sejak tahun 2021 silam menginisiasi program pengumpulan pakaian bekas pakai dan mengolahnya sebagai penguat struktur fabric

Pada koleksi ini, material denim tampil dalam perpaduan gaya unisex dan streetwear namun bernuansa tradisional klasik. Presentasi dibuka dengan oversized t-shirt dengan aksen rumbai benang merah dan pesan bertuliskan “Menolak Punah”. Kaos tersebut berlapis dress renda transparan bermotif tumbuhan bersama denim mini skirt. Ada pula rompi dipadu bersama flare denim pants yang cool.

Denim dungarees mendapat sentuhan aksen patches yang dipadu bersama atasan kebaya dan menampilkan nuansa boyish. Nuansa serupa juga ditemukan pada workshirt jacket dengan multipockets, atasan kemeja denim dan denim shorts nan kasual. Berlanjut kepada rasa feminin, hadir motif dedaunan pada atasan kebaya dan denim maxi skirt berbelahan setinggi paha. Chitra juga merilis kreasi klasik seperti kemeja dan tank top khas label ini.

Aksi patchwork hadir pada kreasi flare pants yang diselipi motif botanical menggemaskan juga kreasi maxi skirt dengan belahan setinggi paha. Presentasi koleksi ditutup dengan parade pesan untuk sadar akan pentingnya memperhatikan lingkungan. Dalam aktivitas ini, poster-poster dibawa oleh ragam aktivis seperti Tiza Mafira, Davina Veronica, Nadya Mulya, hingga Aurelie Moeremans yang bertuliskan “Pukul Mundur Krisis Iklim” sampai “Lapar Mata = Bumi Mati”.