A range of familial fragrances.
Mendekati anniversary satu abad, Fendi menulis kisah baru dengan sebuah perilisan koleksi parfum. Terdiri dari tujuh wewangian eksklusif, masing-masing mengekspresikan jiwa, sejarah, nilai-nilai dan family culture Fendi. “Today, at FENDI, we can readily say that we have explored and used all the senses,“ ujar Silvia Venturini Fendi.
Sejarah Fendi dimulai pada tahun 1925 ketika Adele Casagrande Fendi dan suaminya Eduardo Fendi membuka sebuah fur and leather goods workshop di Roma. Diturunkan dari generasi ke generasi, hingga hari ini kendali kreatif sang rumah mode masih dipegang oleh perempuan-perempuan inspiratif dari keluarga tersebut. Masing-masing kreasi dari lini wewangian baru ini dikreasikan seturut kepribadian anggota keluarga Fendi.
As this is a Fendi line of perfumes, only the finest raw ingredients are utilised to craft the seven fragrances. Di antaranya adalah orange blossom absolute dari Tunisia, bergamot dari daerah Calabria di Italia, patchouli dari Indonesia, iris dari Perancis, vanilla dari Madagascar, serta Atlas cedar – masing-masing dengan konsentrasi tinggi rata-rata 18%.
Parfum “Casa Grande” mengambil namanya dari Adele Casagrande Fendi, matriarch pendiri rumah mode Fendi. Somali myrrh, amber, cherry, leather, vanilla dan tonka bean merangkai wewangian layaknya kulit namun sehangat bulu-bulu. Silvia Venturini Fendi direpresentasikan dengan “Perché No” yang memiliki arti “Why Not” sesuai dengan moto hidup sang perancang. Kombinasi pink pepper, sandalwood, dan balsamic memberikan sensasi comforting bagaikan sebuah memori masa kecil. Memori kecupan seorang ibu diceritakan kembali dengan aprikot, patchouli, dan mawar Damascena di “Dolce Bacio” yang terinspirasi Anna Fendi.
Beralih ke parfum yang dirancang berdasarkan persona anak-anak Silvia, “Sempre Mio” Delfina Delettrez Fendi memiliki kehangatan alami dengan bergamot, cedarwood, dan orange blossom; sementara “Ciao Amore” Leonetta Luciano Fendi memancarkan memori musim panas Mediterania dengan buah ara, orange blossom, dan tonka bean. Kemudian, artistic director Kim Jones mengenang memori masa kecilnya di Afrika melalui notes jeruk tangerine, rosemary, dan oak moss dalam parfum “Prima Terra”.
Untuk koleksi Haute Parfumerie ini, Fendi bekerjasama dengan pembuat kaca termahir dalam mengkreasikan botol refillable bersiluet simpel. Merujuk pada prinsip arsitektur kota Roma, garis rancangan botol yang sculptural dihias dengan lengkungan presisi. Sementara emblem FF hadir pada tutupnya sebagai identitas rumah mode Fendi.