A meeting of modesty, heritage, and modernity.
Tarian tradisional Jawa yang mengisahkan sosok Srikandi membuka panggung Modinity Fashion Parade 2026 yang spektakuler berlatar Candi Borobudur. Show dari label-label di bawah grup usaha Modinity tersebut menjadi dialog antara warisan budaya dan kreativitas kontemporer, yang terinspirasi sosok Srikandi dalam nilai modesty.
Mengusung tema “Infinite Wonders”, sebanyak lebih dari 200 looks dari enam brand berbeda ditampilkan. Model-model melenggok dengan anggun di runway sepanjang 125 meter berlatar warisan budaya UNESCO itu. Sebuah perhelatan besar yang kami saksikan secara langsung.
Brand ZytaDelia membuka presentasi koleksi lewat tema Sculpted Elegance. Siluet alluring berpadu material silky berkilau, dengan detail drapery, drawstring, dan ruffle dalam palet warna deep nan mystical. Turut hadir quilted leather goods, termasuk giant shopper di runway.
Sebagai induk fashion group bernuansa modest, ada Nada Puspita, Calla, dan Benang Jarum yang menghadirkan koleksi Ramadan dan Eid. Nada Puspita menampilkan seri Majestica Raya dalam palet blush pink dan ivory dengan paduan lace, satin, dan crepe, sementara Blooming Eid dan Sweet Eid menonjolkan floral prints serta detail print menyerupai sulaman pada material satin dan linen yang ringan.
Calla yang didirikan oleh Yeri Afriyani pada 2017, tampil quirky memadu inspirasi heritage yang ringan untuk nuansa modesty dalam tajuk Pushpa Raya. Kemeja bersiluet lebar dengan detail lace yang teraplikasi pada midi skirt berpalet light blue tampil ringan dan fun. Ada pula siluet baju kurung yang diimbuhi floral print colorful dipadu bersama kain sarung motif kotak.

Benang Jarum merangkum makna Eid dalam tiga koleksi bertajuk Refined Simplicity for Eid Fitr, menekankan makna kebersamaan keluarga. Marchesa Collection terinspirasi ornamen Maroko dengan nuansa vibrant, Blooming Eid dan The Regal menonjolkan layered floral, motif ornamental dan geometric floral yang lebih formal dengan tatahan kristal berkilau nan elegan.
Rizman Ruzaini, brand asal Malaysia yang bergabung dengan Modinity sejak tahun lalu, menampilkan storytelling koleksi yang memadukan figur princess Ratna Bulan dan Zahd Al-Bahr. Runway dibuka dengan kurung basiba merah cropped dan mermaid skirt berbordir kristal yang regal, sementara detail emas dan kristal menghiasi cropped cape hingga cape gown mewah.
Dalam final sequence, Buttonscarves merepresentasikan modesty dalam terjemahan glamour. Aksi sematan kristal hadir menghiasi atasan cropped lengan panjang beraksen cape asimetris motif monogram khas beraksen drapery. Ada pula feathers yang menghiasi gaun maxi bermotif monogram, cape gown palet deep navy menjuntai yang dramatis, hooded dress a la era 80-an yang diberi aksen drawstring hingga peplum suit palet hitam dengan lapel motif monogram.
Selama presentasi koleksi, music performances menciptakan bonding emosional secara lirik. Katon Bagaskara menampilkan “Yogyakarta” untuk Nada Puspita, Marcell mencairkan suasana dengan “Semusim” dan “Firasat” pada Benang Jarum, sementara Yura Yunita menutup presentasi Buttonscarves dengan “Tutur Batin” dan “Risalah Hati”, berpadu tarian intens dan dramatis. A refined celebration of modesty, modern in spirit, grounded in local pride.