Kilas Desainer: Karl Lagerfeld

An eccentric fashion legend.

 

Semua orang di dunia fashion mengenal namanya. Tampilannya ikonis dengan kacamata hitam, rambut putih yang dikuncir di belakang, kemeja putih berkerah, jas hitam, dan sarung tangan fingerless. Ya, dia adalah Karl Lagerfeld. 

Di karirnya yang menjembatani pertengahan abad ke-20 ke tahun 2010-an, Lagerfeld telah meninggalkan legasinya di Chanel, Fendi, Chloé, Patou, Balmain, dan labelnya sendiri. In this piece, we invite you to take a look back on the life and works of the legendary designer. 

Karl’s Beginning
Lahir pada tahun 1933 sebagai Karl Otto Lagerfeldt di Hamburg, Jerman, ia menghilangkan huruf ‘t’ di akhir nama keluarganya untuk memberikan kesan lebih komersial.  Ayahnya adalah seorang pebisnis Jerman, sementara ibunya adalah keturunan Swedia. Di masa kanak-kanaknya, Lagerfeld sudah menunjukkan minat di dunia fashion, seperti mengumpulkan foto-foto dari majalah mode dan kegemarannya untuk menggambar. Di usia 14 tahun, ia pindah ke Paris dan masuk ke Lycée Montaigne untuk mempelajari ilustrasi dan sejarah. Paris pun kemudian menjadi tempat di mana Lagerfeld menempuh karirnya. 

Pada tahun 1954, di usianya yang ke-21, Lagerfeld menjadi juara pertama di kompetisi French International Wool Secretariat (sekarang dikenal sebagai International Woolmark Prize). Ajang itulah yang membawanya kepada tawaran dari Pierre Balmain untuk menjadi design assistant di rumah modenya. Tiga tahun kemudian, ia menjadi artistic director di Jean Patou. Ia menempuh karir freelance pada tahun 1962, di mana ia mulai berkreasi untuk Chloé dan beberapa brand lain seperti Valentino, Tiziani, dan Charles Jourdan. 

It was Lagerfeld’s work at Chloé that really put him on the map as one of the most innovative designers of his time. Bersama dengan founder Gaby Aghion, ia mendefinisikan seorang “Chloé girl”. Kreasi-kreasi berkarakter bohemian romance menjadi ciri khas karyanya di label ini, dilengkapi dengan bold patterns serta siluet yang ringan dan bebas. Pada tahun 1966, ia mulai memegang posisi creative lead di Chloé. He was in the role until 1983, and returned for another 5 years between 1992 and 1997. 

My dresses are for women who go beyond the obvious… they’re made to transform everyday life into a fairy tale, to create an atmosphere at every moment,” sebut Lagerfeld dalam sebuah wawancara dengan Vogue Paris di tahun 1977. Di antara perempuan-perempuan tersebut, ada Jacqueline Kennedy Onassis dan Brigitte Bardot yang menggemari karya-karya Lagerfeld di Chloé. Pada kreasi-kreasi Lagerfeld, ada elemen escapism namun mereka tetap fungsional dan modern. 

Kesempatan penting lain hadir untuk Lagerfeld di tahun 1965 dari Fendi, sebuah rumah mode yang dikenal akan kreasi bulu-bulunya dan membutuhkan tangan kreatif baru. Di Fendi, Lagerfeld menjabat sebagai creative director untuk fur dan kemudian untuk women’s ready-to-wear. Lagerfeld bekerjasama dengan para anak perempuan keluarga Fendi untuk menghadirkan ide-ide baru yang membesarkan nama sang rumah mode.

Salah satu house codes terpopuler dari rumah mode Fendi sekarang adalah logo FF, dan logo itu merupakan ide dari Lagerfeld. Menurut LVMH Brand Book, logo tersebut merupakan singkatan dari “Fun Furs”. True to that abbreviation, Lagerfeld really did make furs fun during his time in Fendi. Ia mentransformasi bulu menjadi aksesoris, ready-to-wear (lini ready-to-wear sang rumah mode pertama dirilis di tahun 1977), hingga sepatu. Bermain dengan warna dan kreativitas, Lagerfeld bersama dengan keluarga Fendi berhasil mengekspansi sang rumah mode tanpa melupakan asal muasal mereka di bidang leather goods dan bulu-bulu. 

A Chance at Chanel
Sang perancang pun berlanjut untuk bekerja dengan Fendi hingga akhir hidupnya. Akan tetapi, Fendi bukan titik final seorang Lagerfeld. Pada tahun 1983, Lagerfeld dipilih sebagai creative director dari Chanel oleh Alain Wertheimer, chairman dari sang rumah mode.

During that time, Chanel wasn’t the fashion house we know today. Chanel adalah sebuah label yang mulai terlupakan di sejarah. “Everybody said, ‘Don’t touch it, it’s dead, it will never come back.’ But by then I thought it was a challenge.” ujar Lagerfeld dalam sebuah wawancara dengan The New York Times. Tantangan tersebut berbuah manis, karena Lagerfeld kemudian berhasil membesarkan kembali nama Chanel.

Salah satu bukti kejeniusan Lagerfeld dalam karirnya di Chanel adalah bagaimana ia membawa prinsip dan ide Coco Chanel ke era kontemporer. His creations are modern, yet still very Chanel. Ia mengambil hal-hal yang disukai oleh Coco Chanel, seperti kain tweed, little black dress, bunga camelia putih, angka lima, dan kalung mutiara panjang, untuk diolah dalam koleksi-koleksinya. Bergerak dari sana, Lagerfeld menginterpretasi ulang kode-kode tersebut ke audiens modern. 

Salah satu kreasi terpenting Lagerfeld untuk Chanel adalah logo Double C, sebuah simbol yang menjadi ikon baru sang rumah mode. That logo signalled a new era for Chanel, and became a icon of desire. Pada tas, sepatu, pakaian, maupun kosmetik, logo Double C menjadi simbol baru sang rumah mode. Ia mengkreasikan banyak rancangan yang identik dengan Chanel yang kita kenal hari ini, seperti Classic Flap Bag dan sepatu balerina dua warna. 

Lagerfeld juga memiliki sederet muses dari setiap era. Mereka  bisa datang dari dunia akting, musik, ataupun model. His muses had a fierce character, chic visuals, and a strong sense of self. Di tahun 1980-an, Chanel identik dengan Ines de La Fressange. Kemudian pada tahun 1990-an, takhta muse Chanel diduduki oleh supermodel Claudia Schiffer yang menjadi sang ‘Chanel Bride’ sebanyak 11 kali. Dari era ke era, daftar muses itu pun bertambah. Beberapa dari mereka adalah Linda Evangelista, Naomi Campbell, Vanessa Paradis, Kate Moss, Kristen McMenamy, Pharrell, Devon Aoki, Keira Knightley, Penélope Cruz, Margot Robbie, Kristen Stewart, Cara Delevingne, Kaia Gerber, hingga Lily-Rose Depp. To be a Lagerfeld muse is an achievement in itself. 

Di bawah pimpinan Lagerfeld, fashion show Chanel menjadi sebuah pertunjukkan besar. Set megah dan tema unik menjadi elemen-elemen yang membuat orang menantikan setiap fashion show Chanel. Untuk Spring/Summer 2019, ia mengubah Grand Palais menjadi pantai. Pada Autumn/Winter 2015 menjadi kasino di mana para tamu VIP bermain di meja ketika fashion show berlangsung. Di Spring/Summer 2015, runway Chanel berubah menjadi jalanan Paris dengan protes feminis. ‘Chanel Shopping Centre’ lengkap dengan produk-produk supermarket bermerek Chanel “dibuka” pada Fall/Winter 2014. Untuk Spring/Summer 2012, Chanel memperlihatkan sebuah winter wonderland yang dirancang oleh arsitek ternama Zaha Hadid. Fashion show Cruise 2007 digelar di Bandara Santa Monica dengan para model yang masuk ke catwalk dari sebuah pesawat Chanel.

Everything Everywhere All At Once
Pada tahun 1984, setahun setelah ia mulai menjabat di Chanel, Lagerfeld meluncurkan labelnya sendiri, Karl Lagerfeld. Dengan konsep ‘intellectual sexiness’, label tersebut menjadi salah satu dari banyak kesibukkan sang perancang.

Setiap tahunnya, Lagerfeld mengkreasikan rata-rata 14 koleksi untuk semua rumah mode yang ia pegang. Even with all those collections to make, Lagerfeld did more than just designing. Dalam karirnya sebagai desainer fashion, ia mulai mengembangkan passion untuk fotografi. Dalam pembuatan campaign untuk Chanel dan Fendi, Lagerfeld juga berperan sebagai creative director dan fotografer. Ia juga memotret banyak editorial dan sampul untuk majalah-majalah. 

Lagerfeld pernah berkata, “Improvise. Become more creative. Not because you have to, but because you want to. Evolution is the secret for the next step.” Sepanjang karirnya, Lagerfeld tak pernah berhenti berinovasi. Ia tahu bahwa untuk dapat bertahan dan senantiasa relevan di industri fashion, ia harus mencoba hal yang baru. Lagerfeld adalah salah satu pelopor dari kolaborasi high end dengan high street. Di tahun 2004, ia mengumumkan kolaborasinya dengan H&M – a move that will soon be a common norm in the industry. Beberapa kolaborasi lain Lagerfeld adalah untuk Louis Vuitton dalam koleksi “The Icon and the Iconoclasts” serta kolaborasi dengan Magnum, Diet Coke, Adidas dan Pharrell Williams hingga Steinway. 

Kreativitas Lagerfeld merambah ke berbagai media dan proyek. Pada tahun 2004, ia menerbitkan buku ‘The Karl Lagerfeld Diet’ yang membahas bagaimana ia sukses menurunkan berat dalam jumlah banyak dalam waktu 13 bulan. Ia juga merancang rumah di Isla Moda, Dubai dalam sebuah kerjasama dengan Dubai Infinity Holdings (DIH). Ia merancang sebuah koleksi glassware untuk merek Swedia Orrefors. Ia juga menjadi seorang pengisi suara di film ‘Totally Spies! The Movie’

Lagerfeld dikenal sebagai seorang workaholic yang tak pernah berhenti bekerja. “A sense of humor and a little lack of respect: that’s what you need to make a legend survive ” ujarnya. Eksentrisitas karakter sang perancang juga menjadi salah satu bagian dari hidupnya yang banyak mengundang perhatian. Salah satu contohnya adalah dalam hal mengoleksi buku. Perpustakaan pribadinya memiliki ratusan buku yang disusun secara horizontal. 

Di kehidupan asmaranya, ada satu nama yang kerap muncul. Ia adalah Jacques de Bascher, longtime partner sang perancang. Lagerfeld berkata bahwa ia tidak pernah berhubungan secara fisik dengan de Bascher, sementara de Bascher dikenal akan kehidupan seks dan pestanya yang berwarna. De Bascher juga pernah terlibat romansa dengan Yves Saint Laurent. Ketika de Bascher meninggal dunia akibat AIDS di tahun 1989, Lagerfeld menemaninya selama detik-detik terakhirnya. “He was the opposite of me. He was also impossible and despicable. He was perfect,ucap Lagerfeld tentang de Bascher kepada Marie Ottavi, penulis buku biografi de Bascher. 

Lagerfeld memiliki seekor kucing kesayangan bernama Choupette. Sang kucing Birman sebenarnya adalah milik model Baptiste Giabiconi yang menitipkannya ke Lagerfeld ketika ia berangkat ke luar negeri. Pada saat itu, Lagerfeld menyukainya dan ia akhirnya menjadi pemilik barunya. “She is peaceful, funny, fun, and gracious, she’s pretty to look at and has good poise, but her main quality is that she doesn’t talk.” ujarnya tentang Choupette. Nama ‘Choupette’ sendiri memiliki makna ‘si manis’ di Bahasa Prancis. 

Sebagai kucing Karl Lagerfeld, Choupette memiliki gaya hidup mewah. Ia makan dari piring Goyard dengan makanan yang dipersiapkan oleh chef pribadi dan merayakan ulang tahunnya di sebuah private jet. Choupette memiliki dua pembantu, satu supir pribadi, dan seorang manajer sosial media. Ia juga memiliki koleksi kolaborasi dengan Shu Uemura dan merek perabot hewan peliharaan LucyBalu. 

Di depan pers, Lagerfeld kerap memberikan pernyataan-pernyataan witty. Melalui one-liners tersebut juga ia menjadi figur yang kontroversial. Salah satu kontroversi Lagerfeld adalah fatphobia-nya. Ia pernah berkata ke sebuah majalah Jerman bahwa “No one wants to see curvy women.” Lagerfeld juga menunjukkan frustrasinya terhadap gerakan #MeToo. “I read somewhere that now you must ask a model if she is comfortable with posing. It’s simply too much, from now on, as a designer, you can’t do anything,” 

Creative Legacy
I’ve always known that I was made to live this way, that I would be this sort of legend,” ungkap Lagerfeld. Selama hidupnya, ia menjalani hari-hari yang penuh kreativitas dan sensasi.

Sang perancang menutup usia pada tanggal 19 Februari 2019. Pada saat itu, Lagerfeld masih menjabat dua posisinya di Chanel dan Fendi. Koleksi Chanel terakhir yang ia rancang adalah untuk musim Fall/Winter 2019. 

Di balik kontroversi-kontroversinya, mereka yang mengenalnya secara pribadi memiliki mengingatnya sebagai sosok yang lembut. “He was incredibly inviting—insanely, shockingly unpretentious. He liked what he liked because he liked it.” ujar Kristen Stewart, salah satu muse Lagerfeld. Pada caption Instagramnya saat Lagerfeld meninggal, Penélope Cruz menulis, “I will never forget your kindness, your generosity and how much we have laughed together. I will truly treasure those moments forever. You have inspired us in so many ways!

Kepergian Lagerfeld meninggalkan celah besar di industri fashion. Pada tahun 2023, Metropolitan Museum of Art mengadakan eksibisi ‘Karl Lagerfeld: A Line of Beauty’ yang menelusuri karya Lagerfeld di Balmain, Patou, Chloe, Fendi, Chanel, dan labelnya sendiri. At the Met Gala celebrating the opening of the exhibit, stars arrived in looks inspired by the designer, from Chanel tweed creations, his black-and-white uniform, to Choupette costumes. 

Vogue menyebut Lagerfeld sebagai “unparalleled interpreter of the mood of the moment“. Salah satu kekuatan terbesar Lagerfeld adalah bagaimana ia tetap relevan dari satu dekade ke dekade yang lain. Ia pernah mengutarakan ke New York Times, “Everything has changed, and nothing has changed more than the world of fashion.” Lagerfeld benar-benar memahami bahwa untuk bertahan di dunia ini, ia harus senantiasa berinovasi. Keberaniannya untuk mencoba hal yang baru juga terbukti berbuah manis tak hanya untuk kreasi-kreasinya, tetapi untuk personal brand-nya sendiri. 

Satu hal lagi yang admirable dari Lagerfeld adalah bagaimana ia dapat merambah ke berbagai bidang dalam pekerjaannya. Bermula dari merancang busana, Lagerfeld kemudian mempelajari fotografi dan juga memberikan ide-ide untuk membuat sebuah runway show yang berkesan. Work ethic-nya yang hebat juga merupakan salah satu alasan mengapa ia adalah sosok yang inspiratif. You cannot deny that he is in love with what he does and that he works hard in it. Dalam karir 6 dekadenya, Lagerfeld telah menunjukkan bahwa ia adalah seorang multi-talented creative yang menunjukkan bahwa “you can do it all”.