Kilas Desainer: Elsa Schiaparelli

From Paul Poiret to Salvador Dali. 

 

Kylie Jenner dengan gaun kepala singa, Lady Gaga di hari pelantikan Presiden Joe Biden, Bella Hadid dengan kalung raksasa berbentuk paru-paru emas, gaun couture megah yang menjadi topik pembicaraan para warga internet, dan pameran ‘Shocking! The Surreal World of Elsa Schiaparelli’ yang menjadi eksibisi fashion yang harus dikunjungi di Paris. Semua dari itu adalah subjek diskusi yang datang dari kreasi-kreasi rumah mode Schiaparelli. But who and what is Schiaparelli – a designer remembered as Chanel’s rival? For those keen to know further, let’s take a trip back in time to see the story of the Schiaparelli. 

Encouraged by Poiret
Elsa Schiaparelli lahir pada tanggal 10 September 1890 di Roma, Italia. From an early age, Schiaparelli showed interest in obtaining personal freedom and in all things glamorous and bold. Di usia 22 tahun, Elsa berangkat ke London ketika ia mendapatkan sebuah pekerjaan sebagai nanny. Di sana, ia bertemu dengan Count Wilhelm de Wendt de Kerlor, seorang praktisi spiritual mysticism asal Polandia. Tak lama setelahnya, mereka menikah dan Schiaparelli pindah ke rumah keluarga suami barunya di Nice.

Pada tahun 1916, mereka pindah ke New York. Di  sebuah perjalanan kapal dari Prancis ke Amerika, Schiaparelli bertemu dengan Gabrielle Picabia, istri dari seniman Dada Francis Picabia. Pertemanan mereka akan menjadi salah satu kunci dari koneksi Schiaparelli ke dunia seni di karirnya nanti. 

Schiaparelli berpisah dengan suaminya di tahun 1920 setelah ia melahirkan anak perempuan pertamanya. Pada tahun 1922, ia pindah ke Paris dan kemudian membantu Man Ray dengan majalahnya, Société Anonyme. Dari sana, ia bertemu dengan Paul Poiret, desainer revolusioner yang dikenal sebagai ‘King of Fashion’ di awal abad ke-20. Melihat bakat Schiaparelli, Poiret membujuknya untuk mulai berkarya di bidang fashion. 

Schiaparelli pun akhirnya mendirikan sebuah atelier kecil pada tahun 1927 di Rue de l’Université. Momen penting di karirnya sebagai desainer fashion datang di tahun yang sama di mana sweater yang ia rancang dimuat di majalah Vogue. Sweater tersebut memiliki motif pita trompe l’oeil yang memberikan ilusi optik elegan. That item became so popular that it launched Schiaparelli’s career and fashion house to new heights

An Eye for Fashion Innovation
Dari Schiaparelli muncul tren-tren baru, dan beberapa di antaranya juga membawa pengaruh besar ke dunia fashion hingga sekarang. Sebagai contoh, Ia merupakan salah satu perancang pertama yang menggunakan visible zipper di kreasi haute couture dan mengkreasikan wrap dress. Petenis Lilí Álvarez mengenakan split skirt atau jupe-culotte karya Schiaparelli dalam sebuah pertandingan Wimbledon, yang membesarkan nama sang perancang dalam bidang sportswear. Schiaparelli juga merancang aksesoris dengan keunikannya sendiri, seperti Mad Cap yang memiliki elemen surealis.

Desain-desain Schiaparelli memiliki karakter praktikal, seperti sebuah evening dress yang memiliki kantung untuk menyimpan botol minuman.Karakter Avant-garde dan imajinatif pada buah kreativitas Schiaparelli merefleksikan sisi inovatif sang perancang. Pada tahun 1934, ia membintangi sampul majalah Time dan menjadi female fashion designer pertama yang mendapatkan kehormatan tersebut. Di akhir tahun 1930-an, Schiaparelli mempopulerkan warna pink cerah yang ia namakan ‘Shocking Pink’ yang menjadi signature colour dari rumah modenya. Ia juga mengkreasikan beberapa parfum, seperti Soucis, Salut, Schiap, Shocking, Snuff, dan Sleeping. 

If there is one collection to define Schiaparelli’s aesthetic and aspiration, it would be the Zodiac collection from 1938. Koleksi ini mengambil inspirasi dari konstelasi astrologi dan elemen-elemen langit seperti planet, matahari, bulan, dan bintang. Rasi Big Dipper yang menjadi jimat keberuntungan Schiaparelli menjelma menjadi motif embroidery, dan sebuah jubah hitam disulam dengan benang emas untuk membentuk sebuah sunray mask. Her love for extravagant, lavish looks are on full display in this majestic collection.

Di industri mode yang kita kenal sekarang, kata ‘kolaborasi’ sudah menjadi sesuatu yang sering muncul. In that scenario, Schiaparelli was once again a visionary of her time. Bersama dengan teman-temannya di dunia seni, ia menciptakan kreasi-kreasi unik yang menggabungkan dua dunia: seni dan mode. Kolaborator pertama Schiaparelli adalah penulis Rusia-Prancis Elsa Triolet dalam kreasi Aspirin Necklace, sebuah kalung dari manik-manik porselen yang tampak seperti tablet yang menjadi namanya. 

Salah satu kolaborator setia Schiaparelli adalah pelukis surealis Salvador Dali. Pertemuan kreativitas mereka berdua telah menghasilkan berbagai karya ikonis di rumah mode Schiaparelli, seperti Shoe Hat, botol parfum yang berbentuk seperti panel tombol telepon, serta gaun-gaun surealis seperti Tears Dress, Skeleton Dress, dan Lobster Dress. Wallis Simpson, The Duchess of Windsor, salah satu fashion icon pada masa itu, mengenakan Lobster Dress untuk sebuah photoshoot majalah Vogue di bulan madunya. Schiaparelli dan Dali juga berkolaborasi untuk parfum Le Roy Soleil, di mana Dali turut merancang botol dan konsep iklan darinya. 

Kolaborasi Schiaparelli melintasi batasan dunia seni, fotografi, dan mode. Signature piece lain dari Schiaparelli adalah hasil kolaborasinya bersama penyair avant-garde Jean Cocteau. Di bagian belakang sebuah evening coat, tampak siluet profil dua wajah bertemu, dan bunga-bunga mawar merekah di bagian punggung atasnya. Terinspirasi dari fotografi Man Ray, Schiaparelli mengkreasikan sepasang sarung tangan dengan motif kuku-kuku merah. Melalui kolaborasi-kolaborasinya, Schiaparelli memperkenalkan ide-ide fascinating ke dunia fashion. 

An Ending and a Resurrection
Schiaparelli kembali pindah ke New York di tahun 1941 dan menggerakkan bisnis-bisnisnya dari sisi lain Samudera Atlantik. Setelah Perang Dunia II berakhir, ia kembali ke Prancis dan meluncurkan kembali koleksi baru. Di masa tersebut, Pierre Cardin sempat bergabung dengan sang rumah mode untuk beberapa bulan. Pada tahun 1946, Schiaparelli merilis sebuah capsule collection bertema traveling yang berjudul ‘Constellation Wardrobe’. Koleksi itu disebut sebagai salah satu fondasi dari konsep ready-to-wear yang ada sekarang.

Pada tahun 1947, Hubert de Givenchy hadir sebagai creative director dari Schiaparelli sebelum ia keluar untuk mendirikan rumah modenya sendiri.  Awal tahun 1950-an menjadi masa kemunculan banyak inovasi di rumah mode Schiaparelli, mulai dari kreasi tuxedo dress pertama hingga terjunnya sang perancang ke dunia licensing untuk lingerie dan kacamata hitam. Fun fact: the fashion house is also the first one to license sunglasses. Pada era ini, Schiaparelli juga menjadikan oversized jewellery sebagai salah satu signature-nya.

Sang perancang pun turut serta dalam kreasi kostum karakter Zsa Zsa Gabor untuk film “Moulin Rouge” (1953). Akhirnya pada tahun 1954, rumah mode Schiaparelli ditutup dan Schiaparelli menghabiskan sisa hidupnya untuk menulis autobiografinya, “Shocking Life”. Ia menutup usia di tahun 1973. Dalam sebuah obituari di New York Times muncul sebuah kutipan dari sebuah wawancara yang merangkum etos hidup sang perancang: “Dare to be different.”

Bab baru rumah mode Schiaparelli mulai ditulis di tahun 2012 dengan pembukaan kembali butiknya di Hôtel de Fontpertuis, 21 Place Vendôme. Dua tahun kemudian, haute couture show pertama sang rumah mode setelah puluhan tahun diadakan di Paris Fashion Week. Desainer Daniel Roseberry ditunjuk sebagai Artistic Director pada tahun 2019 dan membuka pintu masa depan dari dunia surealis Elsa Schiaparelli.