A lovely softie tailoring.
Pada sebuah zipped outerwear putih, tampak ilustrasi Menara Eiffel dan Gunung Fuji hadir berdampingan dalam bingkai jendela kereta. Ini adalah translasi Nigo yang paling lugas atas referensi show Kenzo Fall/Winter 1998. Saat itu, gelaran mode desainer Kenzo Takada mengambil tema Orient Express di mana keretanya melalui destinasi-destinasi lintas negara. Termasuk di dalamnya adalah Turki, Yordania, dan Mongolia. Pada show Kenzo Fall/Winter 2025, sang artistic director memanifestasikan ide perjalanan antar-wilayah itu sebagai cultural cross-pollination pada desain-desain kreasinya. This time, he takes a rather sweet approach on the tailoring.
Rancangan-rancangan preppy yang berasal dari olahan arsip Nigo diinjeksi dengan napas kontemporer yang lebih kawaii atau cute. Contohnya sisipan ungu muda pada lapel dan hem sebuah jas, atau pink yang mendominasi varian jas lainnya. Selain aksen-aksen powdery pastels, tekstur yang fluffy turut menambah nuansa cuteness pada beberapa karya. Bombers dan work jackets pun hadir dalam palet nan soft. Sementara boxy utility jackets dibuat lebih vibran bermaterial mohair.

Unsur budaya Jepang terlihat pada penempatan kerah kimono di kreasi-kreasi jas maupun potongan kimono pada waistcoats. Japanese denim trousers tampil dengan turn-ups yang memperlihatkan selvedge. Pachinko atau mesin slot game Jepang dari memori masa kecil Nigo dihadirkan dalam rupa grafis pada textured knitwear. Sementara itu, Kenzo Weave yang berasal dari pola lantai Jepang ditempatkan diekspresikan ke dalam denim dan tailoring. Motif stripes yang ditampilkan terinspirasi oleh pemandangan luar jendela kereta yang tengah melaju di mana semua hal tampak melebur jadi garis-garis.
Koleksi Kenzo Fall/Winter 2025 juga menjadi wadah bagi sebuah kolaborasi dengan Futura 2000 yang adalah kawan dekat Nigo. Seniman graffiti Amerika ini membuat berbagai imagery dan iconography untuk koleksi ini. Futura yang memiliki ketertarikan pada outer space – sebagaimana Nigo – menciptakan motif variasi atom juga boke flower Kenzo. Seniman tersebut juga menghadirkan logo Kenzo yang dibordir pada shearling varsity jacket.
Melengkapi ready-to-wear, serangkaian aksesori disuguhkan merefleksikan commuter lifestyle. Tas-tas kulit mengambil bentuk bottle bag, packed-lunch bag, baguette folder, flower folder, delivery tote bag, dan shopping bag. Gaya preppy koleksi ini ditopang oleh topi sekolah Jepang juga sepatu Mary-Janes bahan leather. Ekpresi subkultur yang menjadi karakter Nigo ditampilkan dalam round-toe-creepers maupun boots. Nuansa lebih formal ditemui dalam rupa spectator shoes dengan sole ringan untuk kenyamanan. Untuk kesempatan lebih kasual, muncul kembali Dome sneakers dalam material mohair serta suede.