An expression of hope and strength in the apocalyptic time.
As Vincent Pressiat’s “Echo” Fall/Winter 2024 was shown in JF3, it serves a clear comprehension of why Maison Margiela, Saint Laurent and Balmain once had him among their team. He injects a seductive elegance a la Yves but intensifies it, pours generous amount of glam like Rousteing’s Balmain yet avoiding too much of bling, and speaks the spirit of poetic peculiarity by Galliano’s Margiela. Above all his designs radiate his own fierce and energetic attitude.
Koleksi yang berhasil ditampilkan JF3 berkat kerja sama event ini dengan Kedutaan Besar Prancis melalui Institut Français Indonésie (IFI) menjadi echo atau gema akan proyeksi Pressiat perihal mode di realita nan chaos. For him this world is full of absurdity leads to an apocalyptic implosion. Through his fashion lens, it is in the clothes that we should chant our mantra of hopefulness showing the soul of a warrior in its lines and cuttings. Konsep ini ia wujudkan dalam kerangka timelessness dalam prinsip circular fashion di mana deadstock dioptimalkan.

Gaun putih yang bagian bawahnya transparan menunjukkan siluet jenjang kaki membuka show layaknya serangga yang terbang riang tapi juga penuh kesigapan. Ini yang menjadi perspektif menarik dari alumni l’Ecole de la Chambre Syndical de la Haute-Couture tersebut. Dalam imajinasi akan keruntuhan dunia, ia tak membiarkan kegembiraan dilucuti, namun justru diadvokasi. Hal itu sekaligus dilakukannya dengan memutus asosiasi antara formulasi satu warna dengan pemaknaan emosi. Seperti yang ia utarakan di Youtube channel resmi Paris Fashion Week, “It’s not because you wear colour, you are happy.”
Bahu yang dipertegas muncul dalam kreasi tailoring yang dikenakan Ichsan Rindengan di mana sisi boxy dibaurkan sengan kesan sharp. Drama – something that he loves – mewujud pada gigantic lapel pada sebuah long coat, ataupun lewat penggunaan faux Mongolian fur yang membawa romansa vintage glamour pada desain kontemporer. Baik pada little black dresses maupun long black gowns, garis-garis asimetri membangun mood yang daring pada elongated silhouette dengan pengaplikasian teknik-teknik lingerie corsetry.
Dalam material wool, lycra, vinyl, jersey, leather, shredded sequins dan silk, Echo adalah ekspresi provokatif untuk menjaga excitement dan fighting spirit dalam menghidupi dunia yang terus tergerus oleh problem-problem krusial. Koleksi yang telah tampil di Paris Fashion Week pada Februari lalu ini mendapat komentar positif dari Jean-Paul Gaultier. “It’s amazing, he’s very talented. What more can I say,” ucap desainer legendaris yang duduk di front row dari show label kelahiran era Covid 2021 tersebut seperti dikutip dari halaman Women’s Wear Daily.

Dengan keahliannya meracik busana, bukan berarti Pressiat mampu mulus berjalan di industri mode. Berbagai tantangan ia hadapi sebagai seorang desainer yang belum lama menelurkan eponymous brand. Saat menjadi partisipan SPHERE, showroom di Paris Fashion Week untuk mendukung emerging designers garapan Fédération de la Haute Couture et de la Mode, pada musim Fall/Winter 2023, ia berbagi perjuangannya kepada halaman Vogue Business. Salah satunya adalah perihal kompetisi dengan nama-nama yang sudah lebih dahulu dikenal. “I think buyers and suppliers want brands that are well known, that people buy because of the name. I totally understand,” ungkapnya di situs tersebut.
Meskipun demikian, ia memegang sikap optimis bahwa produk akan menemukan pasarnya sendiri. “I hope this season things start to change. At the end of the day, there will always be people who want to buy beautiful, expensive things,” ujar sang desainer kepada media di bawah naungan Condé Nast itu. Seperti diutakan kepada Vogue Business, ke depannya Vincent Garnier Pressiat berharap bisa mengembangkan porsi penjualan direct-to-consumers yang hingga tahun lalu mencakup 15 persen bisnisnya. “I’d really like to expand e-commerce and find someone who knows how to manage marketing,” harapnya.