Gajah Gallery Pamerkan Artworks Bertema Kolonialisme di Asia Tenggara

An act of liberation through contemporary art. 

 

Gajah Gallery Singapore akan menghelat pameran “Customised Postures, (De)colonising Gestures”, sebuah major group show yang dikurasi oleh sejarawan seni Dr Alexander Supartono. Eksibisi ini akan berlangsung mulai 19 Januari hingga 18 Februari 2024. 

“Customised Postures, (De)colonising Gestures” melibatkan partisipasi seniman-seniman kontemporer, termasuk yang berasal dari Indonesia. Para seniman tersebut adalah Abednego Trianto, Aris Prabawa, Ashley Bickerton, Benedicto Cabrera, Budi Santoso, Handiwirman Saputra, Jao San Pedro, Kiri Dalena, Mangu Putra, Redza Piyadasa, Robert Zhao, Rudi Mantofani, dan Suzann Victor. 

Menggabungkan fotografi era kolonial dengan seni kontemporer, eksibisi ini membuka diskusi interkonektivitas antara praktek fotografi di Asia Tenggara pada masa kolonial dengan praktek seni kontemporer di daerah tersebut. Melalui fotografi, dapat terlihat bagaimana negara-negara Asia Tenggara memiliki relasi kolonial yang sama terhadap kondisi politik, ekonomi, dan sosial. Contohnya adalah postur dan bahasa tubuh para subjek kolonialisme. 

Mulai dari lukisan, pahatan, ilustrasi, fotografi, hingga instalasi multimedia, kreasi-kreasi kontemporer di eksibisi ini menunjukkan adopsi dan adaptasi dari fotografi-fotografi tersebut di masa sekarang. Para pengunjung dapat mengamati bagaimana tradisi di Asia Tenggara berkembang dan bermutasi, membebaskan dirinya dari masa lalu kolonial mereka.

Suzann Victor dengan medium lensanya “membebaskan” para subjek fotografi di foto-foto migran Singapura yang digambarkan secara tidak manusiawi. Sementara itu, Robert Zhao menggunakan AI untuk mengembangkan kisah bagaimana buaya terakhir di Katong, Singapura, ditangkap. Kemudian, Abednego Trianto mendiskusikan gestur-gestur lembut yang mengekspos perjuangan para perempuan Jawa melawan budaya patriarki yang opresif.