A loud expression of counterculture.
Potongan klip-klip dunia maya yang dibuka dengan “hi guys” mengawali show Future Loundry sebagai penutup rangakain perhelatan mode JF3. Bagi brand yang berbasis di Bali tersebut, satu benang merah yang direpresentasikan oleh kolase video itu adalah kebisingan penuh ironi. Ekspresi reflektif akan noise tersebutlah yang menjadi substansi voice dari serangkaian rancangan berjudul “Deepscroll Healing”.
Kombinasi berbagai referensi subkultur dituangkan ke sekitar 50 looks yang tampil. Di antara rujukan-rujukan tersebut, mode dari genre Gabber terasa menjadi jiwa utama. Olahan baggy pants dengan rupa-rupa aksen, atribut, motif, dan keramaian warna hadir mendominasi dalam semburat suasana sporty, bak tengah berparade menuju lantai hakken dance. Tak mengherankan bila kesan ini tercipta. Ican Harem, founder Future Loundry, juga merupakan musisi dari duo EDM, Gabber Modus Operandi.
Seturut dengan aliran musik yang tumbuh di Belanda pada era 90’an itu, di mana unsur-unsur distorsi dan dark tones menjadi kekhasannya, koleksi Deepscroll Healing tampak dikembangkan diseputar nuansa tersebut. Cross referencing dunia musik dan gaya modenya diarahkan pada cabang-cabang yang masih beririsan. Dari belahan Eropa hingga ke sisi Karibia.
Napas punk pada outfit perempuan membawa sisi daring nan sensual lewat desain yang revealing, seperti penggunaan mesh fabric. Sentuhan gothic termanifestasi pada Victorian sleeves dalam sebuah atasan perempuan berwarna merah. Helaian dress dengan aksen kerut di bagian bawah maupun lengan membawa feel of reggae dengan palet Rastafarian. Metal and Hip Hop is everywhere.
Injeksi kejenakaan dalam pemaknaan sosio-ekonomi bisa ditemukan pada kalimat-kalimat di beberapa pieces koleksi yang dibawahi oleh artist-designer Manda Pinky. “Bless Pay Later” pada sebuah tank top biru mampu menyulut senyum kritis tentang bagaimana fenomena “bayar-nanti” itu seolah merupakan solusi meski sesungguhnya sekadar mata rantai baru dari eksploitasi kapitalisme. Subkultur, musik, fashion, dan kritik sosial adalah jalinan perlawanan pada sistem kuasa nan korup.
Hal itu menjadi guidance of interpretation dalam menelaah apa maksud disertakannya wajah Yesus di beberapa karya. Sosok kunci dari teologi Kristiani tersebut dikisahkan meradiasi spirit surgawi yang menentang kelaliman. Dalam sejarah musik rok, figur fenomenal ini juga menginspirasi berbagai kreasi. Salah satu yang sangat terkenal adalah rock opera “Jesus Christ Superstar” di dekade 70’an yang bermula sebagai concept album, di mana bagian-bagian yang dinyanyikan karakter Yesus diisi oleh suara lead singer Deep Purple, Ian Gillan.
Dalam membuat koleksi Deepscroll Healing, brand kelahiran 2019 yang berbasis di Bali ini juga mengangkat konsiderasi lingkungan. Sebanyak 70% material yang digunakan merupakan bahan bekas yang diperoleh di pasar Kreneng, Denpasar. Bahan-bahan reject dari produksi massal ritel juga diolah kembali menjadi karya-karya busana. Di dalam show, simbolisasi akan hal tersebut termanifestasi pada kehadiran dua tukang permak keliling.
Show koleksi yang menyertakan desainer Toton Januar dan Wilsen Willim sebagai model catwalk ini semakin mengukuhkan posisi Future Loundry sebagai rising label dalam ranah street style. Dengan Rich Brian sebagai salah satu kliennya, Future Loundry telah memasuki pasar Tokyo, Amsterdam, Singapura, dan Berlin.