Fendi Fall/Winter 2024, Pertemuan Subkultur London dan Budaya Roma

Putting emphasize on utility (and the cuteness of Chupa Chups).

 

Semakin lama semakin terlihat perbedaan antara perempuan Fendi ciptaan Karl Lagerfeld dengan versi Kim Jones. Di tangan Jones, sosok perempuan Fendi bertransformasi dari yang semula berkesan outgoing, fun, dan punya sisi childish, menjadi seorang yang tampak beraura reserved dan sedikit quirky berbalut independensi juga sedikit misteri. Mungkin ini ada kaitannya dengan latar belakang sang creative director yang berasal dari Inggris. Koleksi Fall/Winter 2024 rancangannya cukup kuat meradiasi British attitude yang jadi semakin menarik karena ditempatkan dalam rujukan desain Romawi. It’s like seeing an abstraction of traditional Roman clothing silhouettes infused with British spirit.

Penanda budaya Roma yang lebih literal terlihat pada grafis patung-patung kuno yang hadir di beberapa pieces. Contohnya patung Bunda Maria khas Katolik Roma yang menghias dress, skirt, dan turtleneck sweater. Ketiga kreasi berwarna hitam tersebut hadir dalam siluet yang lugas dan sederhana. Sebuah kontras antara tradisi Italia dan gaya subversif ala British yang memang sengaja disuguhkan pada koleks ini. Bisa terasa pada karya-karya tersebut sapuan nuansa Blitz Kids, yakni mereka yang di era 70’an-80’an datang ke night club Blitz di London dalam rumpun gaya subkultur New Romantics.

I was looking at 1984 in the FENDI archives. The sketches reminded me of London during that period: the Blitz Kids, the New Romantics, the adoption of workwear, aristocratic style, Japanese style,” ucap sang creative director. Aspek lain yang dimasukkan Jones pada koleksi ini adalah utility. Untuk hal ini, ilham datang dari memorinya tentang pertemuan pertama dengan Silvia Fenturini Fendi. Ia mengingat kala itu Silvia Fenturini mengenakan utilitarian suit nan chic menyerupai safari suit. “That fundamentally shaped my view of what Fendi is: it is how a woman dresses that has something substantial to do. And she can have fun while doing it,” ungkap Jones.

Knitwear didesain sleek dalam silk ribs. Dresses didesain dengan pendekatan hybrid antara tailleur dan flou. Kreasi-kreasi shearlings dan leathers menunjukkan kekuatan artisanal Fendi lewat pemanfaatan high-shine waxed finishes, Agugliato needle-punched process, hingga intarsia. Sementara itu selleria stitching yang menggarisbawahi keahlian Roman master saddlers dihadirkan pada leather riding boots, aksesori Chupa Chups lollipop holder (fun fact: logo permen ini didesain seniman surealis Salvador Dali), dan pada karya-karya perhiasan Delfina Delettrez Fendi yang menggabungkan metal thread hardware dan leather.

Tas-tas rancangan Silvia Venturini Fendi juga mengutamakan utilitas. Embellishment disingkirkan dan konstruksinya dibuat lebih soft. Leathers warna natural mendominasi versi baru dari Peekaboo, Baguette, dan By The Way. Pada show koleksi ini diperkenalkan tas baru satchel Simply Fendi dan shopper Roll. Seturut dengan aspek utilitasnya, tas-tas tersebut bisa dikenakan dengan berbagai macam cara.