Eugene Museum Bali Pamerkan Karya Kolaborasi bersama Issey Miyake

Showcasing a dialogue between visual art and experimental fashion.

 

Seniman Eugene Kangawa secara perdana akan memiliki museumnya sendiri di Bali. Pembukaan dari Eugene Museum tersebut dijadwalkan pada musim panas tahun ini. Inisiatif untuk membangun museum tersebut datang dari komunitas kolektor seni yang tersebar di seluruh Asia. Para pecinta hasil karya Kangawa tersebut ingin agar artworks ciptaannya memiliki rumah permanen sehingga bisa dinikmati sepanjang tahun.

Kangawa lahir pada tahun 1989 di New Jersey, Amerika Serikat. Ia merupakan seniman kontemporer berdarah Jepang yang dikenal dengan karya-karya instalasi juga lukisan-lukisan berskala besar. Pendekatan konseptualnya dalam berkesenian berupaya untuk mengorkestrasi lingkungan yang didasarkan pada fenomena alam dan hukum fisika. Pada tahun 2016, Kangawa mendirikan Eugene Studio, sebuah studio yang berbasis di Tokyo yang didedikasikan untuk riset, pengembangan, dan produksi karya-karyanya. Saat berusia 32 tahun di 2021, ia menjadi seniman termuda yang menghelat eksibisi tunggal di Museum of Contemporary Art Tokyo.

Eugene Museum akan berdiri di Tabanan, Bali. Berada dekat UNESCO World Heritage, museum ini akan menampilkan lebih dari 15 lukisan dan instalasi permanen karya Kangawa. Dirancang oleh arsitek ternama Indonesia, Andra Matin, Eugene Museum akan menempati lahan seluas lebih dari satu hektar. Tata ruang museum dibuat dengan tetap melestarikan pepohonan yang ada. Sementara fasadnya menggabungkan batu bata terakota yang dibuat tangan oleh perajin lokal; menciptakan harmoni antara seni dan alam.

Sebesar 5 ribu meter persegi di museum tersebut didedikasikan untuk bangunan dan fasilitasnya, yang mencakup lebih dari 15 ruang galeri. Salah satu hal menarik yang bisa Anda coba di museum ini adalah overnight accommodation program. Program ini memungkinkan Anda sebagai pengunjung untuk menginap di lokasi dan menikmati karya-karya Kangawa seiring bergantinya cahaya senja (di luar jam kunjungan reguler).

Dari berbagai artworks yang ditampilkan, satu di antaranya merupakan hasil kolaborasi dengan clothing label A-POC ABLE ISSEY MIYAKE. Berbeda dari label pakaian pada umumnya, A-POC ABLE ISSEY MIYAKE mengembangkan material-materialnya sendiri untuk produk-produknya. Pengembangan material tersebut dilakukan berdasar ide-ide dan metode-metode unik hasil eksplorasi tim. Hasil akhir produknya diklasifikasi berdasarkan jenis proses yang dilaluinya. Contohnya adalah produk Type-O yang menggunakan teknik Stream Stretch untuk menghasilkan bentuk pleats 3D beraneka ragam. Sementara Type-P berisi produk-produk dengan corak hasil printing berlapis.

Label busana eksperimental itu memiliki platform kolaborasi bernama Project Types, di mana mereka menggandeng para profesional lintas bidang untuk mengeksplorasi pembuatan material kain. Pada proyek Type-XIV lah, A-POC ABLE ISSEY MIYAKE berkolaborasi dengan Kangawa. Kolaborasi keduanya berbasis pada karya Kangawa berjudul “Light and shadow inside me (2022–)”. Karya itu merupakan kelanjutan dari “Light and shadow inside me (2021–)”; sebuah karya yang memantik pengembangan konseptual oleh desainer A-POC ABLE ISSEY MIYAKE, Yoshiyuki Miyamae.

Karya yang lebih awal dengan warna greenish-blue adalah lukisan yang dibuat dengan melipat kertas yang sudah dicat dengan cat air menjadi bentuk polyhedral, dan kemudian dipaparkan kepada sinar matahari selama beberapa minggu, yang selanjutnya dibuka lagi lipatannya. Sementara, karya selanjutnya merupakan photograms hitam-putih yang cara pembuatannya sama dengan karya sebelumnya, namun memanfaatkan silver-gelatin photographic paper. Kertas tersebut dilipat di ruang gelap dan mendapat ekspos cahaya hanya dari satu sumber.

Lukisan yang dihasilkan dari kedua praktik tersebut dimaknai sebagai representasi eksistensial, di mana tiap hal – termasuk manusia – secara inheren mengandung light dan shadow. Oleh A-POC ABLE ISSEY MIYAKE, makna dari karya tersebut dinterpretasi ulang via medium kain. Tim clothing label tersebut menerjemahkan visi artistik Kangawa ke dalam kain gradasi dari hitam ke putih yang dicapai sepenuhnya melalui variasi kerapatan weaving; dan bukan dengan pewarnaan.

“Saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Mr. Miyamae dan tim A-POC ABLE ISSEY MIYAKE atas kolaborasi yang penuh perhatian dalam menerjemahkan visi artistik saya ke dalam kain. Filosofi Issey Miyake yang berpusat pada manusia sangat selaras dengan karya saya, terutama dalam mengeksplorasi tema-tema eksistensi,” ungkap Kangawa. Karya dari A-POC ABLE ISSEY MIYAKE akan bisa Anda nikmati bersama kreasi-kreasi lain Kangawa di Eugene Museum, Bali. Selain pameran, museum ini akan turut mengembangkan program sosial yang bekerja sama dengan  komunitas lokal, mitra regional, dan lembaga pendidikan di seluruh Asia untuk menyelenggarakan  lokakarya, ceramah, dan acara-acara lainnya.