Eksplorasi Kultural Iwan Tirta dalam Kudapan Sore St. Regis Jakarta

A refined and well-thought light bites rich in cultural elements.

 

“I love Halston who, without cutting a piece of material, could make a dress, and I love Yves Saint Laurent, who had a certain flair and was also an intellectual,” ucap Iwan Tirta kepada majalah Time di tahun 2009. Mozart, Beethoven, dan Bach adalah beberapa nama dari wilayah musik yang ia sebut menginspirasi.

Berbeda dari gambaran yang mungkin terbentuk di benak banyak orang tentang sang Maestro Batik – probably as a traditional artist whose world revolves solely around Javanese culture – Iwan Tirta sesungguhnya adalah seorang connoisseur kultur lintas negara. Perjalanan hidupnya turut diisi oleh paparan kebudayaan Barat. Salah satunya melalui jalur pendidikan. Dari US ke UK, bangku studi di Yale dan London School of Economics membangun horison apresiasi kulturalnya yang kaya. Tentu saja, influence dalam negeri seperti pelukis Raden Saleh dan sastrawan Pramoedya Ananta Toer juga memainkan andil besar.

Cerita-cerita personal nan menarik akan selera lifestyle dari sosok bernama asli Nusjirwan Tirtaamidjaja tersebut – termasuk klub favoritnya di New York – kami dengar dari Widiyana Sudirman, CEO Iwan Tirta Private Collection, pada sebuah sore di The St. Regis Jakarta. Antusiasme mendengar kisah-kisah itu berpadu dengan eksplorasi eksperimental dari perkawinan nuansa Western classics dengan kuliner Nusantara dalam bentuk set afternoon tea di The Drawing Room. Benang merahnya adalah bahwa kudapan-kudapan itu terinspirasi oleh perjalanan hidup Iwan Tirta. All are excellently conceptualised and executed by the Executive Pastry Chef Kevin Lee for the sweet and Chef Almatino Gabriel for the savoury.

Satu yang punya background story menarik di antara kue-kue yang tersaji adalah Tiramisu. Saat mendatangi meja kami, secara attentive Chef Kevin menyarankan untuk menikmati tiramisu di urutan pertama. Technically speaking, sarannya diperuntukkan agar kreasi bersapu rasa Java coffee beans tersebut disantap selagi masih dalam prime condition dan belum meleleh. Lebih menarik lagi, menyantap tiramisu di awal ini nyatanya juga berkaitan dengan kebiasaan dari Iwan Tirta. Murid dari pembatik legendaris K.R.T Hardjonagoro atau Go Tik Swan itu percaya bahwa bila tiramisu sebuah resto terasa enak, maka menu-menu lainnya juga pasti enak. Tercantum dalam menu card adalah kutipan perkataanya yang berbunyi, “When I go to a restaurant, I always try the tiramisu first. If the tiramisu is good, everything else will be too.

Sebagai amuse bouche, bola bitterballen dengan kandungan daging tersaji dalam piring terpisah. Merupakan penghargaan terhadap salah satu snack favorit Iwan Tirta – atas pengaruh budaya era Dutch colony di awal hidupnya – menu ini mendapat reinterpretasi tim The Drawing Room berupa penggunaan mozzarella lokal dari Yogyakarta. Tak lama kemudian, tier tiga tingkat ditempatkan di meja dengan masing-masing kreasi menampilkan pesona unik sebagai Western-Indo fusion. Ketika braised duck dan bumbu hitam ala Madura terkunyah dan sensasi juiciness daging nan kaya bumbu terasa di mulut dalam garingnya pastry cup, we crowned this as our favourite.

Sajian-sajian gurih lainnya tak kalah mencuri perhatian. Oleh Chef Almatino, kroket didekonstruksi; vegetable ragout yang aslinya merupakan filling, ia bawa keluar untuk diapit oleh lempengan olahan kentang yang turut menyertakan bahan tempe. Di kreasi lain, nasi kuning dikompresnya menjadi bentuk silinder dengan rasa gurih yang berasal dari kombinasi turmeric rice itu sendiri dan ayam beserta serundeng. Kudapan bernama Mozaic menyertakan bumbu gulai pada campuran lobster dan salmon terinspirasi batik pesisir yang digarap Iwan Tirta. Sementara itu, cita rasa selat solo tampil unik dengan balutan edible gold. Masakan tradisional Solo ini mengambil ide dari masa di mana Iwan Tirta mempelajari tarian Bedaya Ketawang di Keraton Kasunanan Surakarta.

Cooking maneuver dari Chef Kevin juga sophisticated dan exciting. Rasa dadar gulung lengkap dengan steamed coconut ia sematkan sebagai bagian dari choux pastry éclair. Tart nuansa klepon hadir dengan hint masam segar dari mangga arumanis. Mereferensi penggalan hidup Iwan Tirta di New York – there he worked at United Nations headquarters after obtaining law degree – Chef Kevin mengolah cheesecake dengan twist ketela rambat dan nangka. Irisan lapis legit cantik melapis palm sugar mousse dan pandan jelly yang merujuk pada es cendol. Ada pula talam yang oleh Chef Kevin diinkorporasi pada konsep mille-feuille. Di kreasi ini, coconut jelly dan pandan cream ia tempatkan di sela-sela tiga keping buckwheat sable.

Dengan padanan pilihan-pilihan teh di The Drawing Room, momen afternoon tea dengan kolaborasi spesial ini menjadi treasure distingtif yang amat disayangkan bila Anda lewatkan. Semakin istimewa, untuk setiap pemesanan afternoon tea package bertajuk “A Journey in Layers” ini, Anda akan mendapatkan exclusive voucher dari Iwan Tirta Private Collection. Kolaborasi afternoon tea dari The St. Regis Jakarta dan Iwan Tirta Private Collection dalam rangka merayakan Kemerdekaan Indonesia tersedia hingga 12 September 2025.