The elite who opposes elitism.
Ketika kerah tinggi dan bowtie muncul berulang pada show Dior Men’s Summer 2026, jelas tercermin bahwa sosok yang menjadi protagonis dari kisah debut Jonathan Anderson di rumah mode ini ialah para aristokrat. Akan tetapi, mereka bukanlah para patrician yang memuja kemapanan dengan kode-kode sartorial berlandaskan tujuan pencitraan demi segala privileges-nya. Jiwa mereka muda, jujur, bebas dan membebaskan. Hal itu tampak pada pakaian mereka yang berpijak pada keseharian dengan elemen-elemen non-conformist.
Jas mereka merujuk pada Bar Jacket ikonis yang tentu saja memiliki bagian panggul cembung feminin. Anderson jelas membelot dari norma tailoring tradisional yang rigid akan identitas gender. Lekisologinya secara lugas menyatakan bahwa feminitas bukan batasan maskulinitas, namun aspek yang mampu co-existing untuk sebuah ekspresi diri. Rekontekstualisasi serupa juga ia lakukan terhadap arsip-arsip Dior lainnya, mulai dari permainan layers ala dress Delft (1948), draping asimetris dari Caprice (1948), dan konstruksi gaun La Cigale (1952). Semuanya tertuang pada kreasi celana.
Anderson sukses dalam misinya untuk “decoding the language of the House in order to recode it” sebagaimana tertuang dalam penjelasan koleksi. Dari manuver pola hasil adaptasi kode-kode tersebut, archival aspects Dior memiliki napas baru sebagai pembangun sosok laki-laki yang arty dan culturally rebellious. They are the elite who opposes elitism. Kesenangan mereka dalam the art of dressing bersifat spontan dan tulus, di mana vibe muda-mudi kontemporer yang artistik diinjeksi ke dalam rancangan dengan referensi keanggunan masa silam.
Rujukan Rococo – salah satu era favorit Monsieur Dior – dan kultur British termanifestasi pada kelembutan palet pastel serta ragam komponen bernuansa regal. Dari tailcoat dan waistcoats abad 18-19, maupun detail kancing hingga embroideries. Menandai sisi intelektual, laki-laki Dior di show ini membawa Dior Book Tote berhias sampul buku; termasuk di antaranya adalah “Les Fleurs du Mal” edisi Saint Pères karya Charles Baudelaire, dan “In Cold Blood” besutan Truman Capote.
Penasaran publik akan “inagurasi” Anderson di Maison Dior terjawab sudah. Dalam langkah pertamanya, sang desainer telah membuat sartorial statement nan esensial di tengah segala hiruk-pikuk mode yang dipenuhi oleh pembangunan citra artifisial (dan bahkan superfisial). Layaknya dua lukisan Jean Siméon Chardin di abad ke-18 pada show Dior yang menyorot objek keseharian, Jonathan Anderson mengembalikan fashion ke dalam kesenangan sehari-hari dengan pancaran aristorkatik yang artistik disertai sikap kultural untuk menantang batasan peradaban.