Dior Men’s Fall/Winter 2024, Berangkat dari Keindahan Balet

Including the first couture collection for men.

 

The beauty of ballet seems to enchant Kim Jones. Ini ada kaitannya dengan sosok Colin Jones sang paman. Dalam perjalanan karirnya, penari balet yang kemudian beralih profesi menjadi fotografer itu pernah diminta Time Life pada tahun 1966 untuk mendokumentasikan satu hari dalam hidup Rudolf Khametovich Nureyev. Penarit balet asal Uni Soviet ini kemudian berteman dengan paman Jones. Juga terkait dengan figur penari Margot Fonteyn yang merupakan dance partner Nureyev, sang creative director merancang koleksi Dior Men’s Wear Fall/Winter 2024.

Here it is a meeting of the dancer’s style with that of the Dior archive,” ucap Jones perihal koleksi ini. Perspektif tentang kontras antara onstage dan backstage, performance dan reality, juga haute couture dan ready to wear diaplikasikannya dalam mendesain. Here comes the surprise: the house’s first men’s couture presented alongside the ready to wear. Benang merah dari kedua koleksi adalah ide pengembangannya yang bermain seputar dunia balet yang ditranslasi dalam karakter kreatif Dior sebagai sebuah rumah mode.

Tailoring ala Yve’s Saint Laurent yang ia desain selama bekerja untuk rumah mode Dior diadaptasi ke dalam format maskulin. Fokus reinterpretasinya adalah aspek volume, pleats, dan necklines. Sementara Bar Jacket kreasi sang founder kini ditampilkan dalam versi laki-laki yang dipadu motif oblique kreasi Jones. Sang desainer juga memperkaya feel koleksi dengan adopsi spirit 60’an dan 70’an yang termanifestasi pada karya-karya single-breasted padu flared trousers. Di sinilah attitude seorang Nureyev sebagai dancer dapat terasa, sebagaimana juga pada zipped wool jumpsuits, ribbed knits, dan duffle-inflected outerwear.

Kreasi-kreasi couture koleksi ini menyeruakkan suasana flamboyan dan elegan dalam kombinasi dengan sisi antik dari Nureyev – ia adalah pengoleksi antique textile. Kim Jones mewujudkannya dalam rupa kimono yang dibuat menggunakan hand techniques oleh master craftsmen di Jepang. Kreasi silver uchikake kimono dengan hikihaku weaving technique melibatkan 10 orang dan memakan waktu 3 bulan untuk pembuatannya. Item ini dihadirkan berdasar kimono yang dimiliki oleh Nureyev. Termasuk juga di rangkaian couture adalah versi maskulin dari Debussy Dress yang dirancang Dior pada tahun 1950 dan dikenakan oleh Margot Fonteyn.

This collection sparks the magic of Ballet.