Dior Haute Couture F/W’24 Leburkan Nuansa Sporty di Siluet Feminin

The beauty and the strength of Greco-Roman Goddess.

 

Ditutup agar tak “memancing” atau ditelanjangi untuk memuaskan. Demikian ringkasnya kisah perempuan dan tubuhnya dalam sejarah. It’s all in history as in his story. Lebih tepatnya, bagaimana tubuh perempuan diatur bergantung pada sudut pandang laki-laki (heteroseksual), bukan oleh perspektif perempuan itu sendiri. Buah pembungkaman jelaslah perlawanan. Gerakan-gerakan feminisme yang terjadi sepanjang peradaban meneriakkan, “Women Freedom Now”!

Tulisan tersebut menyambut tamu-tamu show Christian Dior Haute Couture Fall/Winter 2024 dalam rupa eksterior ruang presentasi. Inskripsi dalam grafis segitiga itu diadaptasi dari karya seni buatan American artist, Faith Ringgold, yang pada April lalu berpulang dalam usia 94 tahun. Di koleksi kali ini, Maria Grazia Chiuri menempatkan ekspresi perjuangan sang seniman ke dalam bidang olahraga berkenaan dengan api Olimpiade 2024 yang akan berkobar di Paris.

For Maria Grazia Chiuri, this défilé represents an extraordinary opportunity to combine couture and sportswear with classicism, rebellion, collective energy and, above all, the political value of the female body,” demikian penjelasan yang diberikan dalam rilis pers koleksi ini. Memang merupakan sebuah momen yang tepat bila keterkaitan antara tubuh perempuan dan olahraga – seturut dengan penyelenggaraan Olimpiade Paris – diambil sebagai titik berangkat pengembangan koleksi, Pasalnya, Paris adalah saksi sejarah paritisipasi perdana perempuan dalam beberapa cabang-cabang olahraga Olimpiade tahun 1900.

Hasil peleburan antara dunia haute couture dan rujukan olimpiade di koleksi ini tampil memukau dengan napas kultur Greco-Roman dalam desain-desainnya. Siluet-siluet seperti patung-patung dewi Yunani menjelma dalam material yang light dan flowy. Sebagiannya berskema one shoulder. Draping menjadi elemen dominan yang memperkuat keangguan gaun-gaun sutra. Feminitas semakin teradiasi lewat embroidery yang disematkan. Beberapa kreasi tampil semarak melalui penggunaan frills.

Berada di balik gaun-gaun adalah tank tops transparan nuansa metalik. Jersey yang umumnya dianggap bukan bagian haute couture justru diolah Chiuri menjadi lebih terelevasi dalam rupa metal mesh putih, silver, dan emas yang ditopang inner bustier ultra ringan sehingga memberi struktur. Kreasi-kreasi tanpa lengan di koleksi ini sebagiannya tampil meradiasi tema dengan kesan sporty yang kuat berkat garis leher dan bukaan lengan. Berpadanan alas kaki gaya gladiator, perempuan-perempuan haute couture ini tampak memancarkan fighting spirit dan strength yang powerful layaknya petarung Romawi.

Di tengah kesuksesan Chiuri dan tim yang menyuguhkan rangkaian impresif, ada satu hal yang mengusik untuk ditanyakan. Dalam latar apresiasi akan inspirasi dan tema pengembangkan koleksi, di manakah bisa terlihat keberagaman bentuk tubuh peremuan dalam show ini? Di kala tubuh perempuan diadvokasi dalam proses pembuatan rancangan-rancangan, diversitas female body itu sendiri tampak tak terepresentasi dalam peragaan busana. Ketika koleksi Dior Haute Couture kali ini bicara lantang soal tubuh perempuan dan olahraga, sungguh janggal bila tak terlihat sisi atletis yang umumnya dimiliki oleh atlet-atlet perempuan.

Momen Dior Haute Couture kali ini harusnya bisa dimanfaatkan secara maksimal untuk melawan narasi umum perihal perempuan dan feminitas, membongkar cara pandang tentang apa yang membuat sesuatu feminin, memberi konsep tandingan akan kecantikan tubuh perempuan yang selama ini diseragamkan oleh berbagai pihak, termasuk industri fashion itu sendiri dengan segala advertising yang diproduksi. Apakah Chiuri dan tim tak terpikir tentang hal ini? Ataukah hal itu sudah diajukan tapi tak lolos persetujuan pemimpin-pemimpin Dior? Well, the industry still has a long way to go…