Creative Director Ian Griffiths Ungkap Pemaknaan Jas Olimpia Max Mara

For the remarkable women of today.

 

Ketika Ian Griffiths bergabung dengan Max Mara selepas lulus dari Royal College of Art pada tahun 1987, rumah mode asal Italia itu sudah mapan dengan pieces ikonis. Salah satunya adalah coat 101801. Bertumbuh bersama label, tantangan untuknya bukan sekadar menciptakan kreasi ikonis lain, melainkan bagaimana terus menghidupkan spirit brand dalam mendukung kehidupan perempuan.

Berdiri sejak tahun 1951 oleh Achille Maramotti, Max Mara tak cuma memadukan kultur industrial Amerika dengan budaya tailoring Eropa, tapi juga menerjemahkan men’s camel coat untuk menjadi bagian dari lemari pakaian perempuan. Lewat keputusan sartorial-nya, rigiditas simbolisme otoritas yang melekat pada sebuah staple piece laki-laki pun terdisrupsi. Ruang ekspresi mode perempuan meluas ke kode-kode desain yang untuk sekian lama hanya bisa diakses oleh laki-laki. For the rest of history, perjalanan Max Mara adalah kisah perayaan atas pencapaian kaum perempuan profesional yang berkorelasi dengan sense of authority dari outfit-nya.

Melengkapi rancangan-rancangan ikonis brand tersebut – dari coat Manuela, Ludmilla, hingga Teddy Bear – Griffiths pada tahun 2024 merilis jas Olimpia yang didesainnya. Jas berforma double-breasted berbahan camel hair dan juga berpalet camel ini perdana diperlihatkan pada show Fall/Winter 2024. Apa cerita di balik penciptaan jas tersebut? Bagaimana kehadiran jas oversized siluet lurus dengan bahu lebar ini meresonansi sosok remarkable woman yang menjadi tag line dari campaign-nya? Berikut ini adalah wawancara The Editors Club dengan Creative Director Ian Griffiths mengenai jas Olimpia.

Achille Maramotti membuat sebuah breakthrough ketika ia menerjemahkan mantel laki-laki ke dalam lemari pakaian perempuan, sebuah konsep yang kini telah menjadi hal yang biasa untuk banyak item “maskulin” lain, termasuk jas. Apa yang membuat jas Olimpia begitu signifikan sehingga diluncurkan pada momen ini?
Outerwear is almost an architectural object, and a cornerstone of the wardrobe; it has to be just right because everything revolves around it. Pendiri Max Mara, Achille Maramotti, memahami hal ini dengan baik, sehingga sejak awal, ia memberikan perhatian khusus pada potongan mantel dan jas Max Mara. Jas Olimpia sendiri sangat istimewa, sebagaimana pemakainya – yakni mereka yang meninggalkan legasi, hidup berdasar values, dan senantiasa fokus mendefenisikan diri alih-alih mengejar kesempurnaan yang mustahil. Jas ini adalah life armour yang menguatkan pemakainya. It frames your character, meningkatkan confidence, sehingga membantu untuk mencapai sebuah gol.

Some women, regardless of age, social class, or physical appearance, command attention when they walk into a room – bukan karena mereka outlandish, eksentrik, atau flamboyan, tetapi karena mereka elegan, sleek, dan understated. Mereka memiliki ‘wow’ factor, but it’s a ‘wow’ uttered under the breath. A quiet ‘wow’. Perempuan seperti ini kini menjadi tipe klien kami. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk memperkenalkan sebuah ikon yang didedikasikan untuk mereka.

Dapatkah Anda jelaskan beberapa aspek teknis dari jas Olimpia? Fitur atau elemen khusus apa yang jadi highlight dari jas ini?
Jas Olimpia terbuat dari camel hair drap murni yang ringan dan sangat lembut saat disentuh, namun dengan struktur firm yang tak mudah berkerut. Tidak hanya merupakan serat yang sangat lembut, bahan camel juga secara natural bersifat termostatis, menjaga suhu tubuh tetap konstan. Siluet jas ini cukup longgar untuk memastikan kebebasan bergerak, dengan bahunya yang lebar diseimbangkan oleh potongan lurus. Double-breasted closure, yang merupakan epitome dari tailoring, dapat dibiarkan terbuka untuk tampilan yang lebih santai. Dibutuhkan 90 langkah untuk membuat jas ini. It takes time for a remarkable jacket like Olimpia to be made!

Jas Olimpia, yang merepresentasikan heroine dalam diri setiap perempuan, adalah bagian dari koleksi Fall/Winter 2024 yang terinspirasi oleh Colette. Bagaimana Anda melihat hubungan antara kiprah seninya dan female leadership di masa kini?
Colette sangat luar biasa pada masanya, ketika sangat tidak biasa bagi seorang perempuan untuk menggapai apa yang ia raih. Karyanya tidak hanya dinilai sangat berkualitas tetapi juga sangat populer – ia menjadi penulis best-seller sekaligus akademisi. In other words, she was highly influential at all levels and was able to shine a light on the deprivations commonly faced by women. Saya rasa ia adalah Margaret Atwood atau Patricia Highsmith pada zamannya. Melalui seni mereka, para perempuan ini telah mengungkap ketidakadilan dan dengan demikian meningkatkan kesempatan bagi generasi-generasi berikutnya.

 

I don’t think that a woman needs to dress as a man in order to be taken seriously

 

Ketika merancang jas Olimpia, apakah Anda memiliki figur tertentu dalam pikiran? Sosok seperti apa yang Anda proyeksikan mengenakan pakaian ini?
I have an image in my mind of a young woman in the big city, keeping everything together admirably. Dia menguasai pekerjaanya, biasanya selangkah lebih maju, tetapi juga menjalani kehidupan sosial dan keluarga. Mengantar anak-anak ke sekolah, jalan-jalan dengan peliharaan, mempersiapkan meetings; dia melakukan semuanya and always looks good. Dia tidak terlihat sempurna, dan sadar bahwa kesempurnaan adalah ilusi. She is remarkable because of this understanding.

Tagline dan campaign jas Olimpia adalah “Forget perfection, you are remarkable.” Bagaimana Anda mendefinisikan remarkable woman di zaman modern ini?
Dari masa ke masa, banyak perempuan akhirnya berjuang sepanjang hidup untuk mencapai konsep kesempurnaan yang unattainable. Merupakan sebuah tanda intelligence untuk bisa memahami hal tersebut, to understand that perfection is unattainable. Jadi, kecerdasan, kemandirian, dan kepercayaan diri adalah karakteristik dari remarkable woman.

Meskipun merupakan hal progresif bahwa banyak elemen dari lemari laki-laki telah diadaptasi untuk perempuan, hal ini juga bisa dilihat sebagai jebakan potensial – menyiratkan bahwa otoritas seorang perempuan hanya dihargai ketika ia mengenakan gaya pakaian maskulin. Apa pendapat Anda tentang hal ini? Do you believe society is ready to respect women who wear dresses as much as those who wear pantsuits or jackets?
That’s one of the best questions I have been asked in a long time; the fact is that I don’t think that a woman needs to dress as a man in order to be taken seriously. Seorang perempuan bisa berotoritas dengan mengenakan rok atau gaun, but she needs to avoid anything fussy. Lebih lanjut, kami semakin sering melihat laki-laki mengenakan mantel dan jas Max Mara. Seperti kita tahu, pieces tersebut awalnya dipinjam dari lemari pakaian laki-laki, tokens of masculine power and authority. Akan tetapi sekarang Max Mara menjadi “pemilik” kode-kode tersebut dan laki-laki “meminjamnya” kembali. Sebelum ini, yang terjadi selalu sebaliknya, yakni perempuan yang “meminjam” dari laki-laki. It’s the first instance that I have ever come across in the history of fashion where the flow is from female to male.