Chanel Cruise 2022, Cocteau dan Poetic Punk

A collection with light’s characteristics. 

 

Destinasi koleksi Chanel Cruise kali ini adalah Carrières des Lumières (Quarries of Light) di Les Beaux-de-Provence, sebuah lokasi bekas pertambangan batu kapur yang difungsikan kembali sebagai ruangan seni. Lokasi tersebut telah digunakan oleh seniman Jean Cocteau untuk filmnya ‘Testament of Orpheus’. Film tersebut, pribadi unik Cocteau dan karya-karya seninya, beserta persahabatannya dengan Gabrielle Chanel, menjadi insiprasi Creative Director Virginie Viard untuk presentasi koleksi ini. “Ultimately, through her friendships, it is Chanel, the woman, that I love more and more: her life gives us access to characters just as extraordinary as herself.” ujar Viard. 

Koleksi ini bisa dideskripsikan sebagai koleksi yang grafis. Konsep cahaya kegemaran Cocteau dan Chanel diekspresikan melalui kontras hitam dan putih yang kuat, seperti shirt-dress panjang berwarna putih dengan jubah macramé hitam, atau tweed jacket putih bertabur embellishment emas dengan little black dress dari velvet dan leather. Kedua sisi tersebut juga bertemu dalam satu kreasi, seperti pada sebuah cropped black blazer dengan kerah putih atau dress lengan panjang dengan balutan tweed yang mengambil bentuk bagaikan papan catur. Terinspirasi dari film Cocteau, Viard bermain dengan konsep rock dan menggabungkannya dengan style 1960’an di koleksi ini. And what makes a poetic punk wardrobe? Elemen fringe, leather, sequin, t-shirt dengan wajah sang idola, kalung besar ala dog collar, dan sepatu Mary Jane berwarna perak. 

Pertemanan antara Gabrielle Chanel dan Cocteau merupakan sebuah koneksi kreatif yang unik. Cocteau menggambar untuk Chanel, dan Chanel merancang kostum-kostum untuk film “Antigone”, “Orpheus”, dan “Oedipus Rex” karya Cocteau. Mereka juga kerap menghabiskan waktu bersama di apartment legendaris Chanel di Rue Cambon. Chanel menghias space tersebut dengan karakter-karakter bestiary yang kemudian menjadi ikon rumah modenya: singa, sphinx perempuan, rusa, hingga merpati. That curious lineup also became one of Viard’s references for the season. Mereka bertransformasi menjadi print dari salah satu motif punk, atau menghiasi jaket tweed putih sebagai jimat keberuntungan. 

Evocations of Cocteau’s ink meets Chanel’s sentiments of modernity, resulting in a collection with such an artistic groove to it.