Her way of living eco-friendly life.
Nama Sonia Eryka tentu tak asing di telinga fashion enthusiast Indonesia. Berawal dari aktivitas style blogging, kini ia telah menjadi fashionpreneur dengan brand Kasmaran Indonesia. Tak hanya excited dengan dunia fashion, ia pun menerapkan prinsip eco-living dalam kesehariannya, termasuk perihal personal style. Beberapa waktu lalu The Editors Club mewawancara Eryka terkait fashion dan eco-living.
Apa yang menjadi konsiderasi ketika pertama kali memutuskan untuk hidup secara eco-friendly?
It was never a sudden decision or commitment, but it was more like how I have been living with, a value taught in my family, just without the name ‘eco-friendly’ attached to it. Saya pikir sedari kecil sebagian kita diajarkan untuk hanya membeli hal-hal yang dibutuhkan, merawat apa yang kita miliki alih-alih merusaknya dan membeli yang baru. Hal-hal ini adalah main principles dari hidup eco-friendly.
Apa tantangan dalam menemukan produk yang tepat untuk mengakomodasi prinsip eco-living?
Saya bukan tipe orang yang begitu picky. Bagi saya, ini lebih mengenai memaksimalkan apa yang sudah saya punyat. When it comes to industries where our individual decision can affect the environment directly, like fashion, saya mencoba utuk selalu lebih conscious dan mendukung smaller brands dibanding koroporasi-korporasi besar yang diketahui kurang ethical atau kurang sustainable.
Bagaimana Anda mengekspresikan dukungan pada bumi melalui style Anda?
Saya mencoba untuk selalu outspoken tentang sustainability in fashion melalui style saya. Dari awal saya menulis blog, saya konsisten menulis maupun melakukan styling terkait secondhand items, barang-barang yang saya jahit sendiri, dan small and local brands. I also try to show what’s normal but seems to be stigmatized in the era of Instagram, misalnya memakai atau mengunggah outfits yang sudah dipakai di media sosial lebih dari sekali. There is never going to be a perfect, flawless way to be eco-friendly, but there is always better decisions we can choose.

Tell us about your favourite thrifted items.
Each thrifted item is special to me; I can always remember the story of when, why, and where I got it from. Terkait pertanyaan ini, item pertama yang muncul di pikiran saya adalah electric blue knitted sweater aksen sequins yang saya dapat ketika thrifting di Tokyo. Embroidered vintage Dior blazer, smocked denim pants, dan and heeled doc mart ini juga menjadi favorit saya. I compiled more of my favorite thrifted items with the stories on #sustainablesozo on instagram.
You’ve just welcomed your firstborn, will you teach her about the sustainable lifestyle? If yes, how do you plan on doing that?
I think I will teach her just how my parents have taught me; untuk hidup secara minimalistik, menghindari excessive lifestyle atau unnecessary purchase, merawat apa yang sudah dimiliki, dan membuat mindful decisions.
Bagaimana brand Kasmaran Indonesia yang Anda dirikan mewakili prinsip eco-living Anda?
Alasan pertama saya menciptakan Kasmaran adalah karena saya cinta dengan bagaimana batik dan kain tradisional Indonesia lainnya dibuat. Instead of season-based collection, we mindfully design each piece to be multi-wear and styled differently. Karena dibuat secara lokal, memerlukan proses handmade dan waktu berhari-hari untuk membuat sebuah kain, brand ini memiliki proses produksi yang jauh lebih lambat dibanding fashion brands besar dengan siklus lebih cepat sehingga menghasilkan dampak lebih sedikit untuk lingkungan. Kami juga mencoba berkesperimen dengan proses dan material yang lebih ramah lingkungan di tiap produksi.
Bagaimana alam menginsiprasi Anda?
Alam menginspirasi saya dalam banyak cara. Living close to nature now I feel privileged to extend my 24-hours day into a longer, slower day. Satu jam di alam terasa lebih lama dibanding satu jam dalam suasana sibuk. Nature inspires me to be slow, to rest and just be, to live without any pressure to be productive.