Bally Fall/Winter 2024, Mistisisme Pegunungan Swiss di Perspektif Mode

The sirens of Engadine.

 

Sekilas apa yang ditampilkan Simone Bellotti untuk koleksi Bally Fall/Winter 2024 tampak seperti lahir dari referensi rationing era 40’an. Itu adalah masa di mana industri mode terdampak oleh kebijakan efisiensi dalam berbagai aspek karena dunia tengah dilanda perang. Vintage office looks dengan garis-garis yang sleek yang sebagiannya berpalet army adalah contohnya. Akan tetapi, kreasi-kreasi tersebut juga punya twists menarik, sama halnya dengan inspirasi di baliknya.

Catchy things pada koleksi ini terilhami oleh kultur natif Swiss di mana mistisisme pegunungan mendasari dongeng-dongeng tradisional wilayah tersebut. Salah satunya adalah tentang kisah mermaid di danau-danau Engadine. Ekor sang siren menjelma menjadi bentuk-bentuk lengkung pada pieces koleksi. Bagian pinggangnya dikopi langsung ke beberapa kreasi rok. Sementara itu, siluet-siluet cocooning yang terlihat merupakan rujukan kepada treicheln bell, yakni lonceng yang dikenakan oleh sapi-sapi di padang rumput.

Rangkaian warna natural dengan sisipan Swiss red berpadu dengan penggunaan ragam tekstur. Shearling, waxy leathers, dan alpine jacquard knits dirangkai bersama wool halus, draped satin, maupun corduroy. Rancangan-rancangan dengan deep pockets tersebut dipadankan dengan rangkaian Bally’s heritage footwear. Sepatu Plume hadir sebagai lace-up bootie, mary jane Glendale tampil studded, sementara derbies dan block-heeled boots berskema oiled leathers.

Pada ranah tas, buckled satchels, briefcases, and zippered carry-alls dibuat dari monochrome calfskin. Slouchy shoulder bag dikonstruksi dengan leather sole yang biasa digunakan pada Sepatu Bally. Bersamaan dengan presentasi koleksi ini juga diperkenalkan Bally Zine Number One. Majalah mini ini berisi karya-karya baru buatan seniman Swiss Beni Bischof. Sebanyak 24 halaman dari collectible zine tersebut menggambarkan inspirasi kultural dan artistik dari rancangan-rancangan koleksi Bellotti.