Say yes to beauty diversity.
“I am an entrepreneur, but I am a Black woman first and that undoubtedly influences everything I create. I know what it is not to see yourself represented and not to have a seat at the table,” ungkap Pat McGrath kepada majalah Allure beberapa tahun lalu. Merupakan sebuah hal yang patut untuk dirayakan dan dibanggakan bahwa komitmen sang Dame kini mendapati sebuah platform yang secara simbolik mencerminkan perubahan cara pandang dunia tentang kemanusiaan. Dirilisnya rangkaian kreasi perdana Pat McGrath selaku Creative Director La Beauté Louis Vuitton mengukuhkan upaya progresif di ranah industri kecantikan untuk lebih inklusif dan berkesetaraan.
Tidakkah menakjubkan melihat figur dari golongan yang oleh politik dibentuk sebagai budak pada sejarah masa lalu peradaban, kini mampu menduduki kursi leadership prestisius di sebuah luxury brand Eropa? First Pharrell and now Pat, it’s another victory for Vuitton. Tentu saja hal ini bukan berarti bahwa pimpinan kulit putih tak mungkin untuk punya pemahaman mumpuni tentang equality, inclusivity, dan diversity. Akan tetapi, penunjukkan people of colour pada posisi strategis menjadi sebuah simbolisasi nan vokal akan aspek representasi, serta memperbesar kesempatan bagi lahirnya output yang mengakomodasi keberagaman dalam tone kesetaraan yang inklusif, karena hal tersebut tak lepas dari penghayatan personal dari sang pemangku jabatan.
Perihal itu kian krusial di industri kecantikan yang telah sekian lama didominasi oleh sebuah standar diskriminatif. Dalam sebuah artikel Pop Sugar, Pat menceritakan bahwa ibunya dulu bahkan memakai bubuk cokelat dari dapur untuk makeup wajah karena tak ada shade yang sesuai di pasaran. Kini, sang makeup artist yang fenomenal atas look wajah pada show Margiela Artisanal itu telah memegang kemudi. La Beauté Louis Vuitton menawarkan 55 pilihan warna lipstik untuk berbagai pigmen kulit. Angka itu juga merupakan terjemahan “LV” dalam penomoran Romawi. Sebanyak 27 di antaranya memiliki karakter creamy satin, sedangkan 28 lainnya adalah velvety matte.

Perona bibir LV Rouge tersebut diformulasi oleh upcycled wax dari mawar, melati, dan bunga mimosa. Diperkaya shea butter dan hyaluronic acid, lipstik ini hadir dengan kenyamanan yang tahan lama serta warna yang tetap jelas selama 12 jam pemakaian untuk matte finish, dan 24 jam untuk satin finish. Menariknya, rangkaian pemulas bibir ini mendapat infuse wewangian karya Master Perfumer Jacques Cavallier Belletrud. “We were inspired by classic lipstick scents of the past, but I wanted to break that tradition to offer something truly modern and immersive, rooted in Louis Vuitton’s codes of excellence,” ungkap Jacques.
Melengkapi rangkaian lipstik, kreasi lip balm LV Baume hadir dalam 10 warna yang lebih sheer. Dengan tekstur ringan, lip balm LV juga diinjeksi dengan shea butter, hyaluronic acid, serta wewangian khusus karya Jacques. Produk ini menghidrasi bibir selama 48 jam sekaligus menutrisinya. Untuk area mata, LV Ombres menyuguhkan 8 warna yang terbagi dalam 2 set palet. Eye shadow ini memiliki beberapa jenis finish, mulai dari ultra-matte hingga gleaming glitter. LV Ombres memiliki tekstur yang lembut berkat penggunaan plant-derived squalane yang mampu menyerap ke kulit untuk menghasilkan sensasi second-skin comfort. Hal ini semakin diperlembut berkat penggunaan ekstrak minyak bunga camelina.
Merayakan rilisnya produk makeup perdana Louis Vuitton, sang Maison mengkreasikan sebuah Vanity Trunk sebagai penghargaan atas sejarahnya. Trunk tersebut merujuk pada custom vanity cases yang dibuat LV pada era 1920-an dengan fitur kompartemen untuk kuas makeup, bedak, dan beauty essentials lain. Hadir pula small leather goods sebagai pelengkap produk-produk La Beauté Louis Vuitton yang menampilkan kekhasan Monogram canvas. Lipstik Pouch dan Nice Beauty Case edisi terbatas turut dirilis dalam tiga hero colours untuk menandai dimulainya era kecantikan Louis Vuitton.