What does it mean to speak up and speak about?
Beberapa waktu lalu, Museum MACAN membuka “Voice Against Reason”, sebuah pameran dengan partisipasi 24 perupa dari lintas Asia-Pasifik.
Terlibat dalam proyek artistik ini adalah Bagus Pandega; Nadiah Bamadhaj; Chang En Man; Heman Chong; Griya Seni Hj. Kustiyah Edhi Sunarso, Hyphen—, Tom Nicholson with Ary “Jimged” Sendy, Aufa R. Triangga, Nasikin Ahmad; Emiria Soenassa; Galih Johar; Shilpa Gupta; I Ketut Muja; I Wayan Jana; Ika Arista; Jumaadi; Khadim Ali; Meiro Koizumi; Natasha Tontey; Tuan Andrew Nguyen; Mumtaz Khan Chopan, Ali Froghi, and Hassan Ati; Rega Ayundya Putri; S. Sudjojono; Khaled Sabsabi; Kamruzzaman Shadhin; Sikarnt Skoolisariyaporn; Amin Taasha; dan The Shadow Factory.
Mulai dari karya-karya terbaru, proyek terkini dari perupa ternama, dan karya-karya kontemporer, “Voice Against Reason” mengangkat dialog sejarah seni dari periode modern Indonesia. Berangkat dari pertanyaan “What does it mean to speak up or speak out?”, eksibisi ini membawakan jawaban para artists dalam berbagai medium seni. Topik sejarah, politik, geografi, hingga narasi-narasi pribadi menjadi buah pembicaraan karya-karya para perupa.
Di “Voice Against Reason”, para pengunjung tidak hanya dapat mengamati instalasi dan lukisan yang diperlihatkan, tetapi mereka juga dapat berpartisipasi dalam rangkaian diskusi, program kuliah terbuka, dan program-program publik. Salah satu exhibitor, Jumaadi and The Shadow Factory, juga menampilkan pertunjukkan menarik “Sirkus di Tanah Pengasingan: Oyong-oyong Ayang-ayang”, yakni sebuah pentas wayang inovatif yang diiringi dengan musik eksperimental.
Pameran “Voice Against Reason” dapat Anda kunjungi di Museum MACAN hingga 14 April 2024.