#StayHome , stay stylishly entertained.
Tagar #dirumahaja dan #StayHome merupakan salah bentuk respon untuk menanggulangi pandemi COVID-19. Namun salah satu tantangan dalam menjalani isolasi diri di rumah dalam batasan waktu yang tak menentu ini adalah rasa bosan. Be chill. The Editors Club merangkum 15 judul film dokumenter fashion dari beragam tahun yang dapat menemani Anda di tengah melakukan self-quarantine
Upgrade your fashion knowledge and perspective through this movies:
Dior and I (2014)

Pasca skandal anti-semitic mantan Creative Director Dior John Galliano, rumah mode itu melakukan transisi estetika yang dramatis dengan menjadikan desainer bervisi modernist Raf Simons sebagai pengganti. Kontradiksi antara pengalaman Simons yang memulai karier sebagai desainer menswear dan tekanan deadline yang hanya 8 minggu sebelum koleksi perdananya untuk Christian Dior Haute Couture Fall/Winter 2012 menciptakan alur cerita yang penuh harapan dan cinta.
Valentino: The Last Emperor (2008)

Definisi kecantikan oleh Valentino Garavani dikenal tiada batas. Tak heran bila ia bisa mendandani first lady Jackie ‘O. Mengambil setting selama dua tahun sebelum persiapan pensiunnya sang legendaris di show koleksi Spring/Summer 2006, film ini menampilkan privilege di balik proses kreatif dimulai dari sketsa hingga tampil di runway. Termasuk di dalamnya decision making bersama rekan bisnis sekaligus cintanya Giancarlo Giammetti hingga retrospeksi sang legend selama 45 tahun berkarya.
The September Issue (2009)

Di bawah kepemimpinan Anna Wintour yang decisive dan penuh kontroversi, majalah Vogue berhasil menjadi fashion bible internasional. Hal tersebut tak lepas dari sinergi visi editor – editor berbakat di sekelilingnya yang seringkali juga penuh konflik dan debat. Namun, disitulah muncul kreatifitas yang tulus. Setting film ini mengambil masa beberapa bulan sebelum Vogue edisi September 2007 masuk percetakan, dimana September is the January of fashion.
Diana Vreeland: The Eye Has To Travel (2011)

Kisah hidup sosialita dan kolumnis legendaris Diane Vreeland selalu mengenai taste. Diana yang selama 30 tahun memimpin redaksi Harper’s Bazaar, 8 tahun di Vogue, juga sebagai kurator di Metropolitan Museum, membiarkan intuisi membentuk karakternya. Tak heran bila pada eranya ia mampu menciptakan visual fashion non-konformis yang kontroversial, namun diapresiasin secara global oleh figur – figur fashion kenamaan termasuk diantaranya Diane Von Furstenberg, Bob Cocacello, Anna Sui, Calvin Klein hingga Angelica Huston. Thanks to her several steps ahead thinking.
Bill Cunningham New York (2010)

Mendiang fotografer Bill Cunningham adalah sosok yang original. Baginya “The Best Fashion Show is Definitely on the Street“. Terakhir bekerja untuk surat kabar The New York Times di kolum “On the Street” dan “Evening Hours”, Cunningham menangkap banyak momen gambar dimana para pecinta fashion bergaya. Film ini menceritakan bagaimana kontrasnya proses kreatif kerjanya yang begitu dekat dengan glamorama dunia fashion namun tetap tampil konservatif dengan sepeda ikonisnya hingga tempat tinggalnya yang sederhana.
Dries (2017)

Film ini akan membuat Anda seakan mengenakan kacamata desainer Dries Van Noten dan bagaimana dirinya menerjemahkan fashion ke ranah kehidupan nyata. Ia dan label-nya mampu berjalan secara independen selama lebih dari 25 tahun sebelum menjual saham mayoritasnya di tahun 2018 silam. Satu aspek yang diperlihatkan pada film ini adalah kekayaan filosofinya yang membuatnya lihai memadu motif, warna dan material untuk menciptakan koleksi timeless dan relevan, walau di bawah tekanan untuk menghasilkan 4 koleksi per tahun.
Mademoiselle C (2013)

Visi provokatif dan rock & roll membuat seorang Carine Roitfeld, mantan editor in chief Vogue Paris dan pendiri majalah CR Fashion Book ini, tampil outstanding. Sebagai seorang image maker, karakter rebellious begitu lekat dengan perempuan kelahiran Prancis tersebut. Karyanya seringkali kontroversial, namun baginya hal tersebut adalah wujud freedom. Dokumenter ini menampilkan potret sang fashion editor dimana ia dan selera inaccessible-nya menciptakan karya yang unexpected namun segar.
Manolo: The Boy who Made Shoes for Lizards (2017)

Ia menjuluki dirinya sebagai “cobbler“. Tak memiliki pelatihan khusus akan shoe-making, Manolo Blahnik belajar mendesain sepatu secara otodidak. Ia berhasil menuai apresiasi meski visi desainnya konservatif dengan model sepatu lancip dan seringkali seduktif dalam model stiletto heel. Supermodel Naomi Campbell menjulukinya “King of Shoes“. Bagaimana sang maestro sepatu melangkah membawa karyanya secara personal tersaji secara playful di dokumenter ini.
Lagerfeld Confidential (2007)

Kekuatan mimpi adalah hal yang menggerakkan mendiang Karl Lagerfeld untuk mencapai hal terbaiknya dalam hidup. Ia dipercaya dan setia mengepalai arahan artistik Chanel selama lebih dari 20 tahun. Melalui dokumenter ini, Karl menceritakan secara singkat privasi hidup sang desainer dimulai dari masa remajanya, potret ibu, dan tentu filosofi hidupnya. Walau tampil sederhana, film ini cukup tampil insightful untuk mereka yang ingin mengejar karier fashion dengan nasehat unapologetic sang maestro.
L’Amour Fou (2010)

Selama berkarya, mendiang Yves Saint Laurent dimotivasi oleh cinta. Bahkan sepeninggalnya di tahun 2008, hal tersebut terus dilanjutkan oleh partner hidupnya, Pierre Berge yang terlihat melalui film dokumenter ini. Secara kuratif, ia membagikan memori romansanya bersama sang mendiang desainer. Termasuk pula diantaranya detail akan retrospeksi mengenai sang desainer legendaris dan obsesinya terhadap pakaian yang membuat presiden Prancis Nicolas Sarkozy menyebutnya jenius, hingga keputusan berat untuk menjual koleksi seni personal Saint Laurent. When love and fashion melts!
Vivienne Westwood: Punk, Icon, Activist (2018)

Desainer Vivienne Westwood tak bisa menyimpan kemarahannya terhadap situsasi sosial. Ia menelurkannya lewat kreasi rebellious dan menyatu dengan subkultur punk di awal kemunculannya. Namun di sisi lain, ia adalah sosok loyal dengan profesinya. Lewat film dokumenter ini, beragam inovasi ia telurkan untuk bisa menyampaikan pesan lewat koleksinya. Westwood pun melangkah lebih jauh dengan bergabung bersama Greenpeace dan aktif untuk menyuarakan kampanye peduli lingkungan yang menjadikannya ikon fashion yang unik sekaligus berjiwa sosial.
The True Cost (2015)

Sebagai sebuah bisnis, industri fashion juga memiliki dampak negatif. Oleh sutradara Andrew Morgan, kisah nyata tersebut dirangkum lewat potret investigasi bagaimana supply-chain dari fashion brands dianggap mengeksploitasi buruh – buruh pekerja pabrik garmen di negara miskin seperti Kamboja, Bangladesh, hingga India. Termasuk diantaranya bagaimana kreasi – kreasi fashion tersebut berakhir sebagai limbah pencemar lingkungan di negara Haiti dan menciptakan citra polutif di samping sisi glamornya.
Franca: Chaos and Creation (2016)

Dokumenter ini seakan menjadi buah cinta antara putra dan mendiang ibunya. Francesco Carrozzini, putra mendiang mantan editor in chief Vogue Italia Franca Sozzani menyutradarai potret sang ibu sebagai perempuan berkarier yang meninggalkan kesan personal baginya dan ditampilkan lewat “interview” scene di kala menumpangi sebuah mobil menuju sebuah acara. Alur film ini menceritakan visi gila Franca di kala mendireksikan citra majalah kenamaan tersebut, sudut pandang sang putra mengenai ibunya dan potret intim dari hidup sang editor legendaris yang private.
Notebook on Cities and Clothes (1989)

Kata mencipta rasa. Filosofi tersebut begitu relevan akan film essay ini. Filmmaker asal Jerman Wim Wenders bersama desainer Yohji Yamamoto menjadikan film ini sebagai medium untuk mengkomunikasikan leburan visi keduanya. Eksplorasi jurnalistik personal dari Wim akan proses kreatif Yohji Yamamoto di film ini dimunculkan secara klasik mengambil setting kunjungan sang desainer di Tokyo hingga Paris. Sebuah tontonan ekspresionis untuk disimak.
McQueen (2018)

Di dunia Alexander McQueen, pengalaman kelam membuat kreatifitasnya menyala. Semasa hidup, karyanya selalu teatrikal dan out-of-the-box. Rangkaian perjalan sang mendiang desainer dimulai dari menjadi penjahit, mendirikan eponymous label-nya, hingga kematiannya yang tragis terangkum lewat scene-scene yang kompleks. Di balik nuansa teatrikal tadi terdapat percampuran romantis dan darkness yang menjadi kekuatan karyanya. Truly a man of savage beauty.